
Setelah semalam Tata membawa Surya terbang ke langit ke tujuh, maka pagi ini pun Tata tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya kembali. Semua itu ia lakukan demi meraih targetnya yaitu bisa kembali terhubung ke dunia luar, setidaknya melalui sambungan telpon selular.
"Selamat pagi" Tata tersenyum manja saat Surya membuka matanya.
Tidak peduli dengan harga diri, saat ini bagi Tata tidak ada lagi yang namanya kehormatan, karena sejak ia menginjakkan kaki di rumah mewah ini, harga diri dan kehormatannya sebagai seorang wanita sudah lenyap tak berbekas sama sekali.
"Ada apa?" tanya Surya dengan senyumnya yang menawan.
"Menurutmu?" Tata terus menampilkan senyumnya.
"Astaga, kenapa dia tampan sekali saat bangun tidur begini? tidak Tata, jangan, tidak boleh, ingat misimu, jangan pakai hati dengan pria dingin ini!" Tata berdialog dengan dirinya sendiri.
"Kau ini kenapa hemmmm?" Surya bertanya dengan sangat lembut.
"Kenapa dia begitu lembut? kenapa sikapnya jika hanya berdua saja denganku selalu berbanding terbalik dengan sikapnya sehari-hari? astaga Tata jaga hatimu!" Tata merutuki hatinya yang seolah berkhianat kepada otaknya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Surya menatap balik dengan penuh damba kepada Tata.
Tidak bisa ia pungkiri, setelah sering menghabiskan waktu dengan sang suami, Tata yang hanyalah manusia biasa pun akhirnya terbawa suasana, tanpa ia sadari Surya selalu membuatnya terbang melayang.
__ADS_1
"Katakan apa yang sedang kau inginkan?" Surya akhirnya bertanya.
"Eh apa?" Tata terkejut.
"Aku tau kau sedang menginginkan sesuatu kan?" Surya menatap mata indah sang istri dengan lembut, membuat hati Tata kembali goyah.
"Ah tidak, aku tidak ingin apa-apa" Tata menutupi rasa groginya dengan meletakkan kepalanya di dada bidang sang suami karena Surya seperti bisa membaca pikirannya.
"Jangan berbohong, aku tau kau merayuku karena sedang menginginkan sesuatu!" Surya menarik Tata agar menatapnya.
"Dari mana kau bisa tau?" tanya Tata pada akhirnya dengan ragu-ragu.
"Apa boleh aku meminta sesuatu?" akhirnya Tata memberanikan diri.
"Katakanlah, selagi masih dalam batas wajar dan aku bisa memberikannya, pasti akan aku berikan!" Surya mengelus pipi mulus Tata.
"Emmmm apa boleh aku memperoleh ponselku kembali?" Tata akhirnya memberanikan diri.
"Hahahahahaha" Surya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? apa permintaanku aneh?" reaksi Surya diluar dugaan Tata.
"Kau itu lucu sekali, kenapa tidak bilang langsung saja? kenapa harus merayuku segala hanya untuk mendapatkan ponselmu kembali?" Surya mencubit pipi Tata dengan gemas.
"Aku takut kau marah" Tata memasang wajah memelas.
"Selama kau bersikap patuh dan mengikuti semua kemauanku, aku tidak akan marah" Surya menatap lembut.
"Apa kau pernah melihatku marah saat kau patuh?" imbuh Surya.
"Tidak" Tata menggeleng cepat mencari aman.
"Astaga Tata, kalau tau dia akan dengan mudah memberimu ponsel, kenapa kau harus susah payah merayunya dulu?" batin Tata merutuki kebodohannya sendiri.
"Nanti siang aku akan meminta orang mengantarkan ponsel keluaran terbaru ke rumah, tapi ingat pakai ponselmu dengan baik, jangan pakai untuk hal-hal yang tidak aku sukai!" Surya memperingatkan.
"Iya, aku hanya ingin berkomunikasi dengan teman-temanku saja, aku merindukan sahabatku" jawab Tata untuk meyakinkan Surya.
"Ya sudah, aku mau mandi, aku sudah terlambat!" Surya kemudian berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Pagi ini komunikasi diantara keduanya cukup berjalan dengan baik. Tata yang awalnya tidak yakin bahwa Surya akan mengabulkan permintaannya justru terkejut dengan sikap Surya yang berbanding terbalik.