My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat Puluh Empat


__ADS_3

Netranya masih tidak berhenti menatap sendu perempuan yang menjadi tersangka itu, menyayangkan sikap berubahnya beberapa waktu lalu, seolah perempuan itu memang menjalankan perannya dengan sangat amat baik. Ditutupi rapih dan rapat-rapat segala kebusukannnya demi membelaskan dendam yang ia pendam selama bertahun-tahun.


Sedangkan si korban yang tak lain Selsaniva Kania terlihat masih syok dan sedikit tidak percaya, namun inilah kenyataannya. Di kantor polisi sudah ada Mina, Vano, dirinya, dan tentu juga ada si Fabian dan Nadia. Dua orang hama itu ikut menyaksikan perseteruan antara Selsa dan Yumi yang semakin memanas.


“Kenapa kamu tega Yumi?” lirihnya pelan.


Yumi yang tak bisa bergerak leluasa hanya mendengus benci, “Tega kamu bilang? Kamu yang lebih tega Selsa, perhatian Fabian sejak sekolah sudah kamu rebut. Belum lagi Nadia, aku yang selalu diacuhkan dan tidak dianggap.” Desisnya marah.


“M-maksud kamu? Memangnya kita satu sekolah dulu?”


“Kenapa tidak, kamu ingat Marsya? Marsya Ayyumi adalah aku, orang yang selalu jadi bahan bercandaan kalian.” Mata perempuan itu berkaca-kaca ketika kalimat itu lolos, mengingat dulu memang dirinya selalu dibuat bahan bercandaan yang menyakitkan, ulu hatinya selalu tersentil.


“J-jjadi kamu Marsya teman sekolahku dulu.”


“Ya aku Marsya. Dan semenjak kejadian dimana kalian mempermalukanku, aku bertekad untuk merubah penampilanku dan menghancurkan kalian semua. Termasuk kamu Selsa.”


Fabian menggebrak meja yang ada didepannya menatap Yumi penuh kebencian dan muak, “Sialan kamu Yumi, jadi selama ini aku tidur dengan bocah sinting sepertimu?”


“Nyatanya bocah sinting ini pernah kau tiduri beberapa kali, Fabian.” Jawab Yumi delngan tawa sakasnya.


Selsa jadi ingat dimana sebuah foto dan video tentang percakapan itu sampai ke ponselnya. Merekam semua pembicaraan dan aktivitas di setiap detiknya yang membuat Selsa mati kelabakan karena sesak, apa itu juga yang mengirim Yumi? Tapi kenapa bisa seperti Nadia? Sama persis dan tak ada bedanya, “Apa semua foto saat kelulusan dan video itu kamu yang mengirimnya, Yumi?”


Mina, Vano maupun Nadia cukup pusing dengan scenario yang Yumi buat sedemikian rupa. Menyamar dan merubah diri hingga tak ada satupun dari mereka yang menyadarinya, Yumi terlalu hebat. Mereka bertiga tidak tahu harus bereaksi seperti apa, ini semua terlalu cepat bahkan pikiran mereka sulit sekali mengerti apa yang terjadi antara Yumi, Selsa, Nadia dan Fabian.


Tentang foto dan viedeo itu, kalau memang Yumi yang melakukannya, Selsa tidak tahu lagi harus mengambil sikap seperti apa. Rasanya sudah terlanjur kecewa, begitu dalam sampai rasanya tak bisa lagi diatasi.


“Benar sekali Selsa, bagaimana rasanya hidup dalam kesalah pahaman yang berkepanjangan ini? aku sukses menghancurkan kalian semua, kamu, Nadia dan juga Fabian. Aku sukses membuat Fabian membencimu, aku sukses membuat kamu membenci Nadia dan aku juga sukses membuat Fabian meninggalkan kamu untuk kesekian kalinya.” Katanya lalu tertawa keras layaknya orang yang jiwanya tengah sakit.


