
Perihal perselisihan selama dua malam itu bukanlah hal yang main-main, sampai sekarang pun pribadi Wardhana itu tega dan masih bertahan dengan sikap diamnya. Mengabaikan seluruh ocehan yang Selsa utarakan seperti; menawari segelas kopi tanpa gula, Hot Coklat yang masih beruap dan juga sebuah chicken wrap kesukaan lelaki itu.
Sedangkan peribadi Kaniva sudah sekuat mungkin menghadapi semuanya, membujuk agar lelakinya kembali mencair dari sifat dingin namun nihil. Sekali mengajak lelaki itu berbicara, seribu kali juga lelaki itu punya cara untuk menghindar.
Seperti sekarang, Selsa seorang diri melaju kencang menuju rumah Mina. Hanya dia, hanya Mina, orang satu-satunya yang Selsa punya dan oaling mengerti dirinya. Batinnya berbisik mengesampingkan perihal Mina yang akan meluangkan waktu lebih bersama Vano, hari ini Selsa akan mencurahkan semua keluh kesahnya.
Turun dari mobil warna silvernya, Selsa melenggang begitu saja memasuki rumah Mina. Ralat, rumah Vano. Duduk disalah satu sofa warna putih model sekarang, suara Selsa melengking memanggil Mina.
"Ada apa sih Sa teriak-teriak begitu? Aku tidak tuli." Mina menuruni tangga dengan kesal.
"Cepat duduk, aku sedang kesal dan ingin bercerita denganku." Perintah Selsa malas.
Mina menggerutu dan duduk disamping Selsa, "Kalau sedang kesal saja baru datang padaku," jawabnya kesal.
"Ah sudahlah Mina aku serius."
"Apa, mau cerita apa?" Tanya Mina.
"Aku bertengkar dengan Fabian." Jawab Selsa.
"Sudah aku tidak akan kaget lagi. Memang masalahnya apa?" Mina memutar bola matanya malas. Setiap Selsa pergi kerumahnya, Mina tahu sesuatu terjadi dalam hubungan perempuan itu dengan Fabian.
"Masalahnya hanya ada pada si nenek sihir satu itu, siapa lagi kalau bukan Nadia. Apa-apa Nadia, aku salah sedikit yang dibela Nadia, kenapa sih hidupku dari dulu selalu berurusan dengan orang yang namanya Nadia?" Pekik Selsa yang sudah memukul bantal sofa kesal. Wajahnya merah padam dan merengek kesal.
"Kamu apakan Nadia sampai Fabian semarah itu?"
"Sumpah demi apapun aku tidak melakukan apapun pada Nadia. Justru dia yang mengganggu hubunganku dengan Fabian."
"Terus kok bisa Fabian marah?" Tanya Mina penasaran.
"Aku juga tidak tahu Mina. Kepalaku cukup pusing memikirkan teror itu dan sekarang Fabian marah padaku." Katanya frustasi.
Mina jadi teringat perihal teror yang dialami Selsa. Kemarin selesai menemui Yumi, peremluan itu tak langsung beristirahat dan melanjutkan penyelidikan membuntuti mobil Yumi kemanapun mobil itu pergi, namun hasilnya masih nihil. Namun menurut salah satu pesuruh teman Vano, ada satu tempat usang yang patut dicurigai, letaknya didekat hutan dan jauh dari penduduk. Dan juga menurut nomor yang sudah dilacak, peneror tinggal dikawasan yang dekat dengan Selsa.
"Masalah teror aku dan Vano sudah menyelidiki, bersama teman Vano juga, ada dua orang yang patut kita curigai."
Selsa membola terkejut, tubuhnya tegap dan mendengarkan dnegan serius. "Siapa?"
"Yumi dan juga Nadia. Ada dua bukti yang ditemukan teman Vano," jelas Mina.
"Jangan bercanda Mina! Yumi sekarang adalah temanku, dia sudah berubah." Selsa menyentak pudak Mina hingga perempuan itu terkejut.
