
Ribuan sorak umpatan Fabian temui ketika menjajakkan kaki disalah satu ruangan rumah sakit. Umpatan Vano dari ketika dirinya menerima telfon hingga sampa di rumah sakit, belum lagi Mina yang cerewet kelewat batas mengimbuhi. Sumpah demi apapun hatinya sudah resah, mendengar Selsa terluka, kepalanya tak kalah pening ketika mendengar omelan kedua pasangan yang menurtnya idiot itu. Oh iya, dia tidak sendirian, Fabian bersama Nadia. Gila tidak?
"Bisa diam tidak kalian berdua? Kepalaku pusing kalau terus mendengar omelan kalian yang tidak ada ujungnya."
Mina berdecak kesal, "Masih punya otak buat fikir bagaimana paniknya kita saat bawa Selsa kesini? Seenaknya kamu datang dan menyuruh kita pergi, ingat Fabian, kalau tidak ada aku dan Vano Sela tidak akan selamat. Mungkin kamu tidak akan pernah lagi melihat seperti apa Selsa."
"Iya Mina aku tahu, tapi berhenti mengumpat dan mengomeliku seperti ini. Aku juga pusing memikirkan keadaan Selsa." Fabian geram, tangannya terkibas kesal.
"Omong kosong! Yang seharusnya pergi dari sini itu kamu Fab! Pergi saja yang jauh dengan Nadia, jangan lagi ganggu hidup Selsa. Dia seperti ini karenamu dan Nadia." Pekik Mina yang membuat Nadia mengeratkan genggamannya pada tangan Fabian.
"Jaga omonganmu Mina. Kamu boleh menyalahkanku, tapi tidak dengan Nadia."
Mina memandang Nadia remeh, "Bela saja terus si ular versi kedua setelah Yumi. Selamat menikmati bisa yang tidak pernah ada penawarnya! Aku yakin setelah ini Selsa akan meminta hubungannya denganmu berakhir." Katanya yang sama sekali tak membuat Fabian kapok.
"Van tolong bawa istrimu pergi jauh-jauh, jangan sampai aku emosi dan berbicara yang tidak-tidak dengan dia." Pinta Fabian menatap Vano sekilas.
"Kamu kira aku takut? Aku tidak pernah takut denganmu Fabian! Manusia sepertimu memang pantas ditinggalkan, bisanya mengancam dengan kekuasaan, dan sudah saatnya semua berakhir. Cukup aku menyerahkan Selsa bersamamu beberapa bulan lalu." Emosi Mina semakin meledak-ledak.
"Kita lihat saja Mina, siapa yang akan Selsa pertahankan. Aku juga tahu hubunganmu dan Selsa sedang tidak bik-baik saja entah karena apa."
"Sialan." Desis Mina.
Sampai pintu ruang rawat Selsa terbuka, menampilkan Dokter Perempuan yang begitu cantik, membuat perdebatan terhenti.
"Keluarga Selsa?" Tanya Dokter.
"Saya sahabatnya Dok."
"Saya kekasihnya Dok."
Sahut Mina dan Fabian bersamaan. Keduanya sama-sama memandang jengkel.
"Begini-begini, keadaan Selsa baik-baik saja," hembusan nafas lega terdengar begitu kalimat Dokter mengudara, "luka sayat yang ada pada lehernya tidak begitu lebar dan parah, saya sudah menanganinya dan Selsa sedang istirahat didalam."
__ADS_1
"Dok tidak harus operasi kan? Karena tadi sempat pingsan, Atau harus-"
"Tidak. Selsa hanya butuh istirahat karena mungkin ketakutan dan syok jadi seperti itu." Sela Dokter cepat.
"Syukurlah, terimakasih Dok."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi. Jangan lupa administrasinya diurus secepatnya ya Mbak."
"Baik Dok."
Sepeninggal Dokter; Fabian mengalihkan perhatiannya pada Nadia yang sejak tadi diam.
"Nad aku akan menemui Selsa, ikut denganku saja ya, dari pada disini nanti kamu dipengaruhi dua orang idiot ini." Tuturnya lembut.
"Iya Fab."
Mina tak tinggal diam, dengan cepat memasuki ruang inap Selsa namun sebelum itu sempat ijin kepada sang suami. "Van aku kedalam dulu, aku tidak ingin Selsa semakin sedih karena Fabian datang bersama Nadia."
Pusing dikepalanya sudah mendingan, tak seperti tadi, Selsa juga sudah bisa menghirup udara bebas tak seperti di gudang tua itu. Matanya meneilisk mencari Mina dan Vano yang tadi membawanya kesini, namun tidak ada, sampai pintu didorong seseorang Selsa baru sadar. Matanya membelalak, tak salah lihat? Fabian dan Nadia disana.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Fabian berdiri disisi ranjang rumah sakit.
"Penting untuk ditanyakan?" Jawab Selsa acuh.
"Terus saja berbuat ulah! Sudah kubilang patuhi peraturanku Sa. Kalau kamu mau pergi setidaknya bilang dulu padaku, agar aku bisa memerintahkan salah satu sopirku untuk menemanimu." Desis Fabian frustasi.
