
...Teman-teman mohon dukungannya untuk novelku ini ya. jangan lupa Vote, like, komen, dan share ke temen temen kalian. sejauh ini yang sudah like dan vote maupun komen, terima kasih🥰...
---
Untuk sekarang, menatap hidup menjadi lebih baik adalah perioritasnya, mengabaikan beberapa hal yang tidak penting juga ikut dilakukan. Fokusnya hanya satu, model, kembali dalam dunia modeling dan aktif disana. Tak perduli dengan hati yang semula mati, kini tekadnya untuk melupakan semua hal dari masalalu dan menjadi diri sendiri semakin bulat.
Ini bulan ke enam, setelah dimana memilih untuk mengakhiri segalanya, Selsa kembali lagi aktif menjadi seorang model. Beberapa Job sudah diterima dan sebagian sudah dilakukan dengan hati berbunga, seolah semuanya memang sudah mencapai garis final dan tidak ada yang perlu ditangisi. Perempuan itu sama sekali tak menunjukkan gurat kesedihan apalagi penuh penyesalan, yang ada hanya binar bahagia diwajahnya juga tak luput gerlingan tawa setiap sudut bibirnya.
Ini pelepasan yang sungguh bagus, rapih dan tersusun begitu sempurna. Ingatan Fabian sepertinya terhapus tanpa ada sisa, memang benar, lelaki kurang ajar itu harus tahu apa yang namanya penyesalan.
Sedangkan si anak Wardhana juga merasakan hal yang lebih hebat. Pontang-panting mengurusi banyak hal, terutama Nadia yang semakin manja, belum lagi urusan perasaannya dengan Selsa. Tak habis akal, setiap hari dirinya menempatkan sebucket bunga mawar merah didepan rumah Mina, hanya demi ingin mendapatkan Selsa dan ingin perempuan itu kembali padanya.
Enam bulannya begitu kacau, perempuan yang didambakan mencampakkan dirinya, meninggalkan tanpa memberi kabar, membiarkan semuanya berakhir dengan tawa getir. Kecewanya melambung, namun ia tahu perempuannya lebih kecewa, Amarah juga ingin dilampiaskan, iapun juga tahu Amarah perempuannya jauh ingin dilampiaskan sebelum dirinya merasakan. Karma memang benar adanya, hanya saja Fabian terlalu jemawa untuk tidak mempercayainya.
Ketukan pintu terdengar begitu keras, terkesan menggedor-gedor, akan tetapi setelah dibuka tidak ada seorangpun disana. Perempuan dengan perut yang sudah membuncit itu memperhatikan sekitarnya, sampai matanya tak sengaja mengatah kebawah dan menemukan bucket yang berisi mawar merah. Aish lelaki itu tidak jera juga.
Ditentengnya bucket mawar merah menuju kediamannya, menemui orang yang jelas-jelas bersangkutan, langkahnya terhenti ketika melihat perempuan mungil berdiri, tak jauh darinya, dimeja makan.
"Dapat kiriman lagi," ujarnya menempatkan bucket bunga disamping perempuan yang sedang asik menikmati salad buah.
Tidak berubah, Selsaniva Kania, selalu memberi respon tawa kcil namun getir dan setelah itu wajahnya biasa saja. Mencoba tidak perduli untuk apapun hal yang dilakukan lelaki yang masuk dalam list manusia brengsek. Mungkin kalau kalian berkunjung di rumah Mina apalagi menuju kamar Selsa, kalian akan menemukan timbunan bucket mawar merah yang bunganya sudah layu dan juga kering, karena selama enam bulan juga dirinya hanya melemparkan bunga disetiap sudut kamar tanpa memperdulikan setelahnya.
"Aku sudah malas, enam bulan diberi ini dan hanya kulemparkan disetiap sudut kamar, kamu saja Mina yang buang! Kamarku sudah penuh bunga karena bajingan satu itu." Jawabnya acuh, menolak mentah-mentah, kembali menikmati salad buah yang begitu lezat.
"Dasar menyebalkan, aku tidak menggunakan jasa pembantu, dan kamu menyuruhku membersihkan semua kekacauan yang ada dikamarmu. Apa kamu tidak kasihan dengan calon keponakanmu ini, huh?" Omel Mina.
