
Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian masa lalu tidak lebih dari kata banyak, banyak sekali, hingga membuatnya berkali-kali merasa terpukul dan susah menerima kenyataan. Namun dukungan dari 'teman baru' nya sukses membuat semangatnya kembali membara, melakukan berbagai hal positif yang membuat hatinya tenang dan hitung-hitung istirahat dari lelahnya memikirkan seseorang.
Disaat merasa sendiri dan tidak punya siapapun, ia didatangi oleh yang tak lain adalah orang yang disebut rivalnya. Di ajak bangkit dan menerima kenyataan, tentunya dengan beberapa ucapan yang juga membuatnya tersayat. Tapi sudahlah, itu masa lalu dan sekarang adalah masa depan. Tidak ada gunanya menyesali ataupun menangisi, karena hiduppun terus berjalan. Ia tak bisa terus berhenti dititik itu saja, jalanan masih begitu panjang dan tak ada ujungnya.
Hari ini adalah untuk kesekian kalinya, setiap bulan, Narendra Fabian Atra Wardhana mengikuti acara bhakti sosial yang diadakan di salah satu panti asuhan. Sekaligus menjadi donatur bersama dengan Samuel. Acara ini setiap satu bulan sekali, mengunjungi Panti Asuhan, dengan serangkaian acara yang sudah dirancang, Fabian dan Samuel menyempatkan waktu bersama anak Panti untuk bermain.
Sekarang, kebahagiaan anak panti yang sering dikunjungi adalah kebahagiaan Fabian dan Samuel juga. Melihat berbagai anak panti yang keadaannya tak sama, ada yang tidak bisa berjalan, ada juga yang tidak bisa mendengar dan juga berbicara. Melihat mereka tertawa juga membuat Fabian dan Samuel tertular tawa bahagia itu.
"Nak Fabian, Samuel, terima kasih ya. Berkat kalian berdua semangat anak-anak panti meningkat, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian ya."
Di ruangan yang lumayan sempit itu bu Asri mengucapkan terima kasihnya, disuguhi dua cangkir teh hangat beserta cemilan yang dihidangkan diatas piring berbahan dasar tepung dan pisang.
"Bu tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak! Saya dan juga Fabian ikhlas membantu mereka, tawa yang tak lepas dari bibir mereka juga kebahagiaan saya dan juga Fabian." Ujar Samuel ramah.
Bu Asri selalu bersyukur dan berterima kasih. Panti asuhan yang dulunya diancam digusur diselamatkan sua orang dihadapannya sekarang ini, dengan hasil setiap bulan emmbuat acara bhakti sosial dan begitupun ketika salah satu diantara mereka ada yang ulang tahun, Fabian dan juga Samuel sering kali repot untuk menyiapkan kejutan kecil namun membawa bahagia yang begitu besar.
"Setelah ini kalian akan langsung pulang atau istirahat disini dulu? Ada salah satu Donatur baru dan juga katanya akan membagikan beberapa barang dan Box makanan untuk anak-anak." Tutur bu Asri bahagia.
Fabian dan Samuel saling melempar pandang, donatur baru? Mereka berdua berpikir sekejap lantas mengangguk menyetujui.
"Bagaimana bisa mendapat donatur baru Bu? Maaf, panti asuhan ini kan jauh dari pengetahuan warga juga menurut informasi sering kali dikucilkan."
"Saya sendiri juga bingung, mungkin itu salah satu rizki yang Tuhan berikan untuk anak-anak panti. Dua minggu yang lalu saya dihubungi oleh donatur tersebut, lantas donatur mangatakan hari ini akan berkunjung."
"Syukurlah kalau begitu Bu. Oh iya saya dan Samuel menemui anak-anak dulu ya, kalau ada apa-apa ibu panggil saja." Pamit Fabian sopan.
Sungguh ini adalah pencapaian yang luar biasa untuk Fabian. Tempramental yang sebelumnya menghinggap padanya kini perlahan menghilang, cara bicaranya tak sesombong dulu, untuk sekarang penuh kelembutan dan begitu manis jika dilihat mata.
Bu Asri mengangguk menyetujui, memperhatikan Samuel dan Fabian yang perlahan hilang dari pandangannya. Langkahnya mendekat pada celah pintu, menampilkan dua orang lelaki dewasa itu tengah bercanda penuh tawa bersama anak-anak panti. Senyum harunya terbit, hampi saja menitihkan air mata bahagia namun dicegahnya cepat.
Fabian dan Samuel duduk dibawah pohon rindang yang ada didepan panti, memperhtikan anak-anak panti yang sedang asik bermain ular-ularan. "Sam terima kasih sudah membuatku seperti ini, pencapaian hebat ini juga berkatmu." Ungkap Fabian membuka obrolan, namun tatapannya tak pernah teralih pada anak panti yang begitu bahagia.
