
Setelah menikmati Weekend bersama, hubungan Fabian dan Selsa bukannya membaik, justru semakin rumit dan tak ada ujungnya. Hampir setiap hari berdebat, tentunya memperdebatkan hal yang tidak penting, membuat Selsa ingin meraup wajah sok tampan seorang Fabian. Hasrat ingin pergi dari Apartemen Fabian semakin menguat, namun ia tahu jika Fabian mempunyai mata-mata dimanapun. Jadi ia harus menggunakan strategi yang pas untuk bisa kabur dari tempat laknat ini.
"Jika aku memintamu tetap disini dan melupakan Laki-laki sialan itu, apa kamu mau?."
"Dia lebih baik darimu Fabian. Yang sialan disini itu kamu, bukan kekasihku."
"Jika aku memintamu tetap disini dan melupakan laki-laki sialan itu, apa kamu mau?." Pertanyaan tetap sama dari Fabian.
Selsa menggeleng, "Aku tidak mau. Aku tetap ingin bersama kekasih ku, sekalipun tubuh ku disini bersama mu."
"Tinggalkan dia. Aku akan membahagiakan mu,"
"Atas dasar apa kamu menyuruhku meninggalkan kekasih ku yang sangat amat ku cintai?."
"Kamu tidak mencintainya. Kamu hanya mencintaiku."
"Percaya diri sekali Tuan satu ini. Bukti apa yang kau peroleh karena terus menyebutkan diriku yang masih mencintai mu?."
Fabian menarik tengkuk Selsa cepat, menempelkan Bibirnya diatas Bibir ranum Selsa. Awalnya hanya menempel, namun sedikit diberi Celah oleh Tuannya, Fabian mengeksplore pagutannya di bibir Selsa. Laki-laki itu tak membiarkan Perempuan dihadapannya saat ini bernafas dengan lancar, Fabian tersenyum ketika Selsa mulai mengerang.
__ADS_1
Tangannya terlepas dari tengkuk Selsa, membawa tangan Perempuan itu agar melingkar indah di pundaknya. Setelahnya, Fabian kembali memperdalam ciumannya. Matanya enggan terpejam, ia menatap Selsa yang juga menatap nya. Rasanya rindu sekali dengan Mata indah itu, dan untuk kali ini Fabian bisa menatap mata indah itu sedekat ini.
Nafasnya terengah-engah, keduanya mrlepaskan pagutan mesra itu. Keningnya bertaut, Fabian dan Selsa sama-sama merasakan hebusan nafas masing-masing. "Ini yang kamu maksud mencintai kekasihmu? Bahkan kamu menikmati ciuman ku Selsa." Ujarnay setangah terengah.
Gawat, Selsa tak boleh kalah dengan Fabian. Ia tak mau di anggap remeh karena menerima ciuman dari Fabian. Ia tak akan membiarkan laki-laki didepannya ini besar kepala karena Selsa membalas ciumannya. Walaupun tak bisa dipungkiri juga, Selsa sangat amat merindukan ciuman itu. Namun Selsa akan mencoba beralibi lagi kali ini.
"Kata siapa aku menikamati ciuman mu? Kau tahu aku seorang model, jadi berciuman dengan siapapun adalah makanan ku sehari-hari. Dan aku hanya terbawa suasana karena kasihan dengan mu Fabian, aku kasihan jika melihat hanya kau yang menikmati ciuman ini. Jadi tidak ada salah nya jika aku membalasnya "
Fabian merasa terhina dengan ucapan Selsa. Ia mendorong tubuh mungil itu hingga terkapar di Sofa panjang yang berada di apartemen nya. Fabian **** tubuh itu, dengan tangan Selsa yang masi melingkar di lehernya. Bahkan Perempuan itu menunjukkan senyum nakal nya disana. "Jangan bermain-main dengan ku Selsa, atau kamu akan menyesal." Kalimat itu, Selsa mendengarnya lagi.
"Siapa yang bermian-main bersama mu? Aku hanya membuktikan kalau aku terbawa suasana jika berciuman bersama mu. Dan aku membayangkan kalau Sakti sekarang yang tengah mencium ku."
Tak memberi ampun, Ciumannya tak lagi selembut beberapa menit yang lalu. Fabian memagut bibir itu kasar. Bahkan dengan sering menggigitnya keras hingga Selsa memekik beberapa kali. Ciumannya beralih, ia menenggelamkan kepalanya diantara ceruk leher Selsa. Perempuan itu memekik sangking kagetnya. Jantungny berdegup, ia salah bermain dengan Fabian. Ia kira jika Fabian hanya bermain dengan Bibirnya, namun tidak. Fabian terdiam disana, menghembuskan nafas panas nya dileher itu hingga Selsa meremang.
