
Vano dan Mina memberikan senyuman singkat pada seorang perempuan fashionable didepannya. Tak lupa mempersilahkan untuk duduk dan menikmati hidangan yang sudah dipesannya.
"Ada apa Van tiba-tiba kamu minta bertemu? Sesuatu yang penting?"
Nada tanyanya terkesan sensual, namun memang begitulah khas perempuan itu jika berbicara. Tapi hal aneh Mina rasakan dan untuk itu ia berdeham lumayan keras, "Ehem."
Vano yang tak enak seketika memperkenalkan Mina pada perempuan yang bersebrangan dengannya, "Za ini istriku, Mina, maksud pertemuan ini aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Oh baiklah, tanyakan saja. Dan Mina, aku Cynza,"
Aqiylah Cynza, perempuan yang merupakan koleksi dari Fabian selama bertahun-tahun, perempuan yang menyenangkan Fabian dalam masalah biologis.
"Aku tidak maksud berperasangka buruk padamu, maaf kalau ini sedikit menyinggung, apa kamu yang melakukan teror pada kekasih Fabian?" Vano menatap Cynza ragu, lantas berujar tak enak.
Kening Cynza mengerut tak paham, "Hah? M-maksud kamu teror apa?" Tanyanya kembali dengan penasaran.
Mina yang memang modelnya tak bisa basa-basi seketika menatap Cynza kesal, "Aku mohon kerjasamanya, kalau memang kamu yang melakukan teror pada kekasih Fabian; berhenti." Katanya ketus.
Cynza mendadak gagu. Tergagap menghadapi kata ketus Mina yang seakan emnuduh bahwa semua ini ulahnya. "T-tidak Mina, aku tidak paham dengan ucapan kalian. Aku saja kebetulan baru beberapa hari di Indonesia, jadi-"
"Baiklah maafkan aku kalau ini menyinggung, tapi akhir-akhir ini kekasih Fabian mendapati teror seperti ancaman. Aku sempat berfikir kalau itu salah satu dari mantan kekasih Fabian, maka dari itu aku memintamu bertemu," sela Vano tak enak. Mungkin benar kalau ini tidak ada hubungannya dengan Cynza, karena Vano tahu sendiri perempuan itu seperti apa.
Cynza memasang raut sendu. Dari dulu dirinya selalu disangkut pautkan dengan kehidupan lelaki yang pernah ada bersamanya, memangnya Cynza selicik itu?
"Vano, Mina, aku tidak selicik itu. Walaupun Fabian meninggalkanku begitu saja, aku tidak mungkin melakukan hal keji yang akan merugikan banyak pihak. Ya terkadang aku memang masih berhubungan dengan Fabian, tapi hanya sebatas hubungan biasa, pertemanan. Kalian sudah menemui mantan kekasih Fabian yang lain?"
"Za kalau aku menemui semua kekasih Fabian tidak akan selesai dalam beberapa hari, kamu tahu sendiri mantan kekasihmu itu mempunyai banyak koleksi."
"Iya juga. Tapi kalau menurutku kalian harus menyelidiki dua orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Fabian, Yumi dan Nadia, setahuku Fabian mempunyai ikatan lebih dengan kedua perempuan itu."
Mungkin benar, kenapa Mina tak langsung saja menanyakan kepada Nadia dan juga Yumi yang memang dekat dengan Fabian? Vano pun sama, memikir beberapa kali dan memang benar yang paling dekat adalah Yumi dan Nadia.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi kembali lagi mengingat keduanya sangat baik kepada Fabian, apa setega itu mereka menghancurkan kebahagiaan Fabian?"
"Obsesi. Kalian tahu bagaimana cara kerja orang yang sedang terobesesi, sampai matipun akan melakukan apa saja asal ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Van kadang apa yang kita lihat baik belum tentu baik, dan apa yang kita lihat buruk belum tentu buruk."
"Apa kamu mempunyai nomor ponsel Nadia?" Tanya Mina.
"Iya,"
"Kirimkan pada Vano, selesai ini aku dan Vano akan menemui Nadia." Sambungnya tanpa bantahan.
"Baiklah."
Vano menatap Cynza tak enak, memberikan senyum tulus dan meminta maaf atas tuduhan yang dilayangkannya. "Cynza Terimakasih waktunya, maaf mengganggu waktu luangmu dengan pernyataan menyinggung seperti tadi."
"Tidak apa-apa Van? Kalau terjadi sesuatu hubungi saja aku, siapa tahu bisa membantu."
"Pasti Za, aku dan Mina pergi dulu. Tenang saja makanannya sudah kubayar."
"Oh iya Van aku lupa, beberapa hari aku akan menikah, jangan lupa datang bersama istrimu yang cantik itu. Kebetulan bertemu dengan dirimu disini, tapi aku lupa membawa undangannya."
"Tidak apa-apa dan itu tidak masalah, aku akan datang bersama istriku yang cantik ini."
"Baiklah, terimakasih sebelumnya. Kalian bisa meninggalkan tempat ini dan pergi ke rumah Yumi atau Nadia."
