My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)

My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)
Masih Ragu


__ADS_3

"Apa kau sudah baikan?" Tata meletakkan telapak tangannya ke dahi Surya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Iya, sudah jauh lebih baik" Surya mengangguk.


"Kalau begitu pulanglah dan beristirahat dengan nyaman di rumahmu" Tata to the point mengusir Surya.


"Apa kau mengusirku?" Surya terlihat kecewa.


"Aku tidak mengusir, hanya saja disini pasti tidak nyaman untukmu, rumahku kecil dan kamarnya sempit, kasurnya pun keras" Tata berkata jujur.


"Tapi kau merawatku dengan sangat baik, kalau aku di rumah tidak akan ada yang bisa merawatku seperti dirimu" Surya berusaha mencari celah.


Tata diam dan menatap Surya dengan tajam beberapa saat.


"Baiklah, istirahatlah disini sampai kau benar-benar sehat, setelah itu kau harus pulang!" Tata akhirnya tidak tega.


"Terima kasih" Surya tersenyum bahagia.


"Hemmm" Tata tidak merespon dan langsung keluar dari kamar untuk menyiapkan makan siang Surya.

__ADS_1


"Ini makan siangnya" Tata menyodorkan piring ke arah Surya.


"Bisakah kau menyuapi aku seperti tadi pagi?" Surya memasang wajah memelas.


"Ck, dasar manja" Tata berdecak kesal karena tidak bisa menolak keinginan orang sakit.


"Buka mulutnya" kemudian ia menyodorkan sedok berisi nasi ke depan mulut Surya.


Meskipun suasana hening karena baik Tata maupun Surya tidak berkata satu patah kata pun, namun terlihat bahwa hubungan keduanya sudah lebih mencair. Tata tidak lagi dingin dan ketus. Meskipun belum memaafkan Surya seratus persen, tapi kini sikapnya jauh lebih lembut.


"Ini obatnya, aku rasa setelah ini kau akan benar-benar sembuh karena sudah beberapa kali minum obat" Tata memberi kode agar Surya segera pulang setelah sembuh nanti.


"Kau kenapa?" Tata panik melihat Surya hendak mengeluarkan isi perutnya.


"Tidak aku baik-baik saja, hanya agak sedikit mual, mungkin sindrom simpatikku kumat lagi" akting Surya patut diacungi jempol, sesungguhnya ia sudah jarang mengalami ini lagi sejak dua minggu lalu, namun demi mencari celah bisa rujuk kembali dengan Tata, ia pun rela berbohong.


"Sindrom simpatik?" Tata mengernyit.


"Iya, sudah hampir dua bulan belakangan ini aku selalu merasa mual dan ingin mengeluarkan isi perutku di setiap pagi menjelang siang hari, aku sudah periksa ke dokter tapi tidak ada masalah apapun, lalu kata tuan Mike rekan bisnisku mungkin saja itu gejala sindrom simpatik, yaitu gejala ngidam yang dialami suami ketika istrinya sedang mengandung. Awalnya aku tidak percaya karena tidak tau kalau kau hamil, namun sejak kemarin kita bertemu, aku jadi yakin bahwa aku memang terkoneksi denganmu dan anak kita meskipun aku tidak tau kau hamil. Makanya aku sangat yakin kalau ini adalah anakku sejak pertama kita bertemu lagi, aku percaya ini adalah benih cintaku yang tertanam di rahimmu" Surya mengelus dan mengecup perut Tata yang buncit, sementara Tata hanya diam saja tanpa reaksi mendengar semua cerita Surya.

__ADS_1


"Anak papa sedang apa di dalam sini? jadi anak yang pintar ya sayang, jagain mama oke, jangan bikin repot!" Surya berbicara dengan lembut di depan perut Tata sambil terus mengelus-elus.


"Berapa usia anak kita sekarang?" Surya menengadahkan wajahnya ke arah Tata.


"Lima bulan" Tata menjawab singkat.


"Jadi kau sebenaranya sudah mulai hamil sejak awal kita menikah?" Surya berbinar-binar, sementara Tata hanya mengangguk.


Surya semakin yakin bahwa bayi di perut Tata memang adalah anaknya karena saat ia berhubungan pertama kali dengan Tata, gadis itu masih suci dan mengeluarkan darah tanda belum pernah terjamah sama sekali. Tata yang tidak pernah keluar rumah pun selalu dipantau oleh Surya melalui CCTV sehingga semua gerak-gerik Tata di dalam rumah tidak luput dari pandangannya. Sangat kecil peluangnya untuk Tata berselingkuh atau menjalin hubungan dengan pria lain. Pun kalau itu terjadi setelah mereka berpisah pastinya kandungan Tata tidak akan sebesar ini.


"Kapan jadwal periksa ke dokter kandungan?" Surya sangat penasaran dengan segala hal yang berhungan dengan calon anaknya.


"Masih dua minggu lagi" jawab Tata dengan datar.


"Aku boleh ikut ya?" Surya memohon.


"Terserah" jawab Tata dengan singkat.


Surya yang menggunakan alasan sakit pun akhirnya bisa memanfaatkan waktunya bersama dengan Tata hingga keesokan harinya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Tata agar mau kembali rujuk dengannya. Meskipun Tata tidak menerima, namun ia juga tidak menolaknya. Tata masih ragu dengan hatinya sendiri, ia mencoba untuk mengikuti takdirnya saja.

__ADS_1


"Biarlah takdir yang menuntunku menemukan rumah bernaung untuk cinta sejatiku kelak!" begitulah batin Tata.


__ADS_2