My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Dua puluh sembilan


__ADS_3

"Sayang kira-kira siapa yang melakukan teror itu pada Selsa? Temanmu bagaimana, ada yang tahu tidak?"


Vano mengalihkan atensi dari ponselnya pada Mina, lelaki itu menggeleng sebagai jawaban belum menemukan sang pelaku.


"Alex belum bisa melacak siapa pelakunya, padahal anak buah yang diarahkan bukan main-main. Aku kira pelaku sudah sangat lincah dalam bidang ini." Terang Vano pada Mina.


Mina menggernyitkan kening heran, "Bagaimana bisa? Seharusnya Alex mengarahkan lebih banyak anak buahnya, dengan itu kita menemukan pelaku dan aku akan menjamin pelaku akan membusuk dipenjara." Emosinya muncul begitu saja dan menggebu-gebu.


"Mina-Mina, hey tenang dulu. Everthing will be fine Sayang, cepat atau lambat pelaku akan ditemukan. Kamu tidak perlu emosi." Vano beralih duduk disebelah Mina, merangkul pundak istrinya agar bisa lebih tenang.


"Bagaimana tidak emosi Van, aku tidak tega meliat Selsa ketakutan seperti itu. Aku sangat amat tahu bagaimana Selsa, dia penakut sebenarnya. Tapi Selsa itu bukan tipikal orang yang mau membeberkan masalahnya, dia lebih memilih memendam semuanya sendiri, apalagi mendapat perlakuan seperti ini rasa takutnya pasti menjadi."


"Selsa baik-baik saja Mina, ada Fabian yang menjaganya. Dia juga punya kamu dan juga aku disini, sebisa mungkin kita juga harus melindungi Selsa."


Mina menatap Vano lekat, berharap suaminya tahu bagaimana perasaanya saat ini. Mina sangat menyayangi Selsa, "Aku yakin Van kemarin bukanlah teror biasa, ini pasti berlanjut. Dari awal aku sudah curiga dengan Selsa yang saat itu kecelakaan kecil, malamnya juga Selsa memberi tahu aku kalau dia mendapatkan sebuah pesan nyasar yang isinya ancaman."


Satu rahasia yang belum Mina ceritakan. Malam itu setelah kejadian Selsa kecelakaan kecil, malamnya perempuan itu mengirimkan sebuah pesan untuk Mina, yang katanya mendapat pesan nyasar dari nomor tidak dikenal. Singkat tapi membuat Selsa tercekat. Agustus 2014, Rose Caffe, empat mata, ranjang. Dan Mina paham apa artinya, karena pada saat itu Selsa pulang dengan kondisi berantakan juga kacau. Raungnya merusak rungu, dan isakan sembiluan menyayat emosi.


"Apa Fabian tahu?" Tanya Vano.


Mina menggeleng lemah, kepalanya disandarkan pada pundak Vano. "Bukankah aku sudah bilang dari awal kalau si idiot Selsa tidak pernah mau menceritakan masalahnya? Aku rasa Fabian tidak mengetahui perihal masalah ini." Lirih Mina frustasi.


"Apa pelakunya orang terdekat Fabian ya Sayang?"


Pertanyaan Vano membuat Mina berjingkit ditempatnya, mengadahkan kepala menatap sang suami penuh, dahinya kembali menggernyit heran.


"M-maksud kamu?"


"Ya kamu fikir aja, Fabian hidup dikelilingi banyak perempuan dan aku yakin salah satu diantara mereka ada yang tidak suka ketika Selsa datang. Mungkin saja salah satu diantara mereka melakukan hal kotor semacam ini."


"Mungkin saja Van. Tapi kira-kira siapa? Bukankah perempuan yang pernah ada untuk Fabian sangat banyak?" Jeda Mina, "Tari, April, Nila, Selvi, Casandra, Dian, Manda, Rahel, Natasha, Eve, Cynza, Mona, Yumi dan Nadia, setahuku."


