
"Tata!" beberapa orang yang sudah cukup dikenal memanggil Tata yang sedang duduk di pojok Aula hotel.
"Haiii" Tata melambaikan tangannya saat melihat teman-teman kampusnya hadir di pesta pernikahan Dini dan Hendro.
"Apa kabar Ta?" seorang gadis bernama Gisel langsung memeluk Tata.
"Kamu kemana aja sih kok gak pernah kelihatan di kampus lagi?" tanya Viana penasaran.
"Kamu lagi hamil? jadi sudah menikah?" Andi juga tak kalah penasarannya.
"Astaga, kalian ini, kalau semuanya bertanya, trus aku harus jawab yang mana dulu?" Tata terkekeh melihat betapa temen-temannya begitu penasaran dengannya yang sudah menghilang beberapa bulan dari kampus dan tiba-tiba muncul dengan perut yang sudah membuncit.
"Mana suami kamu Ta?" Andi yang masih penasaran bertanya.
"Emmm anu, dia tidak bisa datang karena sedang ada urusan pekerjaan!" Tata berbohong.
Selama ini Tata memang selalu menutupi kenyataan yang ada kepada orang lain. Ia hanya menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada orang-orang terdekat seperti Dini dan keluarganya serta keluarga pemilik Cafe yang juga sudah sangat akrab dengannya karena mereka dulu berteman dengan almarhum orang tua Tata.
"Ohhhh" Andi hanya ber oh ria saja.
"Oya kapan memangnya kamu menikah? kok gak undang-undang sih?" Viana bertanya kembali.
"Sudah lima bulan yang lalu, memang acaranya tidak banyak yang hadir, hanya kerabat dekat saja, karena suamiku orangnya tidak mau terlalu menonjolkan pernikahan kami" kali ini Tata berkata apa adanya sesuai fakta.
"Hemmm gitu ya?" Gisel manggut-manggut.
"Eh maaf ya aku ke toilet dulu, sudah diujung tanduk" Tata yang perutnya sudah mulai buncit besar memang jadi lebih sering ke toilet belakangan ini.
__ADS_1
"Mau aku temani?" Viana bertanya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok" Tata langsung berdiri dan berjalan menuju toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.
..........
"Awwwwww" Tata terpekik kaget saat tiba-tiba tubuhnya melayang karena digendong oleh seseorang.
"Kau? lepaskan, apa yang sedang kau lakukan!" Tata memberontak ingin melepaskan diri namun sang penggendong tak bergeming dan tetap berjalan menuju lorong hotel yang sepi.
"Turunkan aku!" Tata menghardik namun lagi-lagi tidak ada respon sama sekali.
"Tuan Surya Putra Angkasa aku mohon turunkan aku!" kini Tata menatap dengan tajam dengan suara yang dingin, membuat Surya melepaskan gendongannya dengan perlahan.
Tata yang sudah turun dari gendongan Surya kemudian bergegas menjauh, namun sepersekian detik kemudian Surya menariknya kedalam pelukannya.
Plakkkk,,,
Tata yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Surya yang semaunya sendiri akhirnya menampar pipi pria yang sudah membuat hidupnya porakporanda selama hampir lima bulan belakangan ini.
"Maaf" Surya menatap wajah Tata dengan sendu.
"Apa maumu?" Tata berkata dengan ketus.
"Maafkan aku yang telah berbuat salah padamu" Surya menggenggam tangan Tata dengan erat.
"Sudah cukup, mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling kenal!" Tata berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan dia?" Surya mengelus perut Tata yang sudah membuncit.
"Lepaskan, aku harus pergi!" Tata menghindar untuk membahas masalah kehamilannya dengan Surya.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi sampai kapan pun!" Surya merangkul pinggang Tata dengan erat namun tetap dalam batas aman.
"Kita sudah tidak punya ikatan apapun dan bukan siapa-siapa lagi!" Tata berusaha melepaskan tangan Surya.
"Apa kau lupa kalau dia mengikat kita begitu erat?" Surya kembali mengelus perut Tata.
"Ck, lepaskan!" Tata kembali menghindari percakapan yang menjurus ke kehamilannya.
"Aku mohon maafkan aku, kembalilah padaku, ayo kita besarkan anak kita bersama-sama!" Surya memohon.
"Kenapa kau begitu yakin kalau dia itu anakmu? bagaimana kalau dia ternyata anak dari pria lain?" Tata menantang Surya.
"Tidak mungkin, kau tidak bisa membohongiku, aku tau dia adalah anakku, benih yang aku tanam dalam rahimmu beberapa bulan lalu!" Surya sangat percaya diri.
"Kalaupun ini memang anakmu, kau tidak punya hak lagi atasnya, karena kau sudah mencampakkannya!" Tata meneteskan air mata, sakit hatinya sudah tak terbendung lagi ketika mengingat bagaimana Surya yang memaksanya menikah tanpa cinta namun kemudian Surya pula yang mencampakkannya saat Tata sudah mulai berusaha menerimanya.
"Aku memang bodoh, hukumlah aku, kau bebas melakukan apapun terhadapku, asal kau mau kembali padaku dan hidup bersamaku untuk membesarkan anak kita bedua!" Surya meraih tangan Tata dan menampar pipinya sendiri dengan menggunakan telapak milik Tata.
"Hentikan, jangan berbuat bodoh!" Tata menarik tangannya.
"Aku mohon kembalilah padaku sayang, aku sangat mencintaimu dan anak kita!" Surya bersimpuh di kaki Tata dengan air mata yang sudah tak terbendung.
"Maaf aku tidak bisa!" Tata kemudian pergi meninggalkan Surya yang masih berlutut tak berdaya.
__ADS_1
Baginya Surya adalah masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam. Ia bertekad untuk membuka lembaran baru hanya berdua saja dengan anak yang sedang ia kandung. Terlalu banyak rasa sakit yang sudah Surya torehkan di hatinya selama lima bulan belakangan ini. Meskipun hatinya sudah mulai menerima Surya, namun rasa sakit dicampakkan dalam keadaan hamil lebih mendominasinya saat ini.