
Lima bulan berjalan begitu cepat setelah Mentari lahir. Kini hanya ada kebahagiaan saja yang dirasakan oleh keluarga kecil Tata dan Surya.
"Ma, ini barusan Hendro telpon papa untuk mengabari kalau Dini sudah berada di rumah sakit dan mau melahirkan" Surya memberikan kabar tentang sahabat Tata saat mereka hendak beranjak untuk tidur.
"Yang benar pa?" Tata terkejut sekaligus senang mendengarnya.
"Iya ma" Surya hanya mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang" Tata ingin segera melihat kondisi sang sahabat.
"Ini kan sudah malam ma, besok pagi saja bagaimana?" Surya mencoba membujuk Tata.
"Tapi pa, mama ingin ada di samping Dini" rasa solidaritasnya sangat tinggi, mengingat selama ini hanya Dini saja yang selalu setia berada di sisinya saat Tata mengalami situasi yang sulit.
"Tapi kita berdua saja ya kalau begitu, Menta tidak usah ikut" Surya tidak ingin sang Putri keluar rumah pada malam hari.
"Tentu saja, mama memang tidak ingin mengajak Menta, biar mbak Alya saja nanti yang menjaganya di rumah" kata wanita itu.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita siap-siap" kemudian Surya dan Tata berganti pakaian.
..........
"Sayang selamat ya bayinya cantik sekali" kata Tata dengan senyum sejuta watt ketika melihat Dini sedang menyusui bayinya.
Ketika tiba di rumah sakit ternyata Dini sudah melahirkan dan sudah berada di dalam kamar rawat bersama bayi dan suaminya. Adhi sang asisten Surya yang juga teman Hendro pun sudah berada di sana untuk menemani Hendro mendampingi istrinya bersalin.
"Terima kasih Ta" Dini tersenyum bahagia melihat sahabatnya datang tidak lama setelah mendapat kabar.
"Uhhhh cantik sekali anak mama Dini" Tata mengelus pipi bayi merah itu.
"Terima kasih tante Tata" jawab Dini dengan meniru suara anak kecil.
"Siapa namanya?" Surya bertanya kepada Hendro dan Dini.
"Belum ada tuan, sejujurnya saya masih bingung mau memberi nama apa" Hendro menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa boleh aku menyumbang nama?" Surya yang sudah menganggap Hendro dan Dini seperti keluarga sendiri ingin berkontribusi.
Baginya kedua orang dihadapannya ini adalah orang-orang yang setia dan bisa dipercaya dalam segala kondisi. Hal ini sudah terbukti ketika dirinya dan Tata hampir bercerai dulu, dengan setianya mereka mendampingi Tata meskipun tau bahwa Tata sudah tidak memiliki apapun dan hidup susah sebatang kara dalam keadaan hamil. Oleh sebab itulah Surya menyayangi keduanya seperti adiknya sendiri, sama seperti ia menyayangi Adhi sang asisten yang begitu setia melayaninya selama bertahun-tahun dalam suka dan duka, bahkan ketika dulu tabiat Surya sangat buruk sekali pun Adhi tetap bertahan di sisinya.
"Apakah anda bersedia memberi nama untuk putri kami?" Hendro menatap tak percaya.
"Tentu saja, tapi itupun kalau kau dan istrimu tidak keberatan" jawab Surya.
"Tidak, sama sekali tidak, justru itu adalah sebuah kehormatan bagi kami" Hendro sangat bahagia mendengarnya.
"Karena aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri, bagaimana kalau diberi nama Arunika yang artinya matahari terbit" Surya berpendapat.
__ADS_1
"Wahhh nama yang sangat unik, sayang bagaimana pendapatmu?" Hendro bertanya kepada Dini.
"Tentu saja aku sangat setuju, nama yang sangat cantik" Dini sangat bersyukur karena Surya menganggap bayinya seperti anak sendiri.
"Bagus, kalau begitu namanya Putri Arunika saja" kata Hendro dengan bahagia.
"Halo Arunika" Tata menyapa bayi yang baru diberi nama itu dengan manis.
Obrolan seru pun terjadi di ruang rawat itu diantara ke lima orang yang sudah saling menganggap satu sama lain seperti layaknya keluarga sendiri.
Tok Tok Tok,, Suara pintu kamar rawat berbunyi tanda ada orang yang ingin masuk.
"Masuk" jawab Hendro dan Dini secara bersamaan.
"Kak Dini" seorang gadis cantik langsung berhamburan memeluk Dini.
"Dek kamu sudah datang?" Dini senang melihat gadis ini datang.