Mina tak menuruti apa kata Selsa, membiarkan bunga Mawar itu berada disamping Selsa, perempuan itu masih saja menikmati salad karena tidak begitu tertarik pada bunga yang ada disana.
"Yang menyuruhmu membersihkan siapa, Mina? Aku hanya menyuruhmu membuang bunga ini jauh-jauh! Kalau besok dan seterusnya masih ada, langsung dibuang saja! Tidak usah lapor padaku, aku muak melihatnya." Katanya kesal.
Mina mencibir ujaran Selsa, bahkan perempuan itu dengan beraninya meledek Selsa yang katanya tidak bisa melupakan Fabian, sampai pekikan Selsa terdengar Mina baru berhenti meledek sahabatnya itu.
"Malam nanti aku akan periksa kandungan, bersama Vano, kamu ikut?" Tawanya perlahan hilang, berganti dengan pertanyaan yang membuat Selsa sedikit berpikir.
"Malas sekali melihat kalian mesra seperti itu, tapi mau bagaimana lagi aku takut ditinggal sendiri, ikut saja lah."
Nah ini yang sebenarnya dirasakan Selsa selama enam bulan lebih, dirinya seperti obat nyamuk ketika berpergian dengan Vano dan Mina. Menyaksikan kebersamaan dua mahluk yang sering membuatnya kesal, sesekali Selsa berdecak sebal dan protes pada Vano maupun Mina untuk tidak bermesraan ketika sedang bersama dirinya.
"Hahaha kasihan sekali, mau ku carikan lelaki setampan Fabian? Tapi brengseknya tidak seperti Fabian, tenang saja." Tawar Mina menggoda.
__ADS_1
Ekspresinya datar, "Em- tidak usah terimakasih, tapi itu tidak perlu. Sekarang aku ingin Fokus dengan karirku karena setelah sekian lama aku tidak beraktivitas seperti ini." Katanya setengah kesal.
"Ah baiklah, semoga lelaki brengsek itu lekas pergi dari pikiranmu ya." Memang Mina harus diteriaki menggunakan toak agar telinganya tuli, senang sekali meledek Selsa dan membuat perempuan itu kesal, seperti ini contohnya.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak memikirkan dia, mendengar apalagi mengingat saja enggan." Selsa berdecak, menyangkal lontaran kalimat Mina yang sembarangan.
Tawa geli itu terlihat jelas oleh Selsa, sial, Mina menertawakannya.
"Untuk sekarang nikmati hidupmu dulu Sa. Baru kali ini aku benar-benar melihatmu tertawa tanpa beban, melakukan semuanya dengan semangat, walau tidak memungkiri rasa kecewa dan kehilangan masih ada didalam sana." Mina sengaja menunjuk hati Selsa lantas mengalihkannya.
Mina cukup tahu, karena bersama Selsa bukan sehari dua hari saja, sudah bertahun-tahun dan perempuan itu jelas tahu seperti apa Selsa. Tapi memang tidak berbohong, Selsa enam bulan ini jauh lebih menyenangkan karena semua seperti dijalankan dari hati, tidak sepeerti Selsa beberapa bulan lalu, hidupnya terkesan monoton dan banyak beban. Bahkan Mina patut memberikan pujian pada sahabatnya itu karena dulu yang sering memikirkan perkataan dan komentar orang lain, sekarang jllebih mengabaikan dan tidak perduli barang sedikitpun tentang apa yang orang lain omongkan. Selsa menulikan telinga dan Mina menyukai cara perempuan itu.
"Ya mau bagaimana lagi, hidupku seolah sama seperti dulu. Kembali dipatahkan, kembali dikecewakan, tapi kalau aku terus terpurukpun juga tidak ada gunanya. Mau tidak mau aku harus bangkit dan memulai semuanya dari awal, ini juga berkat dukunganmu dan Vano." Cicitnya pelan. Tangannya mengambil penutup Salad buah, menutupnya dan disingkirkan sedikit jauh.
"Terus seperti ini Sa, jangan pernah terpuruk lagi. Kalau memang Fabian yang dipilih Tuhan untuk bersamamu nanti, serumit apapun jalannya, pasti semua dipertemukan kembali."
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi rasanya tidak mungkin, kalau boleh aku selalu berdoa tidak lagi dipertemukan dengan dia. Aku tidak ingin hidup yang terus dibayangi masa lalu, karena sampai kapanpun rasanya aku tidak pernah bisa berdamai dengannya."