Selsa yang semula duduk didekat Mina dan Fabian otomatis berdiri, “Sialan,” tubuh Selsa sudah melangkah untuk siap menerjang Yumi tapi Fabian menahannya, “yang kamu lakukan sudah menghancurkan apapun yang seharusnya tidak hancur. Pelacur sepertimu memang harus dibiarkan membusuk dipenjara Yumi.” Teriaknya marah bersamaan dengan air mata yang mengalir tanpa isakan.


“Tenangkan dirimu, ini kantor polisi.” Seru Fabian setengah berbisik.


Selsa mendelik tajam, “Tenang kamu bilang? Aku tidak akan bisa tenang melihat pelacur satu ini, lepaskan tanganmu sekarang juga dan biarkan aku mencakar wajahnya yang seperti tong sampah itu.” Jawabnya berapi-api.


“Kamu kira aku perduli? Yang terpenting aku sudah puas membalaskan dendamku padamu, pada kalian, walau aku belum bisa membunuhmu sampai saat ini.”


“Sebelum kamu membunuh Selsa, aku yang akan membunuhmu.” Cetus Fabian tajam.


“Oh Fabian, jangan bahagia dulu karena aku mendekam dibalik penjara. Setelah bebas aku akan kembali menghancurkan kalian dengan rasa sakit yang begitu mendalam. Jadi bersiaplah selama aku tidak ada disekitar kalian.”


“Aku tidak perduli,” katanya acuh, “tolong bawa perempuan gila ini ke sel sekarang juga, jangan biarkan dia lolos atau saya akan menuntut kalian semua.”


“Baik Pak.”

__ADS_1


Selsa melepaskan tangan Fabian yang sedari tadi bertengger di kedua lengannya, cukup keras, mengambil tas jinjing miliknya dan pergi meninggalkan kantor polisi dengan perasaan kacau. Disusul Mina dan Vano yang berlari mengejar Selsa, begitupun Fabian dan Nadia, jarak mereka tidak jauh.


“Sa tunggu dulu,”


“Mina aku mohon kali ini jangan menggangguku dulu! Kepalaku cukup pusing untuk menerima semua fakta yang Yumi beberkan tadi, aku ingin sendiri sekarang.”


“Aku tidak akan membiarkanmu sendiri Selsa, pulang bersamaku dan Vano! Aku siap dijadikan tempat cerita olehmu.”


“Tidak Mina. Aku tet-”


Kalimat Selsa terhenti kala melihat Nadia berdiri tak jauh disana, bersama Fabian, “Sudah mengetahui faktanya Selsa? Masih mau menuduhku ini dan itu?” tanyanya dengan mimik kelewat kurang ajar. Omong-omong Selsa jadi menyesal menolong Nadia kemarin, andai saja waktu itu dia langsung pergi dan meninggalkan Nadia mati kedinginan disana, hidup Selsa akan kelewat tenang sampai saat ini.


“Persetan dengan fakta yang Yumi katakan, dan berhenti jadi pecundang Nadia! Katakan sekarang, didepan banyak orang, kalau kamu mencintai Fabian!”


Wajah Nadia berubah pucat pasi, menatap ragu Fabian, Mina dan juga Vano. Batinnya mengutuk Selsa yang berbicara sembarangan, walau memang begitulah kenyataannya, sampai kapanpun Nadia tidak akan pernah mau dan bisa mengungkapkan semuanya pada Fabian.


Sedangkan si pecundang satunya lagi, Fabian, masih belum bersuara sedari tadi. Mengamati Selsa dan Nadia yang semakin saling menjatuhkan.


“Tidak berani kan? Memang benar kamu adalah pecundang ulung yang selalu bersembunyi dibalik kata sahabat, menyedihkan.” Desisnya dan berbalik meninggalkan tempat.


