My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)

My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)
Tata Hamil


__ADS_3

"Selamat datang, silahkan mau pesan apa?" Tata menyerahkan buku menu kepada pelanggan cafe di tempatnya bekerja.


"Saya pesan ini dan ini" sang pelanggan menunjuk gambar makanan yang hendak dipesan.


"Baik tunggu sebentar ya" Tata kemudian menyiapkan pesanan yang dimaksud.


Satu bulan telah berlalu sejak Tata pergi meninggalkan rumah mewah milik Surya, kini kehidupannya sudah kembali seperti semula sebelum ia menikah dan berhubungan dengan sang suami. Tata yang sudah cukup kenal baik dengan sang pemilik cafe diperbolehkan untuk bekerja kembali setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada yang ditutupi. Namun demikian ia tidak dapat kembali kuliah karena prestasinya merosot akibat berbulan-bulan bolos kuliah yang mengakibatkan beasiswanya harus dicabut oleh pihak kampus.


"Apakah semua sudah beres?" sang manager cafe bertanya sebelum mereka menutup cafenya.


"Sudah" Tata mengangguk semangat.


"Bagus, kalau begitu kau boleh pulang, aku akan melaporkan perkembangan cafe kepada sang pemilik!" kata sang manajer.


"Baik terima kasih" Tata kemudian bergegas pulang ke rumah.


..........


Keesokan harinya Tata yang sudah berjanji pada Dini untuk menemaninya memesan baju pengantin untuk pernikahan Dini dan Hendro yang akan dilangsungkan dua bulan lagi pun akhirnya datang ke butik khusus pengantin.


Brukkk...


"Tata!" Dini berteriak ketika melihat Tata jatuh dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Cepat bawa ke rumah sakit!" kata salah satu pelayan toko.


Setibanya di rumah sakit, Tata langsung dibawa ke ruang unit gawat darurat.


"Bagaimana keadaan Tata dokter?" kata Dini.


"Dia baik-baik saja, hanya memang agak sedikit lemah akibat kandungannya" penjelasan dari sang dokter.


"Apa? Tata hamil dok?" Dini terkejut.


"Benar, pasien ini hamil dengan usia kandungan dua belas minggu" kata sang dokter.


Setelah diperiksa selama beberapa saat di IGD, akhirnya sang dokter pun menemukan penyebab Tata pingsan.


"Pasien sudah baikan, hanya masih butuh istirahat saja" Dokter menjelaskan.


"Terima kasih dokter" kata Dini.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya" sang dokter pun berjalan untuk memeriksa pasien lainnya.


"Tata" Dini menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Maaf Din, aku belum cerita!" Tata meneteskan air mata.

__ADS_1


"Jadi sebelum ini kamu sudah tau?" Dini terkejut.


"Iya, aku sudah tau sejak sebelum pergi dari rumah itu" Tata mengangguk.


"Tapi kenapa kau tidak bilang pada suamimu?" Dini merasa kasihan dengan nasib cinta sahabatnya ini.


"Awalnya aku ingin menjadikan ini kejutan ulang tahun untuk Surya, aku rasa dia akan bahagia mendengar kabar ini karena hubungan kami sudah mulai berjalan cukup baik dan mulus, aku bahkan mencoba untuk mulai menerimanya dalam hidupku karena sikapnya sudah sangat baik dan perhatian, namun ternyata setelah itu dia malah menggugat cerai, jadi sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan!" Tata menerawang kembali detik-detik dimana Surya menyodorkannya surat cerai itu.


"Lalu apa langkahmu selanjutnya?" Dini menatap sang sahabat yang terlihat begitu terpukul.


"Aku akan membesarkannya seorang diri, aku yakin dia akan baik-baik saja!" Tata mengelus perutnya yang sudah agak membuncit meskipun belum terlalu menonjol.


"Tapi dia tetap butuh figur ayah kan?" Dini mencoba membujuk.


"Aku takut jika Surya mengetahui semua ini dia akan merebutnya dariku, aku tidak siap jika harus kehilangan anakku Din" Tata membayangkan yang tidak-tidak.


"Jadi kau akan membiarkan Surya tidak mengetahui tentang keberadaan anaknya ini?" tanya Dini.


"Iya, itu lebih baik!" Tata mengangguk dengan yakin.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu, aku tidak akan bisa memaksannya!" Dini akhirnya mengalah.


Setelah seluruh administrasi selesai, Dini pun mengajak Tata pulang. Ia membantu sahabatnya dan menginap di rumah Tata hingga kondisinya benar-benar pulih.

__ADS_1


__ADS_2