My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)

My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)
Menginap di Rumah Tata


__ADS_3

Tok Tok Tok,,


Keesokan harinya Surya datang menghampiri rumah Tata untuk menemui wanita pujaannya itu.


"Iya tunggu sebentar!" Tata yang tidak tau bahwa tamu yang bertandang adalah Surya membukakan pintu senyum sejuta watt.


"Sayang" Surya langsung memeluk Tata.


"Lepaskan aku!" Tata memberontak.


"Maafkan aku, aku mohon hukumlah pria yang bodoh ini!" Surya tidak mau melepaskan Tata.


"Kita sudah tidak punya hubungan apapun, jadi aku mohon jangan ganggu hidupku lagi!" Tata berkata dengan dingin.


"Sayang" Surya melihat kebencian di mata Tata yang begitu terpancar dengan jelas.


Brakkkk,,


Pintu langsung tertutup ketika Tata sudah dapat melepaskan diri dari pelukan Surya. Ia benar-benar menutup semua pintu akses untuk Surya dapat menerobos masuk ke dalam hatinya.


"Kenapa kau begitu jahat, kau datang dan pergi begitu saja mempermainkan hidupku. Dulu kau memaksaku menikah dalam rasa benci, namun ketika rasa benci itu mulai menghilang, kau malah meninggalkan aku bersama bayi kita, dan sekarang saat aku sudah ingin melupakan semuanya kau kembali dan membuatku goyah, kau sangat jahat Surya!" Tata menangis sesenggukan di dalam kamar tidurnya seorang diri sepanjang siang hingga sore hari, sementara Surya masih setia berdiri di depan rumahnya tanpa ada niat sedikit pun pergi dari sana.


Suasana semakin terasa sendu ketika hujan mulai turun seiring air mata Tata yang mengalir deras. Petir dan angin pun seolah mewakili perasaan hati Tata yang sangat kacau. Sepanjang siang hingga malam hari cuaca begitu buruk hingga membuat Tata benar-benar terkurung di dalam rumah.


"Untungnya hari ini aku mengambil cuti setelah mengurus semua persiapan pernikahan Dini" Tata bersyukur karena ia tidak perlu repot-repot keluar bekerja di tengah hujan lebat pada malam hari.


"Sepertinya lebih baik aku tidur lebih awal saja, toh tidak ada lagi yang harus aku kerjakan" Tata kemudian menuju ruang depan untuk memastikan bahwa pintu rumahnya sudah terkunci dengan benar.


"Astaga!" Tata terpekik ketika mendapati seseorang duduk bersandar di depan pintunya dengan keadaan baju yang basah kuyup akibat terpaan angin hujan yang cukup kencang.


"Apa yang kau lakukan disini? kenapa keras kepala dan tidak mau pulang?" Tata mengomel.

__ADS_1


"Bangunlah, hei!" Tata mengguncang tubuh Surya namun tidak ada respon.


"Sayang maafkan aku, aku mohon maafkan aku" Surya berbicara dengan keadaan mata terpejam.


"Kau demam" Tata menyentuh kening Surya yang panas.


"Ayo bangun, masuklah ke dalam!" Tata berusaha membantu Surya berdiri.


Dengan susah payah Tata membantu Surya masuk ke dalam kamarnya. Kondisi Surya yang sudah demam dan setengah sadar membuatnya berjalan dengan terhuyun-huyun. Karena pakaian Surya sudah basah semua, akhirnya Tata membantunya melepas semua pakaian itu dan menggantinya dengan pakaian milik Tyo yang masih tertinggal di kamarnya.


"Kau terlihat sangat kurus, kenapa berat badanmu menjadi berkurang banyak begini? apa kau tidak makan dengan benar? kalau kau sakit kan tidak ada yang mengurusmu lagi! seharusnya kau bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik!" Tata terus saja mengoceh sambil memakaikan kaos, sementara Surya yang dalam keadaan setengah sadar merasa bahagia karena Tata masih peduli padanya.


Setelah semuanya terganti, Tata kemudian hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan bubur dan air hangat untuk minum obat penurun panas.


"Jangan pergi, tetaplah disini!" Surya meraih tangan Tata yang hendak berdiri.


"Aku hanya ke dapur untuk membuat bubur dan air hangat supaya kau bisa makan dan minum obat" kata Tata dengan dingin.


"Hemmm" Tata menjawab singkat dan kemudian pergi keluar kamar menuju dapur.


Setelah bubur dan air hangatnya siap, Tata pun langsung kembali ke dalam kamar.


"Ini makanlah" Tata menaruh mangkuk buburnya diatas nakas dan kemudian membantu Surya duduk.


"Buka mulutmu!" Tata menyuapi Surya dengan telaten hingga habis.


Meskipun ia marah, namun tetap saja ia tidak tega melihat kondisi Surya yang lemah seperti ini. Biar bagaimana pun Surya adalah ayah dari anaknya, ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa pria itu.


"Ini obat penurun panasnya, minumlah" Tata menyodorkan gelas ke mulut Surya.


Setelah ssmuanya selesai, Tata pun kembali beranjak untuk meletakkan mangkuk bekas buburnya.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" Surya bertanya.


"Menaruh mangkuk kotor ke dapur" Tata masih ketus.


"Habis itu kembali lagi kesini ya" Surya memohon.


"Tidurlah, sudah malam, besok pagi kalau sudah agak baikan dan hujannya reda kau bisa pulang!" Tata tidak merespon permohonan Surya.


Cukup lama Tata di dapur untuk mengulur waktu dengan harapan saat ia kembali ke kamar Surya sudah tertidur dikamarnya, jadi ia bisa tidur juga dikamar yang lain. Namun perkiraannya salah, saat ia kembali ke kamar Surya ternyata masih setia menunggunya.


"Kenapa belum tidur?" Tata bertanya penasaran.


"Aku ingin tidur bersamamu dan anak kita" Surya tersenyum penuh harap.


"Kita sudah bukan suami istri lagi, jadi sudah tidak pantas untuk tidur bersama, aku akan tidur di kamar Tyo!" Tata berkata dengan tegas.


"Kalau begitu aku tidak akan tidur sampai besok pagi!" Surya kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


"Ck, kau ini kenapa keras kepala sekali sih? kau kan sedang sakit, harus banyak istirahat!" Tata berdecak kesal.


"Kalau begitu temani aku tidur ya?" memohon dengan wajah memelas.


"Ya sudah tidurlah, aku akan menjagamu!" lalu Tata duduk di tepi ranjang.


"Sini, berbaringlah disisiku" Surya menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Tata agar bisa merebahkan tubuhnya.


"Aku duduk disini saja!" Tata berencana akan segera keluar jika Surya sudah terlelap.


"Kalau begitu aku juga akan duduk bersamamu" Surya kembali ingin duduk.


"Stop, baiklah, cepat tidur dan jangan macam-macam!" Akhirnya Tata mengalah membuat Surya tersenyum bahagia.

__ADS_1


Mereka tidur saling berpelukan seperti saat masih bersama dulu. Surya tidak lelah-lelahnya mengelus perut Tata dengan lembut sambil mengajak calon anaknya itu berbicara. Sementara Tata hanya diam saja menerima semua perlakukan lembut dari Surya. Entah mengapa di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sangat bahagia bisa berada dalam situasi yang seperti ini. Ia merasa sangat merindukan pelukan dan belaian Surya yang selama dua bulan belakangan ini tidak pernah lagi ia rasakan. Malam itu mereka berdua terbuai dalam dekapan perasaan hangat hingga keduanya masuk ke alam mimpi hingga pagi menjelang.


__ADS_2