Namun baru dua langkah berjalan, Selsa mendengar teriakan memekik dari arah belakangnya. Menghentikan langkah dan menoleh, Selsa mendapati pemandangan ketika tubuh ramping milik Nadia meluruh begitu saja, Mina dan Fabian yang berada di dekat Nadia otomatis mencegah agar tak sampai meluruh sampai aspal jalanan yang panas. Nadia pingsan, lagi. Sebenarnya ada apa dengan perempuan itu, sih? kenapa bisa semanja ini?


...----...


Nadia hamil.


Nadia hamil.


Dan


Na-di-a ha-mil.


Dengan pikiran yang kemana-mana dan benak yang berteriak menanyakan siapa yang menghamili Nadia, siapa yang melakukan itu pada Nadia dan siapa yang tega membuat Nadia seperti ini. Sebenci-bencinya Selsa kepada Nadia, dirinya semakin iba mendengar kenyataan ini. tapi satu yang ditakutkan, Fabian, tidak mungkin lelaki itu menghamili Nadia. Tidak mungkin. Tidak mungkin Fabian kan? Tanyanya memastikan dalam hati.


“Nadia siapa yang melakukan semua ini padamu, tolong katakan!”


Pertama membuka mata setelah beberapa menit, Nadia disodori pertanyaan Fabian yang tergesa. Perempuan itu masih belum paham, tangannya memegangi kepalanya yang masih pusing, netranya mempertajam pandangan melihat Mina, Selsa dan Vano yang juga berdiri disana.


“Fabian ada apa? aku kenapa?”


Fabian tak bisa menunjukkan wajah santainya, ditatapnya tajam Nadia yang masih kebingungan, “Siapa yang sudah menidurimu? Katakan sekarang, aku akan memberinya pelajaran!”


“M-maksudmu?”

__ADS_1


“Kamu hamil, siapa yang sudah melakukan semua ini padamu?”


Satu fakta menamparnya keras-keras. Nadia cengo tak percaya, tahu-tahu matanya sudah berair. Ketakutannya beberapa waktu terjadi, sialan. Dengan tangan yang sudah terpasang selang infus, Nadia mengusap wajahnya kasar.


“T-tolong hubungi Renald sekarang!” perintahnya tanpa mau menatap Fabian.


Nadia malu, dirinya semakin terlihat hina. Belum lagi penyakit mental diagnose Dokter sebelumnya, sekarang dirinya jadi tahu, memang tidak pantas hidup.


“Jadi sialan satu itu yang melakukan semuanya? Sialan satu itu yang sudah menghancurkan hidupmu? Menghancurkan semua impian yang ingin kamu raih?” teriak Fabian marah, nafas lelaki itu terengah-engah untuk beberapa saat.


Mina, Vano dan Selsa hanya bisa menyaksikan kemarahan Fabian, berapi-api dan terbakar emosi. Bahkan untuk beberapa saat Selsa mengusap wajahnya gusar ketika mendengar teriakan Fabian yang nyaring, nyatanya anak wardhana sebegitu perduli dengan Nadia sampai marah karena tahu fakta kalau Nadia hamil.


“Sudah kubilang hubungi dia sekarang Bian!” bentak Nadia dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. “Apa susahnya menghubungi Renald? Masalah janinku itu bukan urusanmu, ini anakku dan Renald.” Desisnya marah.


Fabian menggeram marah, “Selama ini aku perduli padamu, aku yang merawatmu, menjagamu agar tidak terjerumus lagi kedalam duaniamu yang dulu. Tapi kenapa kamu malah mengulanginya bersama kekasihmu dan menyebabkan ini semua terjadi.” Pekiknya tidak terima.


Nadia menatap Fabian intens, “Aku tidak perduli aku hamil Fab, asal dengan ini Renald menikahiku. Dia sudah janji untuk menikahiku,” katanya kokoh.


“Menikah tidak segampang apa yang kamu ucapkan. Belum tentu bajingan itu mau bertanggung jawab dan dia menelantarkan kamu begitu saja, sebelum bertindak jauh coba pikirkan akibatnya Nadia! Sifat bodohmu dari dulu tidak berubah.”


Marah.


Fabian sangat amat marah. Lelaki itu tidak terima, merasa gagal menjadi seorang kakak dan pelindung untuk Nadia. Padahal dalam batinnya selalu berteriak akan menjaga perempuan itu dengan sangat amat hati-hati.


“Bicara memang segampang itu Fabian. Kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi aku, menjadi Nadia yang hidupnya selalu ditekan banyak orang. Disuruh menjadi ini dan itu, selalu dituntut sempurna dan apapun lainnya. Aku juga ingin kesenangan, kebebasan-”


“Tapi tidak seperti ini caranya dengan usia kita, usia kamu, yang masih muda. Kamu masih bisa melakukan hal positif lainnya, kamu juga-”


“Jangan merasa suci Fabian, dengan menasehati aku yang seperti ini seperti itu, nyatanya kamu selalu menyalurkan kepuasan kamu dengan ****** di luar sana. Jadi untuk apa kamu menasehati aku?”


Fabian tak habis fikir dengan Nadia yang selalu merasa benar. Ditinggalkannya ruangan Nadia dengan hati yang masih kesal, dongkol, dan rasanya ingin menghajar orang saat ini juga. Kalau Renald berada di Indonesia, saat ini juga lelaki itu akan menghampiri Renald dan memberi lelaki itu banyak tato diwajahnya.


Selsa yang masih berada disana, sedetik kemudian, bersama Mina dan Vano, meninggalkan ruangan. Namun sebelum itu berpamitan dengan Vano dan Mina, meminta tolong untuk tetap berada disini karena takut Nadia akan melakukan hal yang tidak-tidak.


Fabian berhenti di salah satu lorong rumah sakit, memijit pangkal hidupngnya pelan, nafasnya beberapa kali ia buang dengan tenang. Tangannya erogoh sakunya dan mendapatkan ponsel, menekan beberapa digit angka disana hingga telepon tersambung.


“Tolong temui Renald dan suruh dia pulang ke Indonesia! Kalau dia tidak mau bakar saja semua aset perusahaannya, kalau bisa kunci lelaki itu didalam kantor dan ikut sertakan dibakar.”


Begitu sambungan telponnya terputus, Fabian mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Perasaannya kacau lebih dari apapun, Nadialah yang menguasainya sejak tadi. Peningnya pun semakin menjadi ketika membayangkan hal buruk yang akan terjadi nanti, tentang Nadia yang tidak akan sembuh dari penyakit mentalnya, tentang Nadia yang tidak jadi menikah dengan Renald atau tentang Nadia yang nanti akan dibiarkan Renald begitu saja.


Asik dengan pikirannya yang kemana-mana, sesekali lelaki itu mengusak kasar rambutnya yang mulai gondrong. Fabian jadi lupa kapan terakhir memangkas rambutnya hingga cepak, setahunya yang sering mengingatkan potong rambut, dulu adalah Selsa. Ah omong-omong Selsa, tadi dia sempat melewati perempuan itu begitu saja di ruangan Nadia.


Untuk beberapa detik Fabian termangu merasakan dingin di area pipi kirinya. Kepalanya mendongak melihat siapa yang kurang ajar menempelkan es disana, matanya membulat tak percaya, Selsa. Tak tanggung perempuan itu duduk disebelahnya, bukan es melainkan sebotol air mineral yang dinginnya meluluhkan atmosfer panas di hati Fabian, perempuan itu menyodorkan pada Fabian dengan senyum tipis disana. Dan Fabian menahan nafasnya beberapa detik.

__ADS_1


“Aku tahu bagaimana rasanya kecewa dan sedih secara bersamaan, seperti saat kamu meninggalkan aku beberapa waktu lalu, jadi aku tidak ingin kamu mengalaminya. Kalau kamu memang menyayangi Nadia, coba letakkan kepercayaan disana.”


__ADS_2