"Iya, tadi waktu mama telpon dari luar negeri dan bilang kakak sudah lahiran aku langsung berangkat" jawab gadis cantik itu.
"Ohhhh" Dini hanya ber oh Ria.
"Kak Tata?" setelah menjawab pertanyaan Dini, kini gadis itu menyapa Tata.
"Hai Sekar, apa kabar?" Tata membalas sapaannya.
"Syukurlah, oya katanya kamu sudah kuliah ya sekarang?" Tata bertanya lagi.
"Iya kak, lagi mau cari kerja nih buat sambilan kayak kak Tata dulu hehehehe" jawab Sekar dengan polosnya.
"Semoga cepat dapat ya pekerjaannya" Tata mendoakan.
"Amin" Sekar mengamini.
Sekar adalah adik sepupu Dini yang tinggal di rumah orang tua Dini dan sudah dianggap anak sendiri sejak gadis itu masih kecil karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Hampir setiap kali Tata bermain ke rumah orang tua Dini ia selalu bertemu dengan Sekar sehingga keduanya cukup akrab. Namun demikian ia kini hanya tinggal sendiri di rumah orang tua Dini karena kedua orang tuanya bertugas di luar negeri sementara Dini yang setelah menikah tinggal di rumah Hendro.
"Hei, kau kenapa? seperti orang kesambet saja!" Surya bertanya kepada Adhi yang sejak tadi hanya diam saja menatap Sekar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eh kenapa bos?" Adhi gelagepan.
"Apa kau sakit?" Surya bertanya lagi.
"Ah tidak kok, saya baik-baik saja" jawab Adhi dengan sok cool.
"Ck, dasar kau!" Surya tersenyum jahil melihat sikap Adhi yang agak berubah.
"Oh ya kak Surya dan kak Adhi, kenalkan ini adik aku, namanya Sekar" Dini memperkenalkan Sekar kepada Surya dan Adhi.
__ADS_1
"Sekar, ini kak Surya suaminya Tata sekaligus bosnya Kak Hendro. Kalau ini kak Adhi, teman kak Hendro sekaligus asisten kak Surya juga" Dini menjelaskan kepada adik sepupunya sambil menunjuk ke arah Surya dan Adhi.
"Hai Sekar" Surya melambaikan tangannya.
"Hai kak Surya" jawab Sekar dengan ramah.
"Halo Sekar" Adhi salah tingkah.
"Halo kak Adhi" balasnya kepada Adhi.
"Aku sering dengar cerita kamu dari Tata" kata Surya.
"Wah benarkah?" Sekar senang karena Tata selalu baik padanya.
"Iya, katanya kamu dan Dini selalu menolongnya jika sedang mengalami kesusahan" Surya memang tipikal orang yang tau berterima kasih.
"Ah kak Tata berlebihan" Sekar jadi malu karena sanjungan Surya.
"Tapi itu kan benar, kamu selalu bantu aku kalau lagi membutuhkan sesuatu" Tata menegaskan.
"Aku hanya bisa bantu yang aku bisa lakukan saja kok kak" Sekar memang tipikal gadis yang baik.
Akhirnya obrolan seru pun berlanjut hingga larut malam dan Tata harus pamit karena sudah meninggalkan Mentari di rumah cukup lama.
"Sayang aku pulang dulu ya, besok aku datang lagi sama Menta" Tata berpamitan.
"Terima kasih ya Tata, hati-hati di jalan" kata Dini.
"Eh kak, aku juga pulang dulu ya, besok datang lagi" Sekar pun ikut pamit.
"Kamu sama siapa?" Dini bertanya.
"Sendiri kak, naik ojol" jawabnya santai.
"Ini sudah malam loh, bahaya" Dini khawatir.
"Kamu bareng aku saja" Tata menawarkan diri.
"Eh jangan kak, kan tempatnya berlawanan arah dan jaraknya jauh" Sekar tidak enak.
"Adhi, antarkan Sekar ya" tiba-tiba Surya memerintah asistennya.
"Siap bos" dengan sigap Adhi menerima tugasnya dengan gembira.
"Awas jangan macam-macam!" Surya yang sudah melihat gelagat Adhi yang sepertinya menyukai Sekar memang sengaja memberikan peluang pada anak buahnya itu untuk bisa melakukan pendekatan.
"Tenang saja bos, dijamin aman" Adhi meyakinkan Surya.
__ADS_1
Akhirnya keempat orang itu pun berpamitan pulang dan meninggalkan Hendro serta Dini di ruang rawat bersama bayi mereka.