Mina menggerutu kesal, "Selsa kita tidak tahu kapan orang itu benar-benar jadi teman untuk kita, bisa saja Yumi melakukan hal seperti ini supaya bisa menarikmu lebih dekat ke perangkapnya, dan menghabisimu dengan gampang tanpa bantuan siapapun." Sangkanya yang membuat Selsa berdecih.
"Tidak Mungkin, kemarin saja dia mentraktirku disalah satu restoran dan juga aku dan dia belanja bersama. Dia sudah berubah Mina." Terangnya mengingat peristiwa dirinya dan Yumi yang menghabiskan waktu bersama.
"Terserah apa katamu, nanti kita buktikan siapa dia sebenarnya. Yang terpenting kamu harus hati-hati dengan Yumi Sa, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu."
Senyum tenang Selsa tampakkan. Memang harus seperti ini kan? Selsa selalu terlihat baik-baik saja selama ini, "Tenang saja Mina, aku akan menjaga diriku sebaik mungkin. Tapi menurutku yang melakukan teror tersebut adalah Nadia." Duganya membuat Mina membelalak.
"Sa walaupun aku sedikit jengkel dengan Nadia, tapi aku tidak mau menuduhnya, maksudku kandidat tersangka ada dua yaitu Yumi dan dia. Sebaiknya kita selidiki lebih dalam, kalau nanti ternyata Nadia tidak ada bukti tersangka, kita justru yang akan malu."
"Aku punya bukti cukup kuat Mina. Selama ini siapa yang tahu lebih dalam mengenai hubunganku dengan Fabian kalau tidak dia? Kamu ingat orang itu pernah mengirim pesan yang berisikan tanggal bulan dan tahun? Yumi tidak akan tahu karena dia orang baru dalam hidup Fabian."
Benar. Kenapa Mina tak berfikir sejauh itu?
"B-bisa saja, tapi- Ah sudahlah Sa kita harus melakukan penyelidikan lebih kuat."
__ADS_1
Mata Selsa menatap lurus objek lain, "Kalau sampai Nadia yang melakukan ini semua, aku tidak akan segan menghancurkan wajah sok polosnya." Desisnya tidak suka dan ketus.
Dari pada terus membahas Nadia membuat emosi Selsa meledak-ledak, lebih baik Mina mengalihkan pembicaraan saja.
"Omong-omong kesini dengan Siapa?" Tanya Mina menatap keluar pintu rumahnya.
"Sendiri, bawa mobil sendiri." Jawab Selsa malas.
"Tumben boleh, Fabian kemana?"
Ah bodoh Mina, ujung-ujungnya nanti Nadia lagi. Dan benar Mina mendapati raut tak suka Selsa ketika pertanyaan sensitif itu dilayangkan.
"Sepertinya aku baru saja memberitahumu Mina, aku dan Fabian sedang tidak baik-baik saja dan Nadia alasannya." Katanya frustasi.
"Kapan Fabian mulai mendiamkanmu?"
"Dua hari yang lalu aku pulang malam, bertemu disalah satu lift dan dia memasang wajah super datar. Sampai di apartemen ku tanya ada apa, dia menuduh aku menemui Selsa dan mengumpatinya jalang. Padahal hari itu aku sedang bersama Sakti."
Tunggu-tunggu! Fabian mendiamkan Selsa bertepatan saat dirinya melabrak si Nadia. Dan itu berarti ini semua juga salahnya karena membiarkan Fabian menuduh Selsa yang tidak-tidak?
"M-maksud kamu?" Mina tercekat, matanya menelisik ragu.
"Ah pokoknya seperti itu."
Tenang Mina, Selsa tidak akan marah. Ayo ceritakan saja, "Tapi tepat hari itu aku dan Vano menemui Nadia Selsa."