"Kalau kamu sebutkan satu persatu tidak akan selesai, kamu tahu sendiri Fabian bajingan kelas atas, maksud aku kita perhatikan yang memang dekat sekali dengan Fabian. Menurutku antara Cynza, Rahel, Yumi dan juga Nadia, kuta selidiki yang itu dulu."

__ADS_1


Mina mengangguk paham, "Kalau begitu malam ini kita datang ketempat orang yang mempunyai nama itu. Tapi tunggu, memang kamu punya nomor ponselnya untuk membuat janji?"


"Ada, aku juga menyimpan nomor ponselnya." Ujar Vano membuat Mina mendengus kesal.


Tangannya mencubit pinggang Vano hingga suaminya itu meringis kesakitan, "Dasar! Kamu juga bajingan kelas atas Vano, kalau seperti itu."


Tangannya menyangkal cepat, kepalanya menggeleng kuat. "Oh jangan panggil aku seperti itu sayang, Calm Down! Aku menyimpan nomor ponselnya mantan Fabian ada alasannya, karena setiap kali bajingan keparat itu mabuk selalu menyusahkan aku. Alhasil aku memintai semua nomor perempuan yang dekat dengan Fabian agar aku tahu keberadaannya bajingan satu itu." Jelas Vano panjang lebar namun istrinya masih saja belum percaya.


Bibirnya mencebik lucu dan bola matanya membola malas, "Alibi saja, selesai ini hapus semua nomor perempuan manapun. Hanya ada aku disana." Tukasnya tanpa bantahan.


Hati Vano menghangat, senyum paling bahagia ia utarakan. Memiliki Mina ternyata sebahagia ini, padahal Mina bukanlah cinta pertamanya, namun sukses membuat hati Fabian luluh lantah. "Posesif sekali ya. Baiklah tuan putri, aku melakukannya untukmu."


Dikecupnya kening istrinya itu lumayan lama, diusapnya pipi mengembung Mina karena kesal. Selepas kecupan kening terlepas, Vano beralih mencium pipi mengembung itu berkali-kali hingga sukses membuat Mina tertawa.


"Sepertinya aku akan mengingkari ucapanku. Ayo buatkan aku Vano junior."


Setiap perempuan manapun ditanya apa yang diinginkan dari sikap seorang lelaki, pasti serentak menjawab Bertanggung jawab. Selain itu juga semua perempuan juga menginginkan lelaki romantis, menyiapkan kejutan-kejutan kecil yang membuat detak jantungnya memburu, membuat perutnya digelitiki ribuan kupu-kupu.


Fabian tak perlu repot menyiapkan ini dan itu untuk bisa tampil sempurna dan menjadi sempurna bersama Selsa. Hanya mengenakan setelan formal dengan sisiran surai yang manly, Fabian terlihat lebih menawan. Belum lagi air atar aroma lily terbaru miliknya semakin membuat pesona Fabian melebar kemana-mana. Malam ini, diterangi beberapa cahaya lilin, Fabian menyuarakan kembali cintanya kepada Selsa. Saling menggenggam dan hanyut dalam pandang. Jantungnya saling memburu dan perutnya sukses digelitiki ribuan kupu-kupu. Candle Light Dinner impian Selsa, terwujud pada akhirnya.


Sangat haru, ini bukan acara apapun, kata Fabian hanya makan malam biasa dan tidak seromantis ini. Namun nyatanya lelaki brengsek itu mengingkari ucapannya, lelaki itu menyetting tempat sedemikian rupa hingga membuat Selsa tak berkutik dan memperlakukan Selsa tidak semestinya. Spesial, karena menurut Fabian malam ini Selsalah ratunya.


"Fab tidak perlu seperti ini, ini berlebihan." Lirih Selsa memandangi sekitar. Taburan bunga berwarna putih disetiap lantai menambah kesan romantis. Belum lagi iringan piano dari sudut ruangan, mata Selsa tidak berhenti berkaca-kaca.


