
"Sayang, kau pulang jam berapa hari ini?" Tata yang sudah selesai memasak makan malam mengirimkan pesan singkat kepada Surya.
"Tidak usah menunggu aku, kau makan saja duluan" jawab Surya.
"Tapi aku ingin makan bersama denganmu" Tata berusaha membujuk Surya.
"Aku sedang sibuk, mungkin tidak akan pulang malam ini" Surya mencari-cari alasan.
"Yahhhhh" Tata menunjukkan rasa kecewanya melalui emoticon menangis.
"Ya sudah, kalau begitu semangat ya sayang, jangan lupa makan supaya kau tidak jatuh sakit" Tata memberi pesan, sementara Surya hanya membaca tanpa membalas.
"Huffff kenapa sih dia?" Tata bermonolog ketika merasa sikap Surya begitu aneh, rasa lapar yang ia rasakan sebelumnya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Mbak Alia, tolong bereskan meja makannya ya, tuan tidak pulang malam ini" Tata berkata dengan sedih.
"Nyonya tidak jadi makan?" Alia bertanya dengan heran karena tadi Tata berkata sangat ingin makan masakannya karena sudah sangat lapar.
"Tidak, aku tidak lapar, aku mau tidur saja" Tata kemudian berjalan dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua.
"Kasihan nyonya, pasti sedih karena tuan sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor!" Alia kemudian membereskan meja makan sesuai perintah Tata.
..........
Sementara itu Surya yang berada di kantor, hatinya begitu kacau sejak mengetahui kenyataan yang sesungguhnya tentang isi hati sang istri selama menikah dengannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa hidup bahagia bersamaku dan mencintaiku dengan tulus seumur hidupmu?" Surya merasa hatinya hancur berkeping-keping.
Tok tok tok..
"Tuan, apakah anda tidak mau pulang?" Adhi bertanya kepada bosnya karena malam ini ia kembali pulang sampai malam lagi seperti kemarin padahal mereka tidak ada pekerjaan yang perlu waktu ekstra di kantor.
__ADS_1
"Kau pulanglah terlebih dahulu, aku masih ingin melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor!" Surya menyuruh Adhi pulang terlebih dahulu.
"Apakah anda baik-baik saja?" Adhi bertanya dengan takut-takut.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!" kata Surya tanpa menoleh.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu tuan, jika nanti anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan bilang saja, saya akan datang kesini dengan segera" kata Adhi sambil menunduk hormat.
"Terima kasih" Surya menjawab dengan datar.
Setelah Adhi pergi, Surya pun mengambil bingkai foto pernikahannya yang dia pajang diatas meja kerjanya.
"Apa tidak ada sedikit pun namaku di hatimu? apa dengan jalan berpisah baru kau akan hidup bahagia?" Air mata Surya menetes membanyangkan wanita yang sangat ia cintai justru tersakiti oleh dirinya.
"Kalau cintaku begitu menyiksamu, aku akan mengalah, aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi, mungkin dengan begitu kau akan hidup jauh lebih bahagia!" Surya memeluk foto pernikahan mereka dan menangis sedih.
Malam ini Surya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, ia memilih untuk tidur di ruang istirahatnya dan menenangkan diri.
..........
"Tuan, ini berkas yang anda minta" salah satu tim pengacara Surya menyerahkan sebuah dokumen kepada sang CEO.
"Terima kasih, aku akan kembalikan padamu setelah aku mendapatkan tanda tangannya" Surya meraih dokumen itu.
"Baik tuan, ada lagi yang bisa saya bantu?" sang pengacara bertanya.
"Tidak, kau boleh keluar" Surya menggelengkan kepala.
"Baik kalau begitu saya permisi" menunduk hormat.
"Hemmmm" Surya menatap dokumen ditangannya dengan mata yang basah.
__ADS_1
"Huffffff mungkin ini jalan yang terbaik" Surya menandatanganinya dengan berat hati.
Setelah yakin bahwa tekadnya sudah bulat, ia pun kemudian pulang ke rumah dengan membawa dokumen yang sudah ditandatanganinya itu.
"Sayang, kau sudah pulang" Tata yang melihat sang suami tiba langsung memeluknya dengan erat dan bergelayut manja.
"Apa kau sudah makan? kenapa wajahmu begitu sayu? kau pasti lelah kan? ayo ke kamar, biar aku siapkan air hangat untuk mandi dan sarapan yang lezat ya" Tata merangkul lengan Surya dan membimbingnya.
Surya yang bingung harus bersikap bagaimana, akhirnya hanya menuruti arahan Tata dalam diam. Ia mandi dan makan dengan bantuan sang istri.
"Ini" Surya menyerahkan dokumen yang ia bawa dari kantornya setelah selesai mandi dan sarapan.
"Apa ini?" Tata bingung.
"Surat cerai" Surya berkata dengan sok tegar.
"Ce, cerai??" Tata terbelalak mendengar kata cerai. Entah mengapa ia merasa seperti ada sebuah batu besar yang menghantam kepalanya sehingga tubuhnya terasa limbung.
"Hemmm, hutang-hutangmu sudah kuanggap lunas, kau akan mendapatkan kebebasanmu mulai detik ini, aku akan membebaskanmu dan menyerahkan kembali surat tanah milik mendiang orang tuamu!" Surya membuang mukanya.
"Tapi kenapa tiba-tiba begini?" entah mengapa rasanya Tata tidak siap dengan perpisahan ini.
"Bukankah kau sudah mengharapkan perpisahan ini sejak lama?" Surya tersenyum dengan sinis.
"Sayang!?" Tata tercekat.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak seburuk yang kau pikirkan, aku akan tetap memberikan tunjangan untukmu agar kau bisa tetap hidup dengan layak meskipun kita sudah tidak bersama lagi!" Surya memaksa Tata membaca dan menandatanganinya.
"Aku tidak butuh tunjangan, terima kasih atas segala kebaikanmu selama ini, maaf jika kakakku sudah membuatmu susah dan aku juga membuat hidupmu repot selama tinggal di rumah ini!" Tata menandatangani surat cerai mereka dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.
"Aku akan tinggal di apartemenku untuk sementara waktu, kau boleh keluar kapanpun kau sudah siap, kau tidak perlu tergesa-gesa membereskan semua keperluanmu, Alia akan membantumu!" Surya kemudian beranjak pergi dari kamar mereka, meninggalkan Tata dengan hati yang porak poranda.
__ADS_1