"Sama-sama, dirimu sudah hebat karena membuang ego dan juga amarah tanpa sadar. Pribadimu sekarang jauh dari Fabian dulu, pertahankan Fab!" Balas Samuel tak lupa senyum manisnya.
"Untuk perusahaan baru juga, terima kasih sudah membantu. Cafe yang ada didekat perusahaanku yang baru, aku akan mendedikasikannya untukmu."
"Tidak perlu, aku ikhlas membantumu."
"Tapi cafe juga didirikan juga dengan campur tanganmu, ide bahkan keuangan hingga sampai bisa sebesar ini."
Tawa riang Samuel terbit, "tidak masalah karena kamu temanku, cafe itu sepenuhnya hakmu." Tandas Samuel yakin.
Perihal cafe, sebelumnya Fabian memang mendirikan sebuah cafe kecil-kecilan, hingga tanpa sadar berubah menjadi sesukses ini. Akibat bantuan Samuel dengan ide dan juga penyokongan dana, cafe terus berkembang dan digandrungi banyak kalangan.
Fabian menepuk pundak Samuel beberapa kali sembari mengucapkan terima kasih. Kemudian dirinya kembali memeprhatikan anak panti yang masih belum meras alelah karena seharian bermain.
"Masih tidak bisa melupakan Selsa?" Tanya Samuel tiba-tiba.
Fabian terkejut, mengerjapkan matanya beberap kali. Lantas tawa sendu nan pasrah ditampakkan.
__ADS_1
"Aku sudah pasrah, tentang relasiku dengan Selsa yang serumit dulu, aku sepertinya tidak pernah berharap lebih lagi; apalagi dengan dia kembali ke tempat ini dan menemuiku. Rasanya mustahil, dan sekarang aku hanya mengikuti alurnya saja."
Pandangannya kosong ketika berujar demikian, memang benar, rasanya Fabian sudah lelah untuk menantikan Selsa kembali. Ini tahun ke tiga tanpa Selsa, dilaluinya dengan biasa dan sama sekali tidak istimewa.
"Sekarang terserah Tuhan mengirimkan siapapun untukku, asal dia seperti Selsa yang mau memahamiku dan selalu menerti keadaanku." Sambung Fabian sendu.
"Itu tandanya masih mengharapkan, uh dasar." Ejek Samuel.
Fabian terkekeh kecil, mengusap wajahnya sekejap dan kembali membuat raut wajahnya seceria mungkin. Ini hari bahagia nya bersama anak panti, jadi tidak boleh ada yang namanya sedih atau apapun.
"Sudahlah ini bukan tempat yang tepat untuk membahas mantan kekasihku yang cantik itu, aku tidak ingin bu Astri bertanya yang tidak-tidak, begitupun anak panti." Kilah Fabian dengan kekehan lucu.
"Apalah daya cantik kalau sudah menjadi mantan Fab," ejeknya dengan wajah sok dibuat sedih.
Mau tak mau Fabian tertawa menanggapi, Samuel paling bisa menciptakan lelucon aneh dan sialnya humor Fabian serendah itu untuk tertawa.
"Sam tolong jaga anak panti, aku akan ke toilet." Pamit Fabian cepat, berlari menuju bilik kecil yang ada dibelakang panti.
Bersamaan itu, sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan gerbang panti, disusul munculnya Bu Asri dan beberapa anak berkumpul disamping Bu Asri berurutan. Lelaki berbaju hitam lebih dulu keluar, membuka pintu mobil bagian belakang. Itu majikannya, menapakkan kaki untuk pertama kali di Indonesia dengan sepatu boot wedges mahal miliknya.
Celana jeans berwarna hitam, dipadukan kaos putih kedodoran dan juga cardigan berwarna Coklat muda terpajang rapih disana. Tak lupa rambut model lawyer miliknya berwarna hitam pekat dan juga kaca mata hitam bertengger manis disana, itu yang dilihat Bu Asri, anak panti dan juga Samuel. Mereka melongo, donaturnya begitu cantik dan sangat cantik.
"Tolong keluarkan semua Box makanan juga beberapa mainan yang sudah saya beli," pintanya berbahasa inggris dengan logat Amerika yang khas.
Lelaki berbaju hitam itu mengangguk, membuka bagasi mobil dan mengeluarkan semua barang-barang yang sudah dibawa termasuk Box makanan.
Perempuan itu berjalan anggun menuju Bu Asri, dengan tersenyum dan memeluk Bu Asri sebentar, sikap ramahnya seketika mendapat pujian dari anak-anak panti.
"Tidak masalah, mari masuk." Ajak Bu Asri ramah.
Bu Asri mengedarkan pandangan pada Samuel, "Sam saya bisa minta tolong?" Tanya Bu Asri.
Bu Asri tahu ini tidak sopan, tapi siapa lagi yang akan membantu kalau tidak Samuel?
"Apa Bu?"