"Apapun keputusanmu aku dan Vano akan mendukungnya," Mina tersenyum tulus, "Hari ini tidak ada pemotretan?" Imbuhnya bertanya.
"Mungkin malam, setelah mengantarkanmu periksa kandungan, tolong antarkan aku ke Malva Studio."
...---...
Ini perubahan dominan yang dilihat dari Fabian. Bisa perempuan itu lihat, tubuh Fabian lebih kurus dari biasanya, rambutnya agak panjang, matanya sayu ketika dilihat serta lingkaran hitam yang ada dimatanya, dan juga rahang kokoh dan pipi sedikit tirus, membuatnya meringis pilu.
Sangat dominan dan terkesan drastis, lelaki itu menampakkan seolah dirinya memang benar-benar kacau. Tidurnya tak mengenakkan, apalagi dengan pekerjaan kantor yang semakin terbengkalai, belum lagi saham kantor semakin menurun, itu adalah salah satunya penyebab kekacauan yang dirasa. Kepalanya cukup pusing, tak ada yang membantunya, tak ada yang dijadikannya tempat curah dan bersandar.
Nadia tahu, bahkan Nadia sangat ingin dijadikan Fabian untuk tempat bersandar, tapi kembali lagi mengingat diagnosa sialan itu. Dokter terus mewanti-wanti dirinya agar tidak terllau banyak berpikir, apalagi mengatakan juga kepada Fabian, lelaki itu justru memegang kendali dan semakin menyenbunyikan semua hal darinya. Dengan kondisinya akhir-akhir ini yang lemah dan sering sekali mual, belum lagi ngidam beberapa hal yang membuat Fabian kerepotan.
Tapi satu hal yang dilupakannya, Fabian seperti ini juga ada hubungannya dengan Selsa. Nadia lupa kalau alasan terpuruknya Fabian adalah Selsa, walau Fabian tidak mau berterus terang, Nadia selalu tahu. Dirinya tak menampik kalau hatinya ikut ngilu, tersentuh dan sama sedihnya melihat Fabian seperti ini, seperti bocah linglung. Tapi ketakutan Nadia lebih besar jika nanti Fabian meninggalkannya dan hanya terfokus pada Selsa, Nadia tidak bisa karena sudah dari dulu dirinya ketergantungan Fabian.
Nadia tahu dirinya egois, Nadia tahu dirinya lebih dari jahat karena berusaha memisahkan dua orang yang saling mencintai, apa Nadia salah karena menginginkan Fabian? Apa Nadia salah karena berharap lelaki itu akan hidup bersamanya sampai nanti? Nadia menginginkam Fabian, dan Nadia juga menginginkan Renald.
Langkahnya sedikit terhenti untuk menutup kembali pintu ruangan Dokter. Senyum keduanya terpatri jelas disana, dengan Nadia yang mengusap pelan perutnya dan Fabian yang menggandeng tangan Nadia erat. Itu bukan senyum tulus dan bahagia, itu senyum paksa yang Fabian tampilkan enam bulan ini, Nadia selalu tahu. Perempuan itu sengaja diam, tidak mau merusak suasana yang seolah dibuat bahagia karena aslinya pun biasa saja.
"Dia sehat Fab, aku senang mendengarnya." Seulas senyum bahagia terbit dengan tangan yang masih setia mengusap perutnya.
Perihal Renald, lelaki itu tetap bertanggung jawab, menemui Nadia setiap bulannya walau dengan pertemuan yang diringi hening. Hanya meletakkan satu kotak berisi susu bubuk untuk di konsumi Nadia setiap bulannya, mencium kening Nadia dan setelah itu pergi begitu saja. Mereka sama-sama malas untuk bertengkar perihal menikah, sama-sama sudah bosan dan membiarkan berjalan dengan semestinya. Sekali lagi, Nadia tidak masalah karena ada Fabian disampingnya.
__ADS_1
"Aku juga senang," Fabian berjalan pelan meninggalkan rumah sakit sembari menggandeng Nadia, "Renald sudah menemuimu?" Imbuhnya bertanya.
"Setiap bulan atau tidak dua minggu sekali dia menemuiku," jawab Nadia dengan intonasi sedikit pedih.
"Bagus kalau begitu."
