
"Tante Ami sudah datang ya?" Ananda yang baru selesai memasak menyambut tamunya.
"Halo Ananda, apa kabar?" nyonya besar Ami atau mama Surya menyapa Ananda sambil memeluk dan menciumnya.
"Kabar baik tante" Ananda membalas pelukan dan ciuman nyonya besar Ami.
"Oh iya ini siapa tante?" Ananda menatap Tata dengan ramah.
"Ini menantuku Tata" jawab nyonya Ami.
"Wahhh ternyata lebih cantik dari yang aku bayangkan ya" Ananda berkata dengan lembut.
"Halo nyonya, perkenalkan saya Tata" Tata mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Halo, Aku Ananda" Ananda Tersenyum manis.
"Senang berkenalan dengan anda nyonya Ananda" Tata masih sangat formal.
"Jangan panggil nyonya, panggil Ananda saja supaya lebih akrab" kata Ananda.
"Tapi kan anda lebih tua, tidak sopan rasanya" Tata begitu paham sopan santun.
"Kalau begitu panggil saja Kak Nanda, bagaimana?" Ananda memberi usul.
__ADS_1
"Baiklah, kak Nanda" Tata menyetujuinya.
"Nah bagus, oya tante, Tata silahkan masuk" Ananda mempersilahkan tamunya masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang sangat megah itu.
"Dimana mamamu Ananda?" nyonya Ami bertanya tentang keberadaan nyonya Merlyn.
"Oh mama masih di jalan sama aunty Ruth, mungkin sebentar lagi baru akan sampai" Ananda memberikan informasi.
"Apa mereka dari rumah utama Anderson?" nyonya Ami bertanya lagi.
"Iya tante, mama dan aunty baru tiba dari Eropa, jadi mereka belum sempat ke sini" jawab Ananda lagi.
"Lalu dimana Ayu dan Maya?" nyonya Ami bertanya tentang keberadaan dua wanita yang selalu bersama-sama dengan Ananda setiap kali acara arisan di lakukan.
"Mereka ada di dapur, sedang menata masakan untuk kita makan nanti" sudah tidak heran jika keluarga Anderson selalu memasak semua menu untuk acara arisan ibu-ibu.
"Kami semua hobi memasak tante, jadi dengan acara yang seperti ini justru membuat kami jadi bisa bereksperimen lebih banyak lagi" Ananda paham bahwa maksud dari perkataan nyonya Ami adalah sebenarnya mencibir mereka.
"Ya sudah terserah kalian lah" nyonya Ami akhirnya tidak mau ambil pusing.
"Oya Tata, aku dengar kalau Tata memiliki cafe di pusat kota ya?" Ananda bertanya.
"Kak Nanda tau?" Tata cukup terkejut dengan Ananda.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu suamiku habis meeting dengan suamimu untuk membahas proyek terbaru mereka, katanya mereka pergi ke cafe milikmu" Ananda menjelaskan.
"Oh begitu ya" Tata sangat senang karena ternyata ada orang kaya yang mengetahui tentang dirinya.
"Aku juga pernah mendengar tentang kondisi suamimu yang terkena sindrom simpatik beberapa bulan lalu" Ananda menceritakan dengan antusias semua hal yang dia dengar dari Mike saat melihat Surya terlihat lemas dan lemah akibat sindrom simpatik yang dialaminya saat Tata hamil muda.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata kak Nanda sampai tau cerita itu" Tata benar-benar merasa Ananda begitu baik dan ramah.
"Tentu saja aku tau, kan suamiku dan suamimu itu bekerja sama cukup lama, mereka sering meeting dan saling bertukar cerita" jelas Ananda.
"Aku sungguh senang mendengarnya kak" Tata tersenyum bahagia.
"Tante Ami" Ayu dan Maya yang sudah selesai menyiapkan makanan di dapur langsung menyapa nyonya Ami.
"Ini siapa tante?" tanya Maya.
"Ini menantuku" jawab nyonya Ami.
"Oh ini Tata ya? halo aku Ayu dan ini Ibu Maya" kata Ayu sambil mengulurkan tangan.
"Halo kak Ayu" Tata menyapa Ayu yang tidak kalah ramahnya dengan Ananda.
"Halo Tata" kata Maya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Halo Ibu Maya" Tata membalas senyuman Maya.
Setelah saling berkenalan mereka pun ngobrol dengan akrabnya. Mereka cukup lama mengobrol sambil menunggu anggota arisan yang lainnya datang, karena Tata dan nyonya Ami memang datang lebih awal dari jam yang sudah ditentukan. Tata yang melihat keramahan ketiga wanita kaya di depannya pun jadi merasa tidak canggung sama sekali. Bayangan tentang karakter ibu-ibu sosialita yang sombong dan angkuh pun langsung terpatahkan ketika ia mengenal Ananda, Ayu dan Maya. Dengan mudah ia bisa langsung berbaur, membuat nyonya Ami menjadi kesal sendiri karena rencananya untuk mempermalukan Tata di depan para nyonya sosialita gagal total.