
Hari-hari berjalan begitu lambat bagi Tata. Sudah genap satu Minggu ia menikah dengan Surya. Tidak banyak hal yang bisa dilakukannya selama ini, ia hanya bisa mengalihkan perhatiannya dengan menonton televisi atau memasak, selebihnya ia hanya akan menghabiskan waktu dengan termenung meratapi nasib buruknya yang harus dengan terpaksa menikahi pria dingin itu dan terpenjara di dalam rumah mewah ini.
"Surya" seorang gadis tiba-tiba saja datang dan duduk di pangkuan Surya saat akhir pekan tiba.
"Mau apa kau ke sini?" Surya bertanya dengan wajah datar.
"Aku rindu padamu!" Gadis itu kemudian melingkarkan tangannya di leher Surya.
"Amel, aku sudah menikah, jadi berhentilah menggangguku!" Surya memperingatkan gadis bernama Amel itu.
"Aku tau, Tante sudah bercerita kepadaku kalau pernikahan kalian hanyalah untuk kau gunakan sebagai tameng agar kau tidak dijodohkan lagi oleh Tante kan?" ucap Amel yang kemudian mencium bibir Surya dengan hasrat tak terbendung.
"Itu bukan urusanmu!" Surya malas menanggapi ocehan gadis itu setelah ia berhasil melepaskan ciumannya.
"Apa kurangnya aku Surya?" Amel kemudian mulai membuka kancing kemeja Surya dan menerobos masuk menyentuh dada bidang itu.
__ADS_1
"Kau tidak kurang satu apapun, tapi sayangnya aku tidak mencintaimu!" jawab Surya dengan tegas.
"Memangnya kau mencintai gadis itu?" Amel merajuk.
"Aku mencintainya atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu!" kemudian Surya berdiri untuk melepaskan dirinya dari sikap agresif Amel.
"Aku tidak akan pernah berhenti sampai aku mendapatkanmu!" Amel berteriak saat Surya sudah berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Sementara Tata yang berdiri di balik pintu penghubung ruang keluarga tempat Surya duduk baru saja dengan dapur tempatnya memasak, dapat mendengar dengan jelas percakapan antara suaminya dengan gadis bernama Amel itu. Kini ia tau kenapa Surya sampai menikahinya, selain sebagai pemuas juga sebagai tameng perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Surya.
"Maaf nyonya, ini bumbunya ingin diapakan?" Alia membuyarkan lamunan Tata tentang rencananya membebaskan diri dari Surya.
"Oh iya maaf, aku lupa, terima kasih ya mbak Alia" Tata menerima bumbu dapur dari tangan Alia.
Setelah mendengar percakapan dua orang baru saja, semangat Tata tiba-tiba muncul. Ia seperti habis mendapatkan durian runtuh. Ide-ide gila bermunculan dibenaknnya untuk dapat melancarkan rencananya terbebas dari ikatan pernikahannya dengan Surya.
__ADS_1
..........
"Sepertinya kau sedang bahagia hari ini?" Surya menatap wajah istrinya yang dihiasi senyum.
"Ah tidak, aku hanya senang karena eksperimen masakanku berhasil" Tata berbohong.
"Memangnya kau masak apa?" Surya mendekati Tata dan memeluknya dari belakang saat ia sedang merapikan tempat tidur mereka.
"Eh, anu aku masak rendang" jawab Tata yang paham jika Surya sudah memposisikan diri seperti ini, maka sebentar lagi pasti akan terjadi pergulatan panas diantara mereka.
"Coba aku mau cicipi" Kata Surya lagi sambil tangannya terus beraktivitas di bagian kesukaannya.
"Ayo, kalau begitu kita makan siang!" kata Tata sambil melepaskan tangan Surya dari tubuhnya.
"Baiklah, kita makan dulu, setelah itu baru kita lanjutkan lagi ya" Bisik Surya di telinga Tata dan lagi-lagi membuat Tata bergidik ngeri.
__ADS_1
Meskipun mereka selalu melakukannya hampir setiap hari dan Tata mulai terbiasa dengan perlakuan Surya yang selalu membuatnya mencapai puncak, namun tetap saja Tata belum bisa menerimanya dengan ikhlas, baginya melakukan hubungan dengan tidak dilandasi rasa cinta satu sama lain itu adalah sebuah kesalahan.