Langkahnya menyusuri setiap lorong rumah sakit, keduanya sesekali terlibat obrolan ringan yang membuat Nadia tertawa atau bahkan Fabian tertawa, namun dipaksa. Rasanya berubah, sangat berubah, Nadia lebih menginginkan Fabian beberapa bulan yang lalu sebelum mengetahui dirinya hamil dan sebelum Selsa pergi dari hidup Fabian.
Sampai langkah keduanya terhenti ketika berpapasan dengan tiga orang yang sangat amat dikenali. Tempatnya berpijak seperti berlubang, dan Fabian maupun Nadia siap terjatih disana. Siapa yang hamil, bisik keduanya.
"Oh hai Fabian, bagaimana kabarmu?" Sapa Vano mengawali percakapan. Lelaki itu menggandeng mesra tangan Mina, sedangkan disisi kana Mina ada Selsa yang sama halnya menggandeng Mina mesra.
"H-hai," sapanya kikuk.
Nadia memutar bola matanya malas, kenapa harus bertemu disini sih?
"Em- periksa kandungan ya Nad? Bagaimana janinnya? Sehat seperti Mamanya kan?" Sindir Vano membuat Nadia mendelik tak suka.
Sial, apa baru saja Vano mengejeknya? Dan secara tidak langsung lelaki itu mengatainya gila
"Apa maksudmu Van? Tentunya aku sehat," jawabnya angkuh. "Omong-omong mau memeriksakan kandungan siapa kesini?" Tanya Nadia penasaran.
Nadia maupun Fabian sama tidak tahunya siapa yang akan diperiksakan, karena pakaian yang dikenakan Selsa dan Mina sama-sama besarnya jadi tidak terlalu kentara kalau Mina hamil.
"Eh- urusannya denganmu apa ya?" Tanya Mina dengan decak sebal.
"Aku hanya bertanya,"
Si anak Wardhana matitak berkutik sedikitpun, netranya tak pernah dialihkan dari wajah natural milik Selsa sedari tadi. Walaupun Selsa mengabaikan tatapannya, Fabian tidak perduli dan masih menatap sendu perempuan itu, "Sa siapa yang hamil?" Tanyanya lirih.
"Perlu ku jawab? Ku rasa tidak. Mina, Vano, ayo pergi dari sini!" Jawabnya acuh tak acuh. Sampai sekarang pun mata Selsa masih belum mau bersirobok dengan Fabian.
Rasa penasaran semakin melambung tinggi, Fabian dan Nadia hanya menatap kepergian Mina Selsa dan Vani dengan penih tanda tanya. Sesaat Nadia tidak mau memusingkan, dengan gusar dirinya melanjutkan langkah diikuti Fabian dan mulai meninggalkan area rumah sakit dengan telinga yang terngiang.
Sedangkan Selsa, disetiap langkahnya yang mengikuti Mina, hatinya kembali gusar jika bertemu Fabian. Ketika nyra sendu itu menatapnya, sekuat mungkin tidak balas menatap dan kembali jatuh disana. Selsa selalu berjaga, berjaga diri dan juga berjaga hati, Fabian itu sulit sekali ditebak. Mungkin untuk saat ini hanya mengirimkan bucket bunga dengan note kecil yang jarang sekali Selsa baca, tapi tidak tahu nanti, lelaki itu bisa saja berubah dengan menemuinya, memaksanya dan berubha menjadi manusia gila dengan seribu cara untuk mendapatkannya.
Tapi tunggu sebentar, yang diingat tadi sempat melirik sekilas penampilan Fabian, Selsa meringis ngilu. Lelaki itu jauh sekali dengan Fabian yang selalu rapi. Apa Nadia disana tidak berusaha mengingatkan lelaki itu untuk makan? Tidak mengingatkan juga untuk istirahat yang cukup? Tidak mengingatkan untuk Fabian memangkas rambut? Atau sekedar tidur sebentar untuk menghilangkan penat? Ah Fabian semengerikan itu sekarang.
"Jangan dipikirkan, anggap saja kita tidak pernah bertemu mereka! Aku tidak ingin fokusmu buyar hanya karena Fabian dan Nadia."
__ADS_1
Selsa berjingkit kaget, Mina membuyarkan lamunanya, Vano juga mengangguk disana. Dua orang itu tahu dirinya memikirkan Fabian, tapi mau bagaimana lagi, lelaki itu sukses bertanggar dipikirannya sekarang. Sialan bukan?