Vano dan Mina mengangguk, bergegas menuju tempat yang disarankan karena ini adalah hal yang penting karena berurusan dengan hati. Fabian-Selsa, kalian harus tahu bahwa Mina dan Vano sudah sangat jauh membantu menyelesaikan masalah kalian.
__ADS_1
●Sweet (ex) Boyfriend●
Brak!
Selsa memunguti beberapa barang belanjaannya yang terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. Selesai mengemasi belanjaan dalam troli, kepalanya mendongak menatap siapa yang menabraknya, detik itu matanya membelalak tak percaya. Meluruskan badannya dan menatap tajam perempuan yang ada didepannya.
"Matamu dimana sampai menabrakku seperti tadi?" Bentaknya tak terima.
"Maaf, maaf Selsa. Aku tidak tahu itu dirimu, aku juga sedang buru-buru tadi."
"Jangan banyak alasan! Kamu pasti masih tidak terima kalau aku yang dipilih Fabian kan? Kamu pasti ingin balas dendam padaku karena Fabian sekarang tidak bersamaku?" Tidak tahu kenapa Selsa selalu emosi jika bertemu dengan perempuan didepannya ini. Ingin rasanya memukuli perempuan itu secara membabibuta karena perlakuannya saat itu.
"B-bukan begitu Selsa. Ya memang aku jahat padamu waktu itu, mengataimu ini dan itu, aku minta maaf. Aku sudah berubah dan benar-benar melepaskan Fabian untuk dirimu."
"Kamu pikir aku segampang itu untuk percaya, Yumi?"
Yumi. Perempuan ular yang dulu suka sekali mencari gara-gara dengan Selsa. Mengingat pernah mengatai Selsa jalang, bukan hal yang gampang untuk memaafkan.
"Terserah padamu Selsa! Kebetulan bertemu dirimu disini aku ingin meminta maaf, maafkan kelakuanku yang dulu kurang ajar denganmu." Ujarnya tulus.
Selsa memandangi Yumi sedikit tak percaya, dalam hati berbisik, angin apa yang menerpa Yumi hingga jadi seperti ini? Selsa pikir bukan hal yang gampang bagi Yumi melupakan Fabian begitu saja, karena Selsa melihat ada cinta yang besar di mata Yumi setiap kali memandang Fabian. Tapi entahlah, jika memang berubah Selsa sangat bersyukur. Setidaknya hubungannya dengan Fabian tidak ada yang mengganggu.
"Tidak salah meminta maaf padaku Yumi? Ini pura-pura atau bagaimana?" Selsa tertawa jenaka namun mengejek.
"Aku tidak sedang berpura-pura, untuk masalah percaya atau tidak terserah kamu. Aku melepaskan Fabian begitu saja karena aku pikir akan sia-sia karena cinta Fabian padamu begitu besar." Jawabnya seraya terus meyakinkan.
Selsa pura-pura mengusap peluh dan mengibaskan rambutnya angkuh, "Baguslah kalau kamu berubah, setidaknya hubunganku dan Fabian tidak ada lagi yang merecokinya. Hanya menyingkirkan nenek sihir satu bernama Nadia itu." Ujarnya pahit ketika menyebut nama Nadia.
"N-nadia? Memangnya siapa dia? Kekasih baru Fabian?"
Yumi rasanya ingin terkikik geli namun ditahan mati-matian, "Y-ya maaf, aku reflek bertanya tadi. Em-mau minum kopi bersamaku?" Tawarnya.
"Tenang saja ini tidak ada maksud apa-apa, hanya aku berharap kita bisa menjadi seorang teman." Sambung Yumi meyakinkan.
"Bukan ada maksud lain? Seperti mencampuri kopiku dengan sianida atau semacamnya?"
"Tidak sama sekali Selsa, kenapa buruk sekali pikiranmu tentangku."
"Ya wajar pikiranku buruk tentangmu, mengingat perlakuanmu kemarin-kemarin sungguh ingin ku bumihanguskan saja."
Yumi terkekeh singkat, "Hehehe yasudah ayo. Aku yang akan mentraktir belanjaanmu juga kopi kita nanti." Ajaknya menuju kasir.
"Baiklah. Awas saja kalau mencampuri kopiku dengan hal aneh-aneh, kamu orang pertama yang ku hantui."
●Sweet (ex) Boyfriend●
"Baiklah meeting kita lanjutkan besok, sekarang kalian bisa kembali ke ruangan kalian."
Empat karyawan, dua perempuan dan dua cowok, mengangguk patuh. Membawa berkas laporan juga beberapa data kembali ke ruangannya masing-masing, hanya meninggalkan seorang lelaki dan perempuan yang kembali berkutat dengan sebuah laptop.
"Jess bagaimana, Aluna sudah mulai syuting untuk iklan terbaru kan?"
Jessica selaku sekertaris Fabian mengangguk, melihatkan beberapa foto dan hasil dokumentasi dari orang lapangan.
