
"Kita mau kemana lagi sekarang?" Surya bertanya kepada Tata saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Pulang" jawab Tata dengan singkat.
"Apa sudah selesai semuanya?" Surya bertanya lagi.
"Hemmm" Tata masih malas berbicara panjang lebar.
"Kau tidak lapar?" tanya Surya sambil menoleh ke arah sang istri.
"Lihat ke depan kalau sedang menyetir!" Tata tidak menjawab pertanyaan Surya.
"Anak papa lapar tidak? kita makan dulu yuk biar kamu cepat besar" Surya kini membujuk dengan cara mengelus perut buncit sang istri.
"Kau mau makan apa?" Surya mengelus pipi Tata dengan lembut.
"Terserah" jawabnya singkat.
Karena tidak mendapat jawaban dari Tata maka Surya akhirnya memilih membawa sang istri ke restoran paling mewah dan mahal yang ada disekitar sana.
"Kenapa disini?" Tata protes.
"Bukankah katamu tadi terserah?" Surya menjawab dengan polos.
"Tapi kan tidak perlu ke tempat semahal ini!" bagi Tata yang belum terbiasa menjadi orang kaya, restoran itu adalah tempat yang sangat menyeramkan.
"Sayang, demi kau dan anak kita, jangankan makan di restoran ini, kalau perlu restorannya pun aku beli sekalian" Surya menghadap ke wajah Tata.
__ADS_1
"Ck, sombong sekali!" Tata berdecak kesal.
"Bukan sombong, aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua!" Surya menunjukkan wajah sungguh-sungguh.
"Dengarkan aku, selama ini aku sudah terlalu banyak dosa padamu dan anak kita, jangankan seluruh hartaku, nyawaku pun akan aku berikan kalau kau memintanya!" Surya mengecup tangan Tata.
"Ya Tuhan kenapa dia membuatku berdegup kencang, aku mulai goyah, tembok pertahananku hancur karena ucapannya barusan!" Tata bermonolog di dalam hati.
"Ayo kita turun" Surya membantu Tata melepas sabuk pengamannya, membuat ibu hamil itu terkesiap dari lamunannya.
Mereka berjalan masuk ke dalam restoran dengan bergandengan tangan. Surya tidak melepaskan momen berharga ini begitu saja. Ia memanfaatkannya dengan terus menempel sedekat mungkin dengan Tata.
"Anak papa mau makan apa hemmm?" Surya mengelus perut Tata.
"Apa menu yang paling spesial dan mahal di sini?" Surya bertanya kepada sang pelayan.
"Aku pesan semua itu, cepat sajikan karena anak dan istriku sudah lapar!" Surya menunjukkan sisi arogansinya kepada sang pelayan.
"Baik, saya akan siapkan segera" sang pelayan kemudian berpamitan.
"Kau ini masih saja sama arogannya, tidak bisakah bersikap lebih ramah pada orang lain meskipun dia hanya seorang pelayan?" Tata menggerutu melihat betapa Surya selalu bersikap seenaknya.
"Sayang, akuuuu,,," entah mengapa belakangan ini Surya selalu saja tidak bisa menjawab semua perkataan Tata jika wanita itu sudah mengomel.
"Jadilah pribadi yang lemah lembut kepada sesama!" Tata sudah mulai bersikap seperti layaknya seorang istri yang suka mendominasi kehidupan pribadi suaminya.
"Maaf, baiklah aku akan berubah kalau itu bisa membuatmu bahagia" Surya berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Jangan berubah karena terpaksa oleh seseorang, berubahlah karena dirimu ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" Tata masih bersikap dingin.
"Iya, aku janji akan berubah menjadi lebih baik" Surya hanya bisa pasrah dengan semua yang dikatakan sang istri. Baginya kini semua perkataan Tata adalah layaknya titah dari seorang baginda ratu yang harus dilaksanakan tanpa adanya penolakan atau bantahan sedikit pun.
"Permisi tuan, ini makanannya" sang pelayan menyodorkan semua makanan mewah itu ke hadapan mereka berdua.
"Apakah ada lagi yang ingin dipesan tuan?" pelayan itu masih melayani dengan setia.
"Tidak ada, terima kasih ya" Surya bersikap sangan manis, membuat Tata hampir tergelak melihat perubahan sikap suaminya yang sangat drastis dari yang sebelumnya.
"Baik, kalau begitu selamat menikmati hidangannya, saya permisi dulu" sang pelayan mengundurkan diri.
"Ayo sayang dimakan, kau harus banyak makan makanan bergizi tinggi ya supaya tetap sehat" Surya yang sengaja duduk sejajar dengan sang istri mengelus perut itu. Bagi Surya kini perut itu layaknya medan magnet yang selalu menariknya dengan kuat untuk terus menempel dan tidak bisa lepas lagi.
"Kau tidak makan?" Tata melihat ke arah Surya yang masih saja sibuk mengelus perutnya tanpa ada niatan sama sekali untuk makan.
"Kau saja, aku hanya ingin kalian sehat" Surya benar-benar memanjakan Tata.
"Ini, buka mulutmu!" Tata kemudian secara spontan menyuapi Surya.
"Terima kasih sayang" Surya tersenyum bahagia.
Ia tidak pernah menyangka kalau Tata akan bersikap seperti itu. Meskipun masih dengan perkataan yang ketus, namun tetap saja perhatian Tata sangat besar terhadapnya.
"Ya Tuhan, salahkan kalau aku mulai jatuh cinta pada pria ini? pria yang dulu begitu aku benci karena sudah memaksaku menikah dan kini malah menjadi ayah dari bayi yang sedang aku kandung!" batin ibu hamil ini begitu bergejolak.
Tanpa disadari oleh Tata, hatinya begitu berbunga-bunga. Ia merasa seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Perhatian dan pengorbanan yang ditunjukkan Surya kepadanya beberapa ini begitu membuatnya luluh. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria angkuh dan arogan seperti Surya rela merendahkan diri dengan mengikutinya berkeliling pasar tradisional yang jauh dari kata nyaman. Bahkan Surya bisa bersikap sangat ramah kepada pelayan restoran setelah dirinya menegur untuk bersikap lebih baik.
__ADS_1