
Seperti kesepakatan Tata dan Surya kemarin, akhirnya hari untuk kontrol kandungan dipercepat supaya Surya bisa lebih cepat melihat perkembangan anaknya yang masih di dalam kandungan Tata.
"Sayang, lihatlah itu anak kita!" Surya tidak bisa membendung rasa harunya saat melihat layar monitor ketika perut Tata sedang di USG, air matanya mengalir begitu deras.
"Iya, itu anak kita" Tata tersenyum bahagia ketika akhirnya ia bisa datang bersama sang suami untuk mengetahui kabar perkembangan bayinya.
Mereka terus saja saling berpegangan tangan saat melihat pergerakan sang janin di layar monitor. Surya yang begitu bahagia tak henti-hentinya mengecup kening sang istri yang sedang berbaring.
"Anda bisa lihatkan detak jantungnya begitu stabil?" Sang dokter menunjukkan gerakan yang sangat konsisten dilayar monitor.
"Jadi artinya keadaan istri dan anak saya baik-baik saja kan dokter?" Surya yang baru pertama kali berkunjung ke dokter kandungan sangat antusias.
"Kondisi ibu dan bayinya sangat sehat, tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, hanya saja memang tidak boleh terlalu lelah beraktivitas, kalau bisa waktu istirahatnya diatur dengan baik, jangan tidur terlalu larut malam" Dokter memberi saran.
__ADS_1
"Sayang dengarkan kata dokter? kau itu tidak boleh tidur terlalu larut malam, jadi berhentilah bekerja, kau di rumah saja seperti dulu lagi, oke?" Surya memakai perkataan sang dokter untuk menjadi senjata agar Tata mau berhenti dari pekerjaannya sebagai pelayan cafe.
"Tapi kalau aku terus di rumah bisa bosan seperti dulu sebelum hamil!" Tata tidak mau jika hidupnya kembali seperti burung dalam sangkar emas.
"Baiklah nanti aku atur supaya kau bisa tetap bekerja tapi tidak terlalu lelah, bagaimana?" bagi Surya jika alasan istrinya berkerja hanya supaya tidak bosan karena diam di rumah sepanjang hari, maka itu akan jauh lebih mudah ketimbang alasan Tata ingin tetap hidup mandiri dari hasil kerjanya.
"Memangnya bisa?" Tata memicingkan mata.
"Kau lupa siapa suamimu hemmm?" Surya kemudian mengecup bibir Tata dengan lembut.
"Tidak apa-apa nyonya, saya sudah biasa melihat adegan romantis suami istri seperti ini" sang dokter tersenyum melihat ulah pasangan yang baru saja rujuk ini.
"Oya dokter, apakah kami masih tetap bisa berhubungan selama kehamilan ini?" Surya yang sudah tidak sabar mengengok anaknya secara langsung tanpa layar monitor pun kemudian bertanya secara to the point.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, untuk usia kandungannya sekarang justru sudah aman, jadi boleh melakukannya seperti biasa, hanya saja memang perlu lebih hati-hati dan lembut!" dokter menyarankan.
"Yesss akhirnya bisa juga, setelah berpuasa sejak beberapa bulan lalu!" Surya sangat ekspresif.
"Sayang!" Tata melotot ke arah suaminya karena malu dengan sikap Surya yang sangat to the point.
"Memangnya kenapa? kan memang kenyataannya aku sudah puasa beberapa bulan!" Surya mengangkat bahunya tanpa merasa berdosa.
"Wahhhh anda hebat ya tuan, demi menjaga bayinya tetap sehat sampai rela berpuasa beberapa bulan!" dokter yang mengira bahwa Surya berpuasa karena ingin anaknya tetap sehat, tidak tau bahwa alasan sesungguhnya adalah karena mereka sempat pisah ranjang akibat dari kesalah pahaman.
"Ahhh dokter bisa saja!" Surya yang menyadari bahwa sang dokter ternyata salah paham kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat Tata tersenyum geli.
"Apa semua prosedurnya sudah selesai dokter?" Tata kemudian bertanya.
__ADS_1
"Sudah nyonya, saya tinggal memberikan resep vitamin saja untuk anda" jawab sang dokter.
Setelah mendapat resep dan menebusnya di apotik, akhirnya mereka pun pulang kembali ke rumah untuk mempraktekkan apa yang sudah diperbolehkan oleh dokter.