My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)

My Cold CEO (Cinta Seluas TataSurya)
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Sayang" Tata bergelayut manja di lengan Surya yang sedang duduk di ruang keluarga selepas mereka pulang dari bertemu dengan Dini.


"Hemmm" seperti biasa dia hanya menjawabnya dengan singkat.


"Terima kasih ya untuk hari ini karena kau sudah mengijinkan aku bertemu dengan Dini sahabatku" Tata mengecup pipi suaminya dengan mesra.


"Hanya terima kasih?" Surya masih dengan mode datarnya.


"Aku sudah masakkan makanan kesukaanmu, ayo kita makan malam!" Tata yang sudah paham bahwa maksud Surya adalah urusan ranjang mengalihkannya dengan menu makanan.


"Hanya masakan saja?" Surya terlihat kecewa.


"Jadi kau tidak mau makan masakanku?" Tata pun tak kalah kecewa.


"Aku mau makan masakanmu, tapi aku juga mau meminta hadiah yang lain!" Surya sudah tidak terbantahkan lagi jika ia sudah memberi kode seperti ini.


"Baiklah, tapi nanti ya setelah kita makan" Tata membujuk sang suami.


"Janji?" Surya menatap sang istri.


"Iya, memangnya aku pernah menolakmu?" Tata mencubit pipi suami dengan gemas.


"Oke kalau begitu ayo" Surya kemudian berdiri.

__ADS_1


Mereka makan malam dengan diselingi obrolan ringan tentang hubungan Dini dan Hendro. Keduanya benar-benar tidak menyangka bahwa mereka berada di lingkaran sosial yang sangat dekat.


..........


"Kau ini semakin hari semakin liar saja ya ternyata?" Surya yang merasa sangat puas dilayani oleh sang istri membelai wajah cantik Tata dengan lembut setelah mereka selesai bergulat.


"Apa kau suka?" Tata menggoda Surya.


"Menurutmu?" Surya malah bertanya balik sambil terus meremas aset berharga milik istrinya.


"Tentu saja kau menyukainya, kalau tidak mana mungkin kau memujiku?" Tata berkata dengan penuh percaya diri.


"Ck, kau juga sudah jauh lebih percaya diri ya rupanya?" Surya berdecak melihat sang istri yang semakin hari semakin ekspresif dalam berkomunikasi dengannya.


"Tapi kalau cuma sekali doang sih tidak terasa!" Surya memberi kode agar mereka mengulang permainannya kembali.


"Ishhhh kau ini, aku tidak mau ah!" Tata melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Heiii kau mau kemana?" Surya memanggil sang istri yang sudah beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku mau bersih-bersih" Tata berlari menuju kamar mandi karena tidak mau mengulangi lagi permainan yang cukup menguras tenaganya itu.


"Heiiii percuma saja kau bersih-bersih, nanti setelah naik ke atas tempat tidur juga kotor lagi!" Surya menyeringai jahil.

__ADS_1


"Tidakkkk, aku tidak mau!" Tata yang mendengar langsung berteriak untuk menolaknya dari dalam kamar mandi, sontak membuat Surya tergelak.


Sambil menunggu sang istri kembali dari kamar mandi, Surya pun kemudian meraih ponsel sang istri dari nakas. Surya begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Tata selama ia mendapatkan ponsel barunya itu. Surya mulai membuka Galeri, ia tidak menemukan gambar apapun di sana karena Tata belum pernah mengambil gambar dari kamerannya sekalipun. Dengan sigap Surya pun kemudian mengambil foto dirinya dengan mode selfie. Meskipun dalam keadaan rambut yang tidak rapih akibat habis bergulat dengan sang istri, namun wajahnya di foto tetaplah tampan dan menawan.


Setelah selesai dengan berfoto ria, ia melanjutkan melihat-lihat aplikasi media sosial yang dipakai oleh sang istri. Hanya ada beberapa media sosial yang diunduh di ponsel itu. Isi media sosialnya pun tidak banyak karena Tata hanya menggunakannya sebagai alat komunikasi dengan teman-teman dekatnya saja tanpa banyak postingan gambar atau tulisan tentang dirinya.


Sesudah puas melihat media sosial, kini ia beralih ke pesan singkat. Hanya ada dua nama yang ada di daftar aplikasi pesan singkat itu, yaitu nama Surya dan Dini. Karena penasaran akhirnya Surya pun membuka pesan singkat istrinya dan juga Dini. Ia men-scroll pesan itu mulai dari awal. Surya mulai membacanya dengan seksama. Ia yang membaca percakapan antara kedua wanita itu dengan detail sontak membulatkan matanya saat mendapati isi dan curahan hati sang istri kepada sahabatnya itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa Tata akan bercerita begitu detail tentang hal-hal yang dialaminya kepada sang sahabat selama kehidupan pernikahannya berlangsung. Tubuh Surya begitu lemas ketika mendapati kenyataan bahwa Tata selama ini sangat tertekan menikah dengannya. Rayuan-rayuan yang belakangan ini dilakukan Tata pun sesungguhnya hanyalah sebagai benteng pertahanan diri agar Surya tidak menyakitinya. Pelayanan yang selalu di lakukan Tata di atas ranjang pun tak lain hanya sebagai budak pelampiasan ***** Surya saja tanpa adanya rasa cinta sama sekali. Yang paling mencengangkan baginya adalah bahkan Tata berusaha menjadikan Surya budak cintanya agar seluruh keinginan Tata terpenuhi tanpa perlu repot-repot melawan Surya.


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Surya dengan sigap mematikan ponsel Tata dan mengembalikannya ke atas nakas dan kemudian berpura-pura sudah tidur.


"Sayang, kau sudah tidur?" Tata naik ke atas tempat tidur dan menatap sang suami yang sudah memejamkan mata.


"Tumben sekali sih kau sudah tidur sebelum aku?" Tata mendekatkan dirinya ke Surya dan mengecup bibir suaminya dengan lembut.


"Selamat malam sayang, selamat istirahat ya, semoga mimpimu indah" Tata kemudian merebahkan kepalanya di atas dada bidang suaminya dan memeluk tubuh atletis itu dengan erat seperti malam-malam sebelumnya saat mereka pergi tidur bersama.


Surya menunggu beberapa saat sampai nafas sang istri teratur tanda sudah terlelap. Ia mengusap pipi Tata dengan lembut dan mengecup keningnya.


"Apa kau semenderita itu hidup bersamaku? apakah tidak ada cinta untukku sama sekali dihatimu? kalau tidak ada, lalu kenapa belakangan ini aku merasa kalau sikapmu mulai tulus kepadaku? meskipun aku tau di awal pernikahan kita dulu kau memang sangat membenciku!" Surya terus saja bermonolog dalam hatinya dan merasa hatinya bagai tersayat pisau mendapati kenyataan pahit ini.


"Apa kau tau kalau aku menikahimu karena aku memang benar-benar mencintaimu sejak pandangan pertama kita di cafe saat itu? Aku hanya menjadikan hutang Tyo sebagai alasan saja untuk dapat memilikimu, sesungguhnya aku bisa saja dengan mudah mengiklaskan uang dua milyar itu dan memilih memenjarakan Tyo, tapi aku lebih memilih jalan menikahimu karena aku benar-benar mencintaimu!" tanpa terasa air mata menetes dari sudut mata Surya.


Malam itu Surya benar-benar gelisah dan tidak bisa tidur sama sekali. Ia seperti benar-benar hancur berkeping-keping mendapati semua kenyataan pahit itu.

__ADS_1


__ADS_2