
Vika berdesir saat suara maskulin itu berucap akan menikahinya, tapi Vika tidak dapat menerimanya dan langsung menjawab tidak akan keputusan Marcel. Dia terikat sumpah dan satu-satunya pria yang dapat dinikahinya adalah Markus
Wajah Marcel mengerut bingung mrndengar jawaban Vika
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa menikah denganmu, aku tidak mrncintaimu" jawab Vika akhirnya. Alasan klasik, cinta bukanlah dasar pernikahan masa kini. Marcel juga mau menikahi gadis itu hanya sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan bejatnya bukan karena cinta
"Jadi, apa yang harus kulakukan? Tanya Marcel akhirnya, tidak ingin memperpanjang masalah itu lagi. Wanita itu tidak ingin dia bertanggung jawab maka dia akan menuruti keinginan wanita itu. Vika menggeleng
"Kamu tidak perlu melakukan apapun! Ini kecelakaan, jadi lupakan saja semuanya" kata Vika memantapkan hati sedangkan Marcel menghelakan nafasnya malas
"Oke"jawabnya singkat, lagian dia tidak dirugikan dengan keputusan itu
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Marcel lagi memandang penuh perhatian pada Vika yang terlihat bingung
Gadis itu mencoba kembali bergerak dan dia kembali kesakitan. Peristiwa semalam membuat tubuhnya kesakitan di semua tempat. Pria itu benar-benar kehilangan akal ketika menyetubuhinya semalam.
Marcel yang mengerti keadaan langsung berinisiatif mengangkat Vika dengan gaya bridal, Vika yang terkejut langsung mengalungkan tangannya ke leher Marcel spontan, membuat keduanya saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat
Vika menelan ludah. Pria ini benar-benar tampan, garis wajahnya tegas, rahangnya mempesona, bibirnya begitu menggoda,hidungnya mancung,matanya tajam dan tubuhnya atletis. Marcel benar-benar pria incaran kaum wanita
Andai Vika tidak terikat sumpah, mungkin dia sudah jatuh cinta pada pria pertamanya itu. Pertama mengambil ciuman pertamanya dan pertama merenggut keperawanannya
__ADS_1
"Kamu ingin membersihkan diri kan?" tanya Marcel memandang wajah Vika yang terpana padanya. Terkejut, Vika langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Marcel yang mulai melangkah mengabaikan wajah wanita itu yang memerah
Marcel membawa Vika menuju kamar mandi dan menurunkannya dengan perlahan ketika sampai. Vika masih bersemu merah, menahan malu dan Marcel tidak sedikitpun memperdulikan itu
"Bagaimana? Kamu bisa mandi sendiri atau kubantu?" tanya Marcel, Vika spontan menggeleng
"Aku bisa sendiri" jawab Vika cepat. Dimandiin pria itu! Yang benat saja! Yang ada, akan terjadi ronde selanjutnya di kamar mandi. Marcel mengangkat bahu
" Yasudah kalau begitu, kamu mandi! Kalau sudah selesai panggil aku dan ini handuknya" kata Marcel dan melangkah keluar
Vika memandang kamar mandi itu, barang- barang tersusun dengan sangat rapi dan bau maskulin khas pria menyeruak hidungnya. Pria itu terlalu sempurna bahkan kamar mandinya pun sempurna, pikir Vika takjub
Vika mulai melangkah dengan sangat pelan menuju wastafel dan matanya membulat sempurna saat melihat leher, bahu ,dada, perut, bahkan paha bagian dalamnya penuh dengan tanda merah. Vika menyentuh bayangannya di cermin wastafel, tubuhnya sudah seperti macan loreng, penuh dengan tompel merah keunguan
Vika juga menatap tidak percaya pada tangannya yang sudah jauh dari kata polos, jika dulu tangannya pernah menyentuh sesuatu dibalik celana Marcel berlapis kain, semalam dirinya memainkannya dengan polos tanpa lapisan apapun. Wajahnya semakin memerah mengingat saat-saat itu, dia sudah gila sepertinya
Vika bersyukur, berkat hobi gilanya dalam mencuri barang berharga membuatnya mempunyai kekuatan yang cukup kuat dibalik tubuh mungilnya hingga dia mampu mengimbangi kebrutalan Marcel semalam walau dirinya harus merasakan dampaknya pagi ini, tubuhnya kesakitan di semua tempat hari ini dan itu semua wajar mengingat berapa lama mereka bergumul semalam, hampir 4 jam dengan gerakan-gerakan kasar
Marcel yang sudah diluar kamar mulai mengumpulkan pakaian yang berserakan didalam apartemennya. Semua pakaian dan barang-barang Vika diambil dan dikumpulkannya termasuk pakaian dalam gadis itu. Marcel menahan malu ketika menyentuh bra berwarna merah milik Vika
Seharusnya dirinya tidak perlu merasa malu, itu hanya bra sedangkan dirinya bahkan sudah puas menyentuh dan memainkan isinya semalam. Marcel buru-buru melangkah kembali kedalam kamar membawa semua milik Vika
Dilihatnya gadis itu yang keluar dari kamar mandi dengan susah payah berjalan sembari menyender didinding. Namun, bukan itu masalahnya, wanita itu keluar dalam keadaan segar hanya dengan selembar handuk, penampilan seksi wanita itu membuat Marcel menelan ludah. Marcel merasa dirinya kembali diawani hawa panas hanya dengan memandang wanita itu padahal sebelumnya dia bahkan tidak tertarik pada kaum wanita dan tidak akan tergoda pada para wanita itu sekalipun mereka telanjang di hadapannya. Namun, seorang Vika mampu membuat dirinya menegang kembali dan ingin mengulangi lagi peristiwa semalam
__ADS_1
Dengan susah payah Marcel mengatur inti tubuhnya yang kembali bangun dari tidurnya
"Oh ayolah Marcel! Baru semalam kamu menyerangnya dengan brutal dan kamu puas dengan hasilnya. Jadi, jangan sampai kamu hilang kendali lagi pagi ini. Wanita itu masih sangat kesakitan jadi jangan macam-macam" batinnya memperingatkan
Marcel mendekat dan menyerahkan pakaian yang masih dipakai Vika ketangan gadis itu dan berbalik kembali hendak keluar. Dia tidak sempat memesan pakaian lain untuk Vika
"Kalau untuk pakaiannya kamu bisa memakai salah satu pakaianku dalam lemari untuk saat ini. Bajumu sudah robek semalam" ujarnya sebelum beranjak dengan pandangan yang dialihkan dari Vika, Marcel tidak ingin memandang sesuatu yang bisa membuatnya kembali hilang kendali
"Pakai pakaianmu, setelah ini aku akan mengantarmu pulang" mendengar itu, Vika membulatkan matanya. Mengantarnya pulang? Oh Tuhan! Dia lupa, dia bahkan tidak memberikan kabar apapun pada papanya dirumah
Apