
"Kau mau kemana pagi-pagi begini?" Surya yang melihat Tata sudah rapi bertanya saat mereka hendak sarapan bersama.
"Aku akan belanja untuk keperluan cafe" jawab Tata sambil mengunyah sarapannya.
Sejak Tata kembali bekerja, sang pemilik cafe memang memberikannya tugas tambahan untuk mengurus semua transaksi pembelian bahan dasar makanan yang dibutuhkan oleh Cafe. Ia dipercaya oleh atasannya itu karena kejujurannya selama bekerja dan juga kejujurannya akan kondisi kehidupan pribadinya. Sang atasan yang prihatin dengan kondisi Tata yang hamil tanpa suami membuatnya merasa iba dan memberikan tugas tambahan agar Tata memiliki gaji lebih untuk ditabung guna persiapan persalinannya kelak.
"Kau belanja sendiri? bukankah barang yang dibeli sangat banyak? lalu bagaimana kau bisa membawanya dengan perut yang sudah membesar begini?" Surya yang mendengar rencana Tata untuk belanja menjadi sangat kesal.
"Aku hanya menyerahkan catatan keperluannya saja pada toko penyuplai bahan dasar makanan dan kemudian menyerahkan uangnya, kemudian barangnya langsung dikirim ke cafe, jadi bukan aku yang membawanya sendiri!" Tata menjelaskan tugasnya.
"Tapi tetap saja kan kau bekerja dari pagi sampai malam?" Surya protes.
"Memang apa salahnya?" Tata merasa baik-baik saja.
"Kau kan sedang hamil, bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu pada kalian?" Surya mulai cemas.
__ADS_1
"Berhentilah bekerja mulai sekarang!" Surya membujuk Tata.
"Kalau aku berhenti bekerja, lalu bagaimana aku bisa hidup?" Tata menatap Surya dengan tajam.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan tetap memberimu tunjangan setiap bulan sebagai bentuk tanggung jawabku kepadamu" Surya mengingatkan Tata tentang janjinya.
"Aku bukan istrimu lagi, tidak ada lagi kewajibanmu terhadap diriku, jadi tidak perlu repot-repot, aku masih sanggup menghidupi diriku sendiri!" Tata berusaha mandiri.
"Aku ingin berkata jujur, sesungguhnya kita belum bercerai!" Surya akhirnya mengakui kebenarannya.
"Aku belum menyerahkan surat pengajuan cerainya ke pengadilan, jadi status kita sampai detik ini masih sah suami istri!" Surya sudah tidak tahan lagi untuk mengakhiri semua kebodohan yang telah dia lakukan selama ini.
"Kenapa kau begitu mudahnya mempermainkan sebuah ikatan pernikahan yang begitu suci?" Tata mulai kehilangan kendalinya.
"Maaf, aku memang bodoh, selama ini aku terlalu egois hingga tidak bisa berfikir dengan jernih" Surya menatap nanar ke arah Tata.
__ADS_1
"Segeralah selesaikan sarapannya, setelah itu kau bisa pulang ke rumahmu karena kondisimu sudah sehat kembali!" Tata berkata dengan datar tanpa ekspresi.
"Bisakah aku tinggal di sini bersamamu dan anak kita?" pria itu memohon dengan sepenuh hatinya.
"Aku harus bekerja, cepat habiskan makananmu!" entah mengapa hati Tata menjadi semakin kacau balau mengetahui semua fakta ini.
"Aku antar kau bekerja ya?" Surya tetap memaksa untuk bisa terus berdekatan dengan Tata.
"Ck" Tata hanya bisa berdecak tanpa menolak atau mengiyakan.
Surya, pria yang ia benci karena sudah memaksanya menikah tanpa ada rasa cinta demi menebus hutang sang kakak, namun juga yang secara perlahan sudah mulai mengisi hatinya dengan semua perlakuan lembutnya, sangat berhasil membuat dunianya begitu jungkir balik.
Disatu sisi Tata sangat marah karena Surya dengan mudahnya memaksanya menikah, kemudian mengajukan perceraian, manum pada akhirnya ia juga yang membatalkan perceraian mereka begitu saja. Disisi lain ia merasa senang karena Surya tidak jadi menceraikannya, yang artinya secara status mereka masih sah suami istri, dengan kata lain ia hamil dalam status masih bersuami.
"Apa yang aku harus lakukan sekarang? aku harus bersikap bagaimana padanya?" Tata bermonolog di dalam hatinya.
__ADS_1