
"Tyo?" Tata terkejut ketika tiba-tiba sang kakak yang sudah satu tahun lebih menghilang tanpa kabar tiba-tiba muncul di cafenya siang itu.
"Tata, aku ingin bicara denganmu" kata Tyo tanpa basa-basi.
"Ada apa katakanlah?" Tata merasa curiga karena tidak biasanya Tyo berbicara begitu serius dengannya.
"Aku butuh uang untuk membayar hutang-hutangku" kata Tyo to the point.
"Lalu?" dugaan Tata benar, ternyata Tyo datang dengan maksud tertentu, bukan karena memang dia merindukannya.
"Berikan aku uang" Tyo seperti tidak punya rasa malu sama sekali.
"Kenapa meminta padaku?" Tata tidak mau luluh begitu saja.
"Bukankah kau sekarang sudah menjadi istri Surya? artinya kau sudah jadi orang kaya kan?" kata Tyo.
"Yang kaya itu suamiku bukan aku, lagi pula kalau pun aku punya uang, aku tidak akan pernah memberikannya sepeser pun untukmu, karena aku tau kalau uang itu pasti akan digunakan untuk hal-hal yang buruk!" Tata menolak dengan keras.
"Kau sudah berani melawan kakakmu hah? dasar adik tidak berbakti!" pria itu sangat murka.
__ADS_1
"Tentu saja aku berani, kau sudah menjualku dan membuat rumah orang tua kita hampir saja melayang, lalu buat apa aku berbakti pada kakak brengsek sepertimu?" Tata tidak kalah murkanya.
"Kurang ajar!" Tyo hampir melayangkan tamparan ke arah Tata.
"Kenapa berhenti? ayo tampar aku!" Tata yang melihat Tyo mengurungkan niatnya malah semakin menantang.
"Aku tidak mau berdebat denganmu, sekarang lebih baik cepat berikan aku uang!" Tyo memaksa.
"Sudah ku bilang kalau aku tidak mau, jadi lebih baik sekarang kau pergi dari sini, atau aku akan memanggilkan security!" Tata mengancam.
"Brengsek kau, lihat saja nanti, akan aku balas perbuatanmu ini dengan sangat kejam!" Tyo yang sudah kehabisan akal pun akhirnya memilih untuk pergi dengan mengancam sang adik terlebih dahulu.
"Sayang kau sudah datang?" tanya Tata saat melihat Surya menjemputnya untuk pulang ke rumah bersama-sama pada sore harinya. Sejak cafe berpindah tangan atas nama Tata, jam operasional cafe memang dibuat menjadi lebih panjang yaitu buka sejak pagi hingga malam hari, jadi Tata biasanya akan berada di cafe sejak siang hari hingga sore menjelang saja.
"He em ayo kita pulang, Menta pasti sudah menunggu kita di rumah" kata pria itu kepada istrinya.
"Iya ayo" angguknya yang sudah rindu dengan sang putri yang ia tinggal sejak siang hari tadi.
"Ada apa, kenapa wajahmu bersedih hemm?" Surya yang melihat istrinya diam saja sepanjang jalan merasa khawatir.
__ADS_1
"Tadi Tyo datang ke cafe" jawab Tata dengan wajah sedihnya.
"Mau apa dia?" Surya yang sangat membenci kakak iparnya karena sudah membuat hidup sang istri menderita sangat geram mendengar namanya.
"Dia meminta uang, mungkin dia habis kalah judi atau sedang terlilit hutang rentenir" jawab Tata.
"Apa kau memberinya uang?" Surya menatap sang istri.
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku mendukung perbuatan dia yang tidak baik?" Tata menggelengkan kepalanya dengan sedih ketika mengingat perilaku sang kakak yang buruk.
"Bagus, dia memang tidak pantas mendapatkannya jika hanya dipakai untuk hal buruk saja!" Surya sangat bangga dengan sikap sang istri.
"Tapi aku jadi khawatir sayang" Tata menatap wajah suaminya dengan tajam.
"Apa?" Surya mengernyit.
"Dia itu orang yang nekad, aku takut jika keinginannya dia tidak tercapai maka dia akan melakukan sesuatu yang diluar kewajaran. Tadi saja dia mengancamku, katanya akan membalas dengan sangat kejam. Aku takut jika dia menyakiti Menta" Tata menarik nafasnya dengan berat.
"Semoga saja tidak ya sayang" Surya menarik sang istri ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, baik Tata maupun Surya lebih banyak menghabiskan waktu dengan diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil berpelukan erat di kursi belakang. Tata sibuk memikirkan ancaman sang kakak yang akan membalasnya dengan kejam. Ia khawatir jika ancaman itu ditujukan kepada sang putri. Sementara Surya sibuk berfikir untuk melakukan penjagaan yang lebih ketat dari sebelumnya kepada dua wanita cantik yang sangat ia sayangi dalam hidupnya itu.