
"Mama?" Tata yang sedang memasak di dapur terkejut saat melihat nyonya Ami datang ke rumah menjengung dirinya.
"Sayang hiks hiks" tanpa basa basi nyonya Ami langsung memeluk erat menantunya.
"Ma, mama kenapa menangis?" Tata yang melihat nyonya Ami meneteskan air mata menjadi bingung.
"Maafkan mama yang selama ini sudah jahat kepadamu Tata" air mata wanita itu lolos tak terbendung.
"Mama bicara apa? tidak ada yang perlu dimaafkan ma" Tata menghapus air mata dari wajah sang mertua.
"Mama sadar kalau selama ini mama telah salah menilaimu, mama pikir dulu kau menikah dengan Surya hanya karena ingin hartanya saja, mama sangat bodoh karena tidak bisa melihat bahwa kalian berdua memang ternyata saling mencintai dengan tulus tanpa memikirkan soal harta" perasaan menyesal itu kembali menyeruak di hati nyonya Ami.
Belakangan ini setelah kelahiran Mentari, Surya terlihat berubah menjadi pribadi yang sangat jauh berbeda di mata sang mama. Sikap dingin dan cuek yang selama ini ia tunjukkan berubah menjadi lebih hangat dan penyayang. Setiap kali Surya berkunjung ke rumah sang mama, ia tanpa segan menceritakan bagaimana hidupnya kini sangat bahagia setelah Tata memberikannya seorang anak. Hal itu tentu saja jadi menyadarkan sang mama bahwa Tata memang adalah wanita yang tepat mendampingi putranya. Kesederhanaan dan kelemahlembutan Tata ternyata mampu mencairkan hati Surya yang begitu dingin.
"Ma, mama tidak pernah menyakitiku sekalipun, aku tidak pernah merasa mama jahat kepadaku, jadi mama tidak perlu minta maaf ya" Tata menggenggam tangan nyonya Ami dengan erat.
"Terima kasih Tata, kau memang sangat baik" wanita itu benar-benar menunjukkan rasa sesalnya yang mendalam.
__ADS_1
"Sudah ya ma, jangan diingat-ingat lagi hal-hal yang buruk, sekarang lebih baik kita pikirkan yang baik-baik saja untuk kedepannya, kan sekarang mama sudah punya cucu" kata sang menantu dengan wajah tulusnya.
"Iya sayang, oya dimana cucu mama?" Nyonya Ami pun kemudian mengedarkan pandangannya mencari Mentari.
"Dia sedang bermain di taman belakang sama papanya" jawab Tata sambil menunjuk ke arah taman.
"Kalau begitu mama ke taman belakang dulu ya" nyonya Amin bersemangat ingin melihat cucunya yang sudah hampir satu bulan lahir namun belum pernah ia jenguk sama sekali.
"Biar Tata temani ya ma" Tata melepaskan celemeknya.
"Mbak Alya, tolong lanjutkan ya, ini tinggal menunggu matang saja" Tata memberi instruksi kepada sang asisten rumah tangga.
"Terima kasih" Setelah itu mereka berdua pun berjalan ke arah taman belakang.
"Menta, cucu grandma sayang" Nyonya Ami berkaca-kaca saat melihat betapa cantiknya cucu perempuannya itu.
"Mama?" Surya terkejut ketika sang mama datang sambil bergandengan tangan dengan Tata.
__ADS_1
"Boleh mama gendong?" nyonya Ami menatap Surya, sementara Surya menatap Tata untuk meminta persetujuan.
"Mama kan grandma nya, tentu saja boleh" Tata tersenyum sambil memberi kode kepada sang suami agar menyerahkan putri mereka kepada grandmanya.
"Cantiknya cucu grandma" lagi-lagi air mata nyonya Ami lolos saat ia menggendong sang cucu untuk yang pertama kalinya.
"Sepertiny Menta sangat senang digendong sama grandma, dari tadi senyum terus" Tata membesarkan hati sang ibu mertua.
"Andaikan waktu bisa diputar, mama pasti akan mendampingi kehamilanmu Tata" nyonya Ami benar-benar merasa menjadi ibu yang sangat tidak berguna.
"Maaaa, sudah ya, jangan diingat-ingat lagi, kan sekarang mama sudah bersama Menta, mulai sekarang ayo kita hidup bersama dengan bahagia" Tata menghapus air mata nyonya Ami kembali. Sementara Surya yang melihat adegan tersebut begitu terharu. Ia tidak menyangka jika hati sang mama bisa luluh dan berubah drastis.
"Permisi nyonya, makan siangnya sudah siang" Alya memberitahu Tata.
"Baik mbak, terima kasih ya" jawab Tata.
"Ayo ma, kita makan bersama" Tata mengajak sang ibu mertua masuk ke ruang makan.
__ADS_1
"Iya" jawab wanita itu.
Mereka bertiga pun kemudian makan dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Setelah sekian lama sang mama tidak mengakui keberadaan Tata sebagai seorang menantu, akhirnya kini ia bisa menerima Tata, bahkan meminta maaf terlebih dahulu.