Kedua tangan Selsa *** pundak Fabian ketika Bibir laki-laki itu menempel diarea kulit lehernya. Mencari beberapa pasokan udara, Fabian mengalihkan perhatiannya sesaat. Selepas itu ia menyibak rambut Selsa yang menghalangi nya. Alangkah terkejutnya dia mendapati beberapa Tanda merah disana.
"Siapa yang meninggalkan ini?." Tangan Fabian mengusap lembut beberapa bekas yang ada di leher juga pundak Selsa yang tertutup kaos longgar. Tutur katanya menjadi tajam nan tegas.
"Jawab Selsa, siapa yang meninggalkan bekas ini di lehermu?,"
__ADS_1
Sial, aku lupa jika Sakti waktu itu meninggalkan bekas.
"Tentunya kekasihku." Jawab Selsa kuat.
Fabian menggeram kesal, wajahnya kembali ia tenggelamkan disela leher juga pundak Selsa. Hanya menjilati bekas merah yang sebentar lagi memudar itu, namun sedetik kemudian berubah menjadi gigitan ganas. Menggigit ganas lalu menghisapnya kuat, meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana. Fabian merasa tak rela jika ada yang mendahuluinya. Ini Selsanya, hanya untuk dirinya.
Selsa mengerang, saraf nya melemah. Tak berjalan semestinya, Ia semakin mendesis ketika Fabian semakin kuat menggigit kulit lehernya. Beberapa kali memekik ketika Fabian menghisapnya kuat. "Aku tidak akan menghilangkan bekas laki-laki brengsek itu, tapi aku akan menorehkan bekasku juga disini. Aku akan membuatnya lebih merah dan sulit dihilangkan. Kalau bisa justru tidak bisa hilang Sayang." Ujarnya dengan hembusan berat yang semakin terasa dileher Selsa.
Selsa menggeram, tangannya semakin kuat *** pundak kokoh Fabian. Keringat sudah membanjiri paras cantiknya.
Laki-laki itu kembali mengangkat wajahnya dari leher Selsa juga dengan penuh keringat. Fabian tersenyum nakal mendapati Selsa yang memejamkan matanya dengan bibir yang kering, bahkan ia merasakan nafas Perempuan dibawahnya ini terengah-engah.
"Tubuh mu tidak menunjukkan penolakan Sa. Apa masih mau berbohong kalau kamu tidak mencintai ku?." Ujarnya lirih.
Selsa membuka matanya yang sayu, mengamati Fabian yang masih tersenyim diatasnya. Ia membalas senyum Fabian dengan remeh, "Hanya ini keahlian mu? Aku kira melebihi Sakti waktu menyentuhku. Oh Sayang sekali, ciuman dan juga bekas yang kamu tinggalkan tidak sehebat apa yang dilakukan Sakti kepadaku. Sakti yang terbaik untukku."
Selsa kembali merutuki kebodohannya karena menantang Fabian. Nyatanya hanya Fabian yang menyentuhnya selama ini, Sakti bahkan belum penah menyentuh lebih terhadap Selsa. Laki-laki itu hanya memberinya sebatas ciuman mesra, tak lebih. Dan hanya demi mengalahkan Fabian, Selsa rela menyebut nama Sakti disini. Oke setelah ini dirinya akan meminta maaf kepada Sakti karena telah membuat namanya jelek.
Fabian beranjak dari tempatnya, menatap Selsa yang masih terkapar di sofa dengan penampilan yang lumayan berantakan. Laki-laki itu memandangnya dengan sorot kemarahan, menggeram beberapa kali. "Kamu melakukan ini karena ingin membuatku emosi, aku tahu itu. Karena dengan aku emosi, aku akan melakukan apapun yang membuat mu membenciku dan meninggalkan ku. Tidak semudah itu Sa, jangan harap kamu bisa pergi dari apartemen ini. Dan jika kamu berani pergi, aku akan membawamu ke rumah ku. Tinggal disana dan tentunya jauh lebih membosankan."
__ADS_1
Fabian pergi meninggalkan Selsa yang mematung. Siala, batinnya. Berniat membuat Emosi, justru dirinya yang terpancing emosi. Usahanya sia-sia begitu saja, apalagi dia harus merelakan Fabian menciumnya dan meninggalkan banyak bekas yang ada di lehernya. Benar-benar laki-laki sialan nan bajingan si Fabian itu.