Selsa lebih terkejut bukan main. Matanya menatao tajam Mina yang sedikit ketakutan. "Apa? Astaga Mina, kenapa tidak memberitahuku dulu?" Teriaknya kesal.
"Maaf Sa tapi aku dan Vano melakukan semuanya secara diam-diam."
"Sa maafkan aku," lirih Mina.
"Apa maafmu bisa mengembalikan Fabian agar tidak marah lagi denganku? Apa maafmu bisa mengembalikan Sakti yang sudah benar-benar hilang dari hidupku?"
"M-maksud kamu Sa-"
"Ya aku dan Sakti sudah berakhir. Ini semua karena Fabian dan juga tentunya kamu dan Vano." Katanya sedikit tercekat.
"Sa sungguh aku tidak tahu kalau seperti ini. Aku akan berbicara dengan Fabian kalau begitu, menjelaskan kalau kamu tidak bersalah."
"Sudah terlambat Mina! Fabian sudah terlanjur kecewa denganku, tahu sendiri kalau Fabian kecewa seperti apa. Begitupun aku, jujur kamu dan Vano adalah orang yang sangat bisa aku andalkan saat ini, tapi kamu malah melakukan hal sembrono yang merugikan diriku. Aku kecewa Mina," tubuhnya beranjak dari tempat duduk. Berjalan cepat meninggalkan Mina tanpa pamit.
"Sa tunggu, dengan penjelasanku dulu." Mina meraih lengan Selsa untuk ditahan agar tidak pergi begitu saja.
Selsa melepaskannya begitu saja. Ya memang kalau Selsa sedang marah seperti ini, "Mulai sekarang jangan lagi mencampuri urusanku Mina! Jangan lagi menemuiku sekedar bertanya bagaimana kabarku, aku rela kehilangan sahabat ceroboh sepertimu." Pungkasnya memunggungi Mina dan dalam sekejap tubuhnya hilang dalam pandangan Mina.
"SELSA TUNGGU!" Teriak Mina yang tak Selsa dengar sama sekali.
-
-
-
-
Selsa berhenti pada meja resepsionis dan berhadapan dengan seorang perempuan yang begitu cantik disana. "Fabian ada diruangannya?" Tanyanya ramah.
__ADS_1
"Sudah membuat janji dengan Pak Fabian?" Tanya snag resepsionis.
"Em- belum. Tapi saya kekasihnya."
Wajah sang resepsionis sedikit tak enak, "M-maaf, saya lancang menanyakan ini, bukannya mbak Nadia ya kekasihnya pak Fabian?" Tanyanya ragu.
Yang jelas bunyi patahan terdengar dari hati Selsa. Apa maksud semua ini? Fabian tak mengakuinya kekasih dan smeua orang kantor hanya tahu kekasih lelaki itu adalah Nadia.
"Bukan mbak, saya kekasihnya yang sebenarnya."
"Baiklah, pak Fabian ada diruangannya mbak. Perlu saya antar?"
"Tidak usah, tunjukkan saja kemana saya harus pergi."
"Mbak bisa lurus sedikit, belom kanan terus lurus lagi. Nah disana ruangan pak Fabian." Selsa mengikuti pandang resepsionis itu, mengangguk paham dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Baiklah Terimakasih."
Selsa berjalan tergesa mencari ruangan Fabian. Hanya beberapa menit, sampai perempuan itu menemukan tulisan Chief Executive Officer menggantung di pintu. Perlahan dibukanya pintu itu, pertama yang ia lihat hanya Fabian yang sedang berkutat dengan beberapa dokumen. Sampai dirinya benar-benar berada dalam satu ruangan asing dan menutup pintu rapat-rapat, Selsa menghampiri Fabian yang belum menyadari keberadaannya.
"Fab,"
Fabian terkejut melihat kedatangan Selsa di kantornya. Dilepaskannya kacamata minus dan diletakkannya kasar diatas meja. Hembusan nafas kesal terdengar.