"Tolong bantu lelaki itu membawa Box makanan ke dalam ya, tidak apa-apa kan?" Tanya Bu Astri memastikan.
"Oh iya bu, tidak apa-apa." Samuel bergegas memabntu lelaki berbaju hitam menurunkan beberapa Box makanan dan juga mainan yang dibawa.
Sebelumnya ini membuat lelaki tampan itu terkejut bukan main, ia yakin tidak salah melihat dan tidak sedang berada dalam mimpi. Tapi yang dilihat didepan matanya ini sungguh mustahil dan sulit sekali di percaya.
...---...
"Non maaf sebelumnya, bagaimana non bisa tahu kalau disini ada panti asuhan?"
"Jadi ketika saya tengah meeting dengan rekan-rekan saya, saya mendengar jika ada salah satu lahan yang katanya dibuat panti asuhan itu akan di gusur. Saya dengarnya sudah lama, tapi maaf baru mengunjungi dan menjadi donatur hari ini. Sebelumnya sempat beberala kali ada masalah, jadi saya undur waktu untuk datang ke panti asuhan milih ibu." Ungkapnya menjelaskan.
"Itu bukan masalah non, sudah mau menjadi donatur panti ini saya sangat bersyukur. Begitupun dengan dua lelaki yang juga menjadi donatur panti ini,"
__ADS_1
"Oh benarkah? Siapa bu?" Tanyanya penasaran.
"Sebentar saya panggilkan," bu Asri meninggalkan tempatnya mencari dua orang yang dimaksud. Tidak lama, karena bu Asri berhasil menggandeng dua lelaki yang dimaksudnya.
"Ini non, mereka lebih dulu membantu panti ini waktu beberapa pekerja ingin menggusur tempat ini."
Perempuan itu menoleh menatao dua orang yang bersama Bu Asri, mengangguk dan tersenyum menyapa. Bahkan beberapa kali membenarkan rambutnya yang menutupi pandangannya, senyum manis itu masih bertengger disana.
Berbeda dengan Fabian dan Samuel yang terkejut, melongo ditempatnya penuh dengan pertanyaan dibenak. Demi apapun mereka seperti bermimpi.
Bu Asri sudah duduk ditempatnya, "Sam, Fab, silahkan duduk." Titah Bu Asri.
Samuel dan Fabian duduk di kursi pa jang yang ada disana, yang ada disamping si donatur baru.
"Ini non donatur pertama di panti ini. Mereka baik sekali dengan anak-anak, terkadang juga memberikan kejutan kecil untuk anak-anak yang sedang ulang tahun. Setiap satu bulan sekali mengadakan Bhakti sosial."
Perempuan itu tersenyum penuh makna, "Wah baik sekali ya bu, kalau begitu saya boleh mengikuti bakti sosial kan?" Tanyanya memastikan.
"Boleh non, sangat boleh. Tapi tunggu dulu, kalian kan belum saling mengenal."
"Tidak masalah, saya akan memperkenalkan diri bu."
Senyum cerah sudah telrihat dari tadi dan tak pernah luntur, bahkan rasanya senyum itu membungkam lelaki yang duduk didekatnya. Tangannya menujulur pada si muka pucat, Fabian, dan tak kunjung dibalas hingga Samuel menyikut lengannya dan lelaki itu tersadar. Fabian membalas jabatan tangan donatur baru, "Fabian Wardhana," ujarnya kaku.
"Selsaniva Kania," ujarnya mantap disertai kekehan lucu.
Selsa melepaskan sepihak jabatan tangannya, tentu menimbulkan reaksi lucu dari Fabian. Berganti berjabat tangan dengan Samuel yang ada disamping Fabian.
"Samuel Wiliam Pratama,"
"Selsaniva Kania." Lantas Selsa melepaskan jabatan itu cepat.
Bu Asri yang melihat gelagat aneh dari Fabian dan Samuel pun menggernyit, begitupun ketika melihat raut Selsa yang tampak tenang-tenang saja.
"Sebelumnya sudah saling mengenal ya?" Tebak Bu Asri penasaran.
Selsa menggernyit, "ah tidak bu, saya tidak mengenal mereka." Dustanya masih tetap tenang.
Bu Asri ber oh ria.
"Tapi sepertinya Samuel dan Fabian masih seterkejut itu melihat saya, mungkin kagum dengan kecantikan saya," canda Selsa mengundang tawa bu Asri.
"Bisa saja non bercandanya,"
Selsa hanya terkekeh kecil.
Mati-matian Selsa menahan tawanya agar tidak menyembur siapapun. Pasalnya melihat raut Fabian dan Samuel yang masih syok membuat Tawanya seketika ingin mengudara.
"Bu kalau bisa panggil Selsa saja, tidak usah pakai non. Tidak enak." Pinta Selsa.
__ADS_1
Bu Asri mengangguk, "panggil nak Selsa saja ya, hehe."
Gila, ini Gila.