
Setelah drama ngidam dan kehamilan Tata yang sangat rewel, akhirnya kini Surya bisa bernafas lega saat sang istri sudah memasuki masa-masa mendekati persalinan. Perasaan galau yang awalnya dia rasakan karena efek hormon kehamilan sang istri, kini berubah menjadi perasaan cemas menanti kelahiran sang buah hati.
"Ma, udah dong jangan banyak gerak, papa ngeri deh liat mama dari tadi mondar mandir beresin rumah, biarin asisten rumah tangga aja yang kerjain semuanya ma" Surya yang lebih memilih banyak bekerja dari rumah menjelang kelahiran bayinya sangat frustasi melihat sang istri yang tidak bisa diam.
"Justru kata dokter kalau mama banyak gerak akan membantu mempermudah kelahiran pa" Tata menjawab sang suami sambil menyapu lantai.
"Ya tapi gak harus yang berat-berat juga kan gerakannya?" Surya meraih sapu dari tangan sang istri.
"Berat dari mana sih pa? mama kan cuma nyapu doang!" sejak kehamilan pertama dulu Surya memang sangat over protect terhadap sang istri bila sudah melihat tubuh ibu hamil itu mulai bengkak semua.
"Udah ya cukup, liat deh kaki mama udah bengkak semua gitu" Surya kemudian memapah sang istri ke dalam kamar mereka.
"Papa drama deh" Tata benar-benar tidak habis pikir.
"Sini mending papa pijitin mama aja ya, mama pasti suka deh" pria itu kemudian mengangkat kaki Tata dan meletakkannya di atas pahanya sambil menyeringai jahil.
"Paaaaa kok mijitnya jadi kemana-mana sih? kebiasaan deh!" Tata protes.
"Papa kangen sama adek ma" bisiknya di telinga sang istri.
__ADS_1
"Tuh kan feeling mama bener, papa cuma modus doang ini mah" Tata menepuk tangan Surya yang sudah hampir tidak terkondisikan.
"Kan kalau kata pepatah bilang sekali mendayung dua tiga pulau terlewati ma hehehe" Surya terkekeh.
"Ck" Tata berdecak namun tetap tak bergeming menerima perlakuan sang suami.
"Mama kenapa sih semakin hari semakin tambah seksi aja, semakin deket waktunya lahiran papa jadi makin gemes deh rasanya" Surya sudah tertutup kabut asmara.
"Ishhhh dasar gombal!" kata Tata sambil mencebikkan bibirnya.
"Maaaa mama dimana?" tiba-tiba terdengar suara Menta yang mencari-cari sang mama.
"Ma kita jadi kan jalan-jalan sore ke danau?" kepala Menta menyembul dari balik pintu.
"Jadi dong cantik" Tata mengangguk.
"Loh mama mau pergi?" Surya bertanya.
"Iya, Mama, Menta, Dini, Runi, Sekar dan Adit sudah janjian mau jalan-jalan ke taman sore ini" kata Tata dengan senyum geli melihat ekspresi sang suami yang kecewa karena misinya gagal.
__ADS_1
"Trus papa sama siapa dong di rumah?" Surya protes.
"Papa sama Om Adhi dan Om Hendro saja" kata Menta.
"Kakak sama tante Dini dan tante Sekar saja ya jalan-jalannya? mama kasihan loh sudah susah jalan!" Surya bernegosiasi dengan sang putri sulung.
"Justru karena susah jalan makanya latihan pa sambil keliling danau, iya kan ma?" Menta menatap sang mama untuk mencari dukungan.
"Iya sayang, kakak benar" jawab Tata sambil menahan tawanya.
"Yah, gagal dong papa mendayungnya?" pria itu menghela nafas dengan berat.
"Mendayungnya kapan-kapan saja ya pa" Tata berbisik di telinga sang suami sambil menepuk bahunya.
"Hufff nasibbbb" Surya pun hanya bisa pasrah menerima nasibnya yang gagal bermesraan dengan sang istri.
"Ya sudah mama siap-siap dulu ya kak" Tata kemudian mencari pakaian yang cocok untuknya di lemari.
"Oke, kakak tunggu di halaman ya ma sama Runi" kata Menta.
__ADS_1
"Iya sayang" angguk wanita hamil itu kepada putrinya.