Fabian mengalihkan atensinya tak menatap Selsa, "Apa aku menyuruhmu ke kantorku?" Tanyanya malas.
"T-tidak. A-aku hanya ingin menjelaskan kesalahpahaman ini." Kikuk Selsa tak nyaman dengan suasana seperti ini.
"Pergi sekarang Selsa! Aku sedang malas berselisih denganmu." Perintahnya yang masih tidak mau menatap Selsa yang duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya.
Selsa kesal bukan main, Fabian paling sukit dibujuk ketika sednag seperti ini. Lelaki itu sungguh keras jika sedang dalam keadaan seperti ini.
"Kenapa sih Fab tidak mau mendengar penjelasanku dulu? Kenapa harus aku yang selalu kamu salahkan? Aku hanya ingin meluruskan masalah dan menjelaskan bukan aku yang waktu itu menemui Nadia. Mina dan Vano yang menemui Nadia dan-"
Fabian seketika menatap Selsa tajam, "Ini yang aku tidak suka dari kamu Selsa. Melibatkan orang lain dalam masalahmu sendiri, Mina dan Vano tidak mungkin melakukan hal itu kepada Nadia karena mereka bedua tidak ada sama sekali urusan dengan Nadia. Yang ada urusan dengan Nadia hanya kamu," katanya tegas.
Selsa membalas tatapan tajam Fabian, "Terus kalau aku yang ada urusan dengan Nadia, itu berarti aku pelakunya? Fabian tolong dengarkan aku-"
"Pergi atau aku memanggil petugas untuk mengusirmu?" Sela Fabian cepat.
"Fab ini masalah kecil, kamu yang terlalu membesar-besarkan. Lagipula Nadia juga tidak apa-apa kok,"
Tatapannya semakin menajam, "Tidak apa-apa kamu bilang? Sekarang Nadia sedang kesakitan Selsa, Nadia sedang berjuang lagi demi kehidupannya yang dulu dan kamu seenaknya menuduh Nadia yang tidak-tidak. Asal kamu tahu, aku sama sekali tidak pernah menjadikan Nadia jalangku, tidak pernah menjadikan Nadia salah satu koleksiku, aku justru mengistimewakan Nadia selama ini." Teriaknya sehingga seisi ruangan terkejut terutama Selsa.
"Apa perlu kamu ceritakan semuanya padaku Fab? Apa wajar kamu menceritakan semua pengistimewaan kamu terhadap Nadia pada kekasihmu sendiri?" Lirih Selsa sendu.
"Coba aku tanya sekali lagi, siapa sebenarnya yang ada dihati kamu? Siapa yang ingin kamu perjuangkan? Dan siapa yang kamu pilih untuk melengkapi kekurangan kamu? Bukannya kemarin kamu mengatakan kalau itu aku?" Imbuh Selsa pelan.
Fabian memgusap wajahnya kasar, "Bukannya sudah kukatakan berkali-kali? Aku mencintaimu kamu tapi aku juga menyayangi Nadia. Aku tidak bisa jika harus memilih salah satu dari kalian." Katanya gusar.
"Hidup itu pilihan Fabian, kamu harus memilih satu diantara kita."
"Aku ti-"
"Pilih sekarang Fab! Aku tidak bisa terus seperti ini, aku tidak ingin salah satu dari aku dan Nadia tersakiti terus menerus karena harapan yang kamu berikan."
Dan semoga saja keputusan yang Fabian ambil adalah hal terbaik yang pernah dilakukan. Fabian tidak tahu harus memilih siapa diantara keduanya karena keduanya mempunyai tempat dan porsi masing-masing dihati Fabian. Keduanya sama istimewanya dan sama diberi afeksi lebh oleh Fabian. Dan dalam hatinya berharap kalau esok tak lagi terjadi hal yang seperti ini, berselisih, perang dingin, dan saling terkoyak emosi.
__ADS_1