
"Sayang jangan ngambek dong, ini kan sudah papa belikan yang mama mau" Surya membujuk Tata yang sejak tadi cemberut karena keinginannya memakan asinan buah dari kota asalnya secara langsung tidak terpenuhi.
"Mama kan maunya asinan yang asli dari kota asalnya pa, kenapa papa malah belinya yang di depan komplek?" Tata protes saat suaminya meletakkan asinan tersebut diatas meja makan.
"Tapi kan sama saja asinan juga ma, apa bedanya sih?" Surya tidak habis pikir dengan pola pikir sang istri.
"Beda dong pa, kan kalau yang asli dari kota asalnya tuh rasanya lebih original!" Tata berkacak pinggang. Sejak kehamilannya, Tata memang menjadi lebih manja dan emosinya tidak stabil.
"Mama gak mau coba dulu? ini juga enak loh!" Surya berusaha bernegosiasi.
"Enggak!" Tata meninggalkan suaminya begitu saja.
"Loh mama mau kemana?" Surya yang sedang menuang asinannya ke dalam mangkuk kemudian menaruh makanan itu begitu saja karena ingin mengejar sang istri.
"Ihhh lepasin!" Tata memberontak saat Surya memeluknya dari belakang.
"Sayang plis jangan marah dong, ya sudah deh papa belikan ya, tapi mama janji jangan marah lagi sama papa" Surya mengecup pipi sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Udah telat, mama udah gak mood lagi, mau tidur aja!" Tata melepaskan pelukan suaminya dan langsung berjalan dengan cepat menuju kamar.
"Maaaa buka pintunya dong, kalo papa dikunciin di luar, trus papa tidur dimana?" Surya memelas.
"Terserah" Tata tidak peduli dengan ratapan suaminya di balik pintu kamar.
"Sayangg, mama, cantikku" Surya merayu dengan segala jurus yang dimilikinya namun Tata tetap tak bergeming.
__ADS_1
"Huffff, begini banget sih nasib nasibbb!" dengan terpaksa Surya kemudian tidur di ruang kerjanya.
..........
"Loh bos, ada apa dengan wajah anda?" Adhi yang sedang memberikan laporan kepada Surya mengernyitkan dahinya.
"Tata ngambek lagi, semalam dia mengunciku diluar kamar, jadilah aku tidur di ruang kerja" Surya curhat.
"Sabar ya bos, wanita hamil itu memang moodnya sangat labil, kadang suka minta yang aneh-aneh pula" Hendro menenangkan atasannya.
"Tapi dulu waktu hamilnya Menta, Tata tidak begitu perasaan deh, ya walaupun aku hanya mendampinginya setelah usia lima bulan ke atas sih" Surya mengenang masa kehamilan sang istri yang pertama dulu.
"Tapi dulu kan anda yang menggantikannya morning sickness, apa anda tidak ingat drama muntah-muntah itu?" Adhi mengingatkan.
"Sabar bos, hanya tinggal beberapa bulan lagi kok, habis itu pasti akan kembali normal" Hendro terus menghibur.
"Kau bilang hanya beberapa bulan? satu malam saja aku sudah gila!" Surya mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Ini bos kopinya dulu" Adhi menyodorkan secangkir kopi yang baru saja dibuatkan oleh OB.
"Terima kasih" pria itu kemudian menyeruput kopinya.
..........
"Apa anda sedang sakit?" Mike bertanya kepada Surya saat mereka melakukan meeting untuk membahas perluasan proyeknya.
__ADS_1
"Istri saya sedang ngidam tuan, jadi semalaman saya begadang untuk menunggunya" Surya menjawab.
"Wahhh selamat, akhirnya Menta akan punya adik baru" Mike mengucapkan dengan tulus.
"Terima kasih" Surya tersenyum.
"Tapi sepertinya anda tidak begitu semangat" Ron menyelidik.
"Iya tuan, sudah beberapa hari ini istri saya selalu meminta yang aneh-aneh" jawab Surya.
"Hemmm sudah kuduga" Ron mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Wanita hamil memang sulit dipahami tuan, anda harus bersabar menghadapinya" George berkata.
"Begitu ya?" Surya hanya bisa pasrah.
"Saya sarankan anda mengikuti semua keinginan istri anda jika ingin hidup tentram" George yang pernah mengalami tragedi saat sang istri mengandung anak mereka dulu memberi nasehat.
"Anda benar, semalam istri saya ngambek hanya karena keinginannnya tidak dituruti. Dia minta asinan, sudah saya belikan di depan komplek, tapi dia minta yang asli dari kota asalnya, alhasil saya dilarang masuk ke dalam kamar" Surya bercerita dengan lugunya, membuat Mike, Ron, George, Adhi dan Hendro tersenyum geli membayangkan seorang penguasa hebat itu bertekuk lutut dihadapan sang istri.
"Yang sabar ya bos, demi generasi penerus Putra Angkasa" Hendro berkata.
"Benar, mungkin saja itu pertanda kalau anak anda akan menjadi anak yang hebat" Adhi menambahkan dengan senyum gelinya.
"Huffffff" Surya mendesah, akhirnya pertemuan mereka yang seharusnya dilakukan dengan serius pun berakhir dengan curhatan para suami yang ditindas oleh para istrinya saat mereka sedang hamil dan mengidam.
__ADS_1