
Dengan sedikit memaksa Surya pun akhirnya berhasil ikut bekerja dengan Tata. Ia kemudian mengikuti gerak langkah Tata yang begitu lincah menyusuri lorong-lorong pasar tradisional yang kondisinya tidak senyaman swalayan.
"Kita mau kemana?" Surya merasa mulai tidak enak karena aroma amis menyengat dari ikan yang dijajakan oleh para pedangan.
"Ke kios sayur" jawab Tata dengan datar.
"Ehhhh ada mbak Tata" seorang wanita tua menyapa Tata dengan ramah.
"Iya Bude, stok cafe sudah mulai habis" kata Tata dengan senyum mengembang.
"Apa saja mbak?" wanita yang dipanggil Bude itu langsung menerima secarik kertas dari tangan Tata.
"Wahhh stok paprika kuningnya habis mbak dari sananya" kata Bude.
"Ya sudah diganti merah dan hijau saja setengah-setengah" kata Tata.
"Ini seladanya lagi bagus-bagus loh mbak Tata" Bude kemudian menunjuk sayur hijau yang dimaksud olehnya.
"Iya ya, besar-besar, tapi harga tetap sama kan bude?" Tata memastikan.
"Sama, cuma memang ini lebih bagus dari biasanya" Bude ngengangguk.
"Sip mantab, oya berapa jumlahnya?" Tata bersemangat karena bahan yang ia beli semuanya bagus.
"tiga ratus tujuh puluh tiga ribu mbak" Bude mengembalikan kertas yang tadi Tata sodorkan kepadanya dengan sudah memberi total harga sebagai pengganti nota pembelian.
"Terima kasih ya Bude, nanti pak Dul yang angkut ya Bude" Tata kemudian mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
"Iya mbak, nanti saya kasih ke pak Dul" jawab Bude.
__ADS_1
"Pamit ya Bude" Tata kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat belanjanya ke kios lain, sementara Surya hanya mengekor saja tanpa berkomentar sambil mengamati gerak gerik Tata yang sangat lincah meskipun perutnya sudah cukup besar.
"Kang Udin" Tata menyapa seorang pria muda berkulit hitam legam.
"Ehhhhh Neng cantik udah dateng" Udin tersenyum ramah, membuat Surya geram karena istrinya dipanggil cantik oleh pria lain.
"Iya kang, stok sudah habis" Tata tersenyum.
"Apa saja nih yang mau diambil sama neng cantik?" Udin bertanya sambil menata barang dagangannya.
"Ehem" Surya berdeham mendengar kang Udin mengulang panggilan 'cantik' kepada Tata.
"Ini siapa neng cantik?" lagi-lagi kang Udin menyebut Tata cantik, membuat Surya membulatkan matanya dengan sinis.
"Saya Surya, suaminya Tata" Surya menjawab dengan lantang.
"Ohhh, cocok, cantik sama ganteng, pasti anaknya yang di perut nanti cakep" kang Udin memberikan jempol kepada Surya, membuat yang dipuji merasa senang dan senyum-senyum, sementara Tata menjadi jengah sendiri.
"Oke siappp" dengan cekatan Kang udin menotal semua belanjaan Tata.
"Dua ratus enam puluh lima ribu" kata kang Udin yang sudah menulis harganya di kertas yang disodorkan.
"Nanti pak Dul yang ambil ya kang" Tata kembali menyebut nama pak Dul sang tukang angkut barang di pasar yang sudah menjadi langganan Cafe Tata.
"Siapppp" Kang Udin memberikan jempolnya lagi.
"Makasih kang, pamit ya" Tata kemudian kembali menyusuri kios yang ada di pasar.
"Sama-sama" kata kang Udin yang kembali sibuk dengan barang dagangannya.
__ADS_1
"Pak Jul" Tata kini masuk ke kios sembako.
"Neng Tata mau belanja?" pak Jul tersenyum melihat kedatangan Tata.
"Iya pak, ini daftarnya" Tata kembali menyodorkan kertas belanjaan.
"Oke sebentar saya total dulu ya" Pak Jul kemudian menghitung menggunakan kalkulator beras miliknya.
"Nanti diambil sama Dul kan?" tanya pak Jul.
"Iya nanti pak Dul yang ambil ya pak" Tata ngangguk.
"Okeh siappp" pak Jul tersenyum ramah.
Setelah semua transaksi jual beli selesai Tata pun akhirnya keluar dari pasar.
"Apa sudah selesai?" Surya bertanya dengan lembut.
"Sudah" kata Tata dengan datar kepada Surya yang masih setia mengikutinya dalam diam dengan perasaan tidak nyaman karena pasar yang begitu pengap, kotor dan beraroma tidak sedap.
"Akhirnya selesai juga penderitaanku" celetuk Surya tanpa berpikir panjang.
"Apa maksudnya?" Tata langsung menoleh ke arah Surya.
"Ah tidak bukan apa-apa" Surya gelagapan saat melihat raut wajah Tata yang tidak bersahabat.
"Kalau kau tidak suka lebih baik pulang saja sana ke rumah mewahmu sekarang juga, tidak ada yang memintamu untuk menemaniku ke sini!" Tata berkata dengan ketus sambil berkacak pinggang, membuat Surya langsung menciut seketika. Aura dingin seorang CEO yang biasanya selalu ia tunjukkan setiap harinya tiba-tiba saja menghilang ketika melihat Tata marah-marah.
"Tidak, tidak begitu, ayo kita masuk ke mobil" Surya kemudian meraih tangan Tata dan menggandengnya menuju mobil, sementara Tata tidak bereaksi apapun, ia hanya berjalan mengikuti Surya masih dengan wajah yang masam.
__ADS_1
"Sabar Surya, sabar, demi istri dan anakmu!" Surya membatin sambil menelan salivanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya yang seorang CEO hebat bisa bertekuk lutut tak berdaya dihadapan istrinya.