"Tidak ada yang berlebihan, semuanya aku lakukan untukmu. Untuk Selsaku," jawab Fabian lembut.


Kalian boleh anggap Selsa lebay atau apapun bahasa anak muda sekarang, tapi ini sungguh membuat Selsa bahagia tanpa ampun. Terakhir diperlakukan seperti ini ya beberapa tahun yang lalu, saat dirinya duduk dikelas dua sekolah menengah atas.


"Terimakasih Fabian. Boleh aku memelukmu?"


"Lakukan, tidak usah meminta ijin."


Selsa beranjak dari tempatnya, setitik liquid bening berhasil terjun darisudut matanya. Dipelukanya Fabian erat, sedikit membungkuk karena posisi Fabian yang duduk, "Jangan menangis, aku tidak mau kamu merusak suasana romantis ini." Canda Fabian ketika melepaskan pelukan dan mengusap air mata Selsa.

__ADS_1


Selsa mendengus kesal dan kembali duduk dikursi yang berhadapan dengan Fabian. "Salah siapa membuat hal yang seromantis ini?" Kesalnya lantas kembali mengusap sisa air matanya sendiri.


"Asal kamu tahu, ini salah satu impianku dulu Fab. Candle light Dinner dan malam ini kamu mewujudkannya, terimakasih."


"Benarkah? Wah apa itu artinya aku lolos?"


"Lolos apanya?"


"Calon suami."


Selsa tercengang, Selsa rasa ini adalah obrolan serius dari Fabian untuknya. Kemarin-kemarin ia boleh mengira kalau itu hanya candaan, tapi malam ini tidak mungkin, Selsa yakini itu. "A-ah maaf, mungkin itu pembicaraan yang terlalu sensitif," gagap Fabian, "eh ini coba pasta buatanku, spesial untukmu." Ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Selsa tersenyum dan mengangguk, "aku tidak yakin kamu yang membuatnya, minta bantuan Chef ya?" Tebak Selsa masih ragu.


Fabian membelalak, parasnya dibuat angkuh dan menggeleng. "Tidak sama sekali. Aku rela menatap ponsel sampai kedua mataku pedih, hanya karena memandangi resep dan membuatkan pasta untukmu." Terangnya.


"S-serius? Astaga Fabian tidak sampai segitunya juga!" Menutup mulut tak percaya, hanya sekenjap lalu tangannya menggenggam erat tangan Fabian yang ada diatas meja.


Senyumnya melebar, berusaha menguasai detak jantung yang menggila, Fabian mengusap kepala Selsa lembut. "Tidak apa-apa yang penting bisa membuatmu senang."


"Bisa saja kamu."


Satu suapan Fabian layangkan pada Selsa, tak henti-henti keduanya tersenyum lebar karena malam ini adalah malam bahagianya. "Bagaimana rasanya?" Fabian menemuan raut Selsa berubah, senyumnya sedikit luntur. Apa rasanya tidak enak?


"T-tidak enak ya?" Tanya Fabian was-was.


Selanjutnya gumaman kagum dan tawa renyah Fabian lihat dari Selsa. Perempuannya menyukai masakannya, "Sumpah ini kamu yang membuat semuanya? Fabian astaga ini enak sekali, ah aku tidak yakin kalau kamu yang membuatnya."


"Tanyakan saja pada Chef didapur,"


"Iya-iya aku percaya. Mulai saat ini kamu yang bertugas memasak di apartemen. Biar aku saja yang bekerja." Canda Selsa membuat Fabian terkekeh lucu.


"Mana bisa seperti itu? Aku yang seharusnya bekerja, yang mencari nafkah kan harusnya lelaki."

__ADS_1


"Memangnya kamu suamiku?" Cibir Selsa.


Meletakkan kembali piringnya, Fabian emngangjat tangan Selsa untuk dikecupnya lama. "Tunggu saja." Pungkasnya membuat Selsa ingin berteriak.


__ADS_2