Selsa menatap Fabian dalam, "Kenapa harus sopirmu? Kenapa tidak kamu saja?" Tanyanya pelan.
"Harus aku jawab? Bukannya kamu tahu sendiri?"
"Ya aku selalu tahu," Selsa tercekat, "Selsa aku tidak bisa aku harus menemui Nadia karena dia lebih membutuhkanku." Ujarnya menirukan Fabian saat berbicara. Matanya kembali berkaca-kaca, namun sekuat mungkin bertahan agar tidak menangis.
"Sa kamu jangan salah faham, aku dan Fabian tidak ada hubungan apa-apa, kita hanya sahabat-"
__ADS_1
"BASI! BERHENTI JADIKAN KATA SAHABAT SEBAGAI TAMENG KAMU NADIA. AKU TAHU KAMU ITU PEREMPUAN LICIK YANG INGIN MEREBUAT FABIAN DARIKU." Teriak Selsa hingga merasakan nyeri disayatannya tadi. Selsa meringis pelan, dan Fabian tidak menyadarinya sama seklai. Benar-benar ********.
"SELSA JAGA BICARA KAMU! Bukannya sudah berkali-kali jangan membentak Nadia." Balas Fabian membentak. Matanya melotot tak terima.
"Oh kamu bela dia? Kamu lebih memilih Nadia daripada aku?" Tanyanya sarkas.
Fabian mengangkat tangannya dan Nadia, menunjukkan pada Selsa, "Ya aku memilih Nadia. Aku tidak ingin mempunyai perempuan yang kasar dan tidak bisa mengontrol emosinya seperti kamu." Lalu menurunkan tangannya dan menatap Selsa tajam.
Selsa mengamati Nadia penuh kebencian. Janji untuk tidak menangis ingkar begitu saja, "Puas Nadia? Puas kamu melihat aku dan Fabian bertengkar? Inikan yang kamu inginkan? Setelah tadi kamu hampir menculik aku sekarang kamu mau merebut Fabian juga?" Pekiknya diiringi air mata.
"Sa Nadia sejak tadi bersamaku, maksud kamu apa sih berbicara seperti itu? Jangan menuduh sembarangan ya." Jelas Fabian yang membuat Selsa menggeleng tak percaya.
Fabian sama sekali tak percaya dengannya?
Selsa menatap Fabian penuh luka, "Dia tadi yang hampir menculik aku Fabian, dia yang hampir saja mencelakai aku dan ini kamu lihat, ini gara-gara dia." Bisiknya lirih.
"Jangan pernah fitnah Nadia yang tidak-tidak, sudah sehari jelas Nadia bersamaku. Jadi Nadia tidak mungkin melakukan itu."
"Tolong percaya padaku Fabian."
"Tidak, aku tidak akan percaya padamu lagi."
Karena emosi yang memuncak Selsa hanya tertawa sendu, "Oh begitu? Fine Fabian! Aku melepaskan kamu sekarang. Kita akhiri semua cerita yang kamu buat beberapa bulan ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemun, anggap saja kita tidak pernah kenal. Dan aku juga selalu berharap semoga hidup kamu tidak dipenuhi penyesalan nantinya." Katanya tercekat.
"Terus kamu fikir aku perduli? Aku juga sudah lelah dengan sifat kamu akhir-akhir ini Sa, aku akan menyuruh orangku untuk memberesi pakaianmu dan mengembalikannya kerumahmu sendiri. Jangan pernah lagi mengganggu Nadia ataupun aku."
Lihatlah Fabian dengan ketidaktahu diriannya! Jadi selama ini Selsa hanya buang-buang waktu bersama Fabian? Jadi untuk apa Selsa kembali membuka hati untuk Fabian kalau akhirnya seperti ini? Ah ini mainstrem sekali, akhir yang tragis.
Mina yang sempat terhenti dibalik gorden rumah sakit akhrinya menampakkan diri. Mengamati Fabian dan Nadia tanpa minat.
"Sa sudah biarkan ******** satu ini pergi. Hidupmu masih berjalan, aku akan mencari keberadaan Sakti dan menyuruhnya untuk kembali bersamamu dari pada dengan lelaki tidak tahu diri ini." Mina berdiri disamping ranjang rumah sakit Selsa bersebrangan dengan Fabian. Mengusap pelan kepala Selsa dengan sayang, Mina bisa lihat kekecewaan terpancar disana. Selsa selalu seterluka ini jika berurusan dengan Fabian.
Vano berganti menatap Fabian tajam, "Sekarang kalian bisa pergi dari sini. Dan ingat juga, kalian jangan pernah lagi menemui atau mengganggu Selsa lagi. Dan kamu Fabian, aku tidak sudi mempunyai sahabat ******** sepertimu." Usirnya penuh kebencian. Vano sudah menyayangi Selsa seperti adiknya sendiri, dan kini sahabatnya itu menyia-nyiakannya seperti ini? Sungguh ********.
__ADS_1
Fabian mengangguk paham, "Nad ayo pergi, jangan dengarkan mereka. Anggap saja angin lalu." Pungkasnya benar-benar pergi.