
"Sekar, selamat ya" Tata merangkul Sekar saat gadis itu turun dari atas panggung sambil bergandengan tangan dengan kekasih barunya.
"Astagaaa, kenapa aku yang jadi baper sih" Dini jadi merona sendiri melihat sang adik sepupu dilamar oleh Adhi.
"Jadi ini yang Papa bilang misi khusus tadi? kenapa gak cerita sih kalau akan ada yang bikin baper gini?" Tata protes kepada sang suami.
"Namanya juga rahasia ma, kalau udah ketauan jadi gak asik dong" seloroh Surya.
"Papa juga tau?" kini giliran Dini yang bertanya kepada Hendro.
"Tau dong" Hendro menjawab dengan bangga juga.
"Issshhhh kalian ini ya para lelaki memang benar-benar deh" Dini tidak habis pikir dengan ulah ketiga pria itu.
"Maaf ya jadi bikin heboh dan pake rahasia-rahasiaan segala" Adhi merasa tidak enak hati kepada Tata dan Dini.
"Seharusnya kakak bilang sama aku dan Dini juga, kan kami jadi bisa ikut andil ngerjain Sekar dulu" Tata masih gemas.
"Iya, setidaknya mungkin Sekar bisa nangis dulu gitu loh" Dini menyetujui perkataan Tata.
"Ishhhh kakak berdua kok jahat banget sih, tadi aja aku udah mau pingsan saking kagetnya, masih aja mau dibikin nangis segala" Sekar merajuk kepada dua wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu.
"Kamu beneran mau pingsan tadi?" Adhi bertanya sama Sekar.
"Iya lah, gak ada angin gak ada hujan tau-tau diajak ke atas panggung trus dilamar di depan orang banyak, gimana gak syok coba" Sekar mengutarakan isi hatinya.
"Tapi kamu suka kann?" Dini menggoda.
"Ciye ciyeeeee" Tata menimpali.
__ADS_1
"Ishhhh kakkkkkk" Sekar merah merona.
"Ciyeeee ciyeeeeee" gelak tawa pun terdengar bersahut-sahutan saat Sekar terlihat salah tingkah.
"Udah dong, kasihan kan sayangnya aku jadi malu digodain terus" Adhi membela kekasihnya.
"Ciyeeee yang sayangnya aku" Dini dan Tata semakin tergelak.
..........
Setelah suasana kondusif, mereka pun makan bersama dengan perasaan yang bahagia.
"Kak aku ke toilet sebentar ya" Sekar kemudian berdiri.
"Biar aku antar ya?" Adhi ikut berdiri.
"Hey kau mau ngintip ya?" Surya berseloroh.
"Apa sih, orang cuma nganterin doang kok" Adhi tidak peduli dengan ucapan keduanya.
"Aku sendiri saja kak, deket kok" Sekar masih malu karena sepanjang siang ini ia jadi korban digodain orang-orang disekitarnya.
"Serius?" Adhi bertanya.
"Iya kak, gakpapa" Sekar kemudian berjalan meninggalkan tempat mereka beristirahat.
"Mentaaaaa" Selang beberapa menit kemudian teriakan histeris terdengar ketika Menta yang sedang digendong oleh Tata direbut paksa oleh gerombolan orang asing dan dibawa lari.
"Hey!!!" Surya yang melihat sang putri diculik langsung mengejarnya.
__ADS_1
Adhi dan Hendro yang melihat kejadian itu pun sontak berlari membantu Surya mengejar sang putri. Baku hantam terjadi begitu sengit. Gerombolan sang penculik yang berjumlah empat orang melawan tiga pria tampan itu dengan menggunakan senjata tajam. Masing-masing pria lawan satu orang, sementara yang satunya menggendong Menta sambil meletakkan sebuah belati ke dekat leher bayi mungil itu.
"Mentaaaaa" Tata berteriak histeris ketika sang putri ditodongkan senjata oleh pria yang tidak lain adalah Tyo kakak kandungnya. Dini yang berdiri di sebelahnya sambil menggedong Runi hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya itu agar tetap kuat.
"Jangan mendekat dan lepaskan mereka, kalau tidak anak ini akan mati ditanganku!" Tyo mengancam Tata.
"Tidak, lepaskan putriku, kenapa kau berbuat seperti itu? dia tidak bersalah!" Tata berteriak sejadi-jadinya.
BRUKK,
Tiba-tiba dari arah belakang Sekar yang baru kembali dari toilet dan melihat kejadian itu langsung memukul kepala Tyo dengan sebuah kayu.
"Mentaaaa" Tata reflek meraih putrinya sepersekian detik sebelum Tyo tumbang.
"Kakkkk" Sekar langsung berlari ke arah Tata dan Dini. Ia Tetap memegang kayunya untuk berjaga-jaga bila gerombolan itu mendekat ke arah mereka.
Melihat pemimpinnya tumbang, ketiga pelaku tersebut langsung berusaha melarikan diri. Namun tidak lama kemudian tim keamanan Kebun Binatang datang dan membekuk keempat pelaku tersebut dengan sigapnya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Surya memeluk istri dan anaknya. Sementara Tata yang masih syok hanya bisa menangis terisak dipelukan sang suami yang berlumuran darah akibat terkena sabetan senjata tajam sang pelaku di bagian lengannya.
Sementara Hendro dan Adhi yang juga berlumuran darah mendekat ke wanitanya masing-masing.
"Papa berdarah" Dini yang sedang menggendong Runi menatap telapak tangan Hendro yang basah dan berwarna merah pekat dengan sangat ngeri.
"Tidak apa-apa ma" kata Hendro menenangkan.
"Kak?" Sekar memegang wajah Adhi yang babak belur dengan bagian bibir dan pelipis yang berdarah serta lebam.
"Aku baik-baik saja sayang" Adhi memeluk Sekar dengan erat.
__ADS_1
Acara piknik bersama yang seharusnya bahagia malah berakhir dengan sangat mengerikan dan menyisakan trauma untuk mereka semua terutama Tata.