"Aluna sudah mulai syuting dan menurut orang lapangan tidak ada kendala apapun,"
"Baguslah kalau begitu, sekarang kamu cek kembali bagaimana keadaan disana. Kalau ada sesuatu tolong laporkan pada saya."
__ADS_1
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi."
Fabian mengangguk, membiarkan sekertarisnya meninggalkan dirinya dalam ruangan besar ini. Fabian menutup laptopnya secara kilat, seri bahagia diwajahnya tak bisa lagi disembunyikan. Hari ini dia akan menjemput Selsa disalah satu pusat perbelanjaan.
Meninggalkan kantor dan mengendarai mobil secepat kilat, hanya butuh waktu lima belas menit ia sampai disana. Mendapati Selsa berdiri dengan perempuan yang sangat amat dikenali.
"Selsa, ayo pulang!" Teriak Fabian dari arah mobil. Ia sengaja tak mau turun dan bertemu dengan Yumi.
Selsa yang mendengar teriakan Fabian tersenyum dna mengangguk, tak lupa berpamitan dengan Yumi disampingnya.
"Yum aku duluan ya, Fabian sudah datang. Untuk kopi dan belanjaanku, terimakasih."
"Iya Selsa sama-sama. Aku juga terima kasih karena sudah memaafkanku dan mau menjadi temanku."
Yumi mengangguk tangannya terangkat menepuk pundak Selsa beberapa kali, "Hati-hati Selsa. Kapan-kapan aku akan mengajakmu minum kopi lebih banyak."
"Aku pergi dulu Yum, permisi." Selsa mengangguk menyetujui. Meninggalkan tempat dengan tergesa.
Prinsip Selsa tak melulu ribet, memaafkan orang yang memang sudah mau dan berani meminta maaf lantas berteman dengan orang yang dulu dianggap lawan bukanlah hal yang keji. Selagi orang itu baik dengan dirinya, Selsa juga akan baik. Sesimpel itu.
"Kenapa kamu bisa bersama dia?"
Selsa menutup pintu mobil agak keras, mengalihkan atensi kepada Fabian. Senyumnya luntur berganti raut bingung, "Fab aku dan Yumi sudah berteman." Ungkapnya antusias membuat Fabian menatapnya tajam.
"Apa yang kamu fikirkan hingga mau berteman dengan perempuan licik seperti dia?" Tanya Fabian tajam.
Selsa sepenuhnya mentap Fabian yang menunjukkan reaksi datar, "Fabian please jangan memikirkan hal jelek seperti itu, Yumi sudah meminta maaf padaku. Dia tidak seburuk itu sayang." Ujar Selsa lembut.
"Tidak seburuk itu? Selsa aku lebih tahu siapa Yumi dibanding kamu! Aku kenal dia sudah beberapa tahun dan kamu hanya sehari saja, jauhi Yumi Selsa." Pinta Fabian tegas.
"Fab ada apa? Bukankah lebih bagus kalau aku mempunyai banyak teman? Aku bisa berbagi dengan siapa saja,"
"Cukup denganku dan Mina. Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk denganmu, Yumi itu perempuan berbahaya."
Selsa mengembungkan senyum tulus, diraihnya tangan Fabian yang ada di stir mobil. Diganggamnya erat, "percaya padaku Fab, Yumi sudah berubah. Dia sudah mengakuinya sendiri." Cara bicara Selsa tak berapi-api seperti Fabian, tetap lembut dan berusaha memberikan kenyamanan lebih.
"Dan kamu percaya begitu saja? Jangan bodoh Selsa! Bunglon bisa berubah dimana saja untuk mengelabuhi musuh." Cerca Fabian kesal.
"Apa kita bertemu hanya untuk berdebat seperti ini? Untuk apa kamu menemuiku disini? Kalau begitu seharusnya aku tidak usah menelfonmu, lebih baik aku menelfon Sakti-" Selsa menggenggam tangan Fabian hanya dengan tangan kanannya, menyandarkan punggungnyap pura-pura kesal.
"Selsa aku serius. Aku mohon sama kamu, jangan terlalu dekat dengan Yumi." Kata Fabian tegas.
"Hei coba lihat aku," Selsa mengintruksi, "tarik nafas dan hembuskan! Aku tidak mau mempunyai lelaki tempramental seperti ini. Fab aku hanya menjalin niat baik dengan Yumi." Bisiknya lembut.
"Calm down! Aku akan selamanya baik-baik saja karena ada kamu disini. Kalau nanti aku merasa ada yang aneh dan mengganjal, aku akan menjauhi Yumi saat itu juga. Jadi aku mohon, tolong percayakan semua padaku dan biarkan aku berteman dengan dia." Imbuh Selsa.
Fabian tersenyum samar, dipaksakan, dan mengangguk ragu. Dilepaskannya genggaman Selsa lantas diusapnya pelan kepala Selsa dengan sayang, taklupa diciumnya pelipis itu agak lama.
"Mau disini terus atau pulang?"
"Pulang lah sayang,"
"Ya sudah ayo, kumasakkan Chicken Wrap kesukaanmu."
*Chicken wrap?
N-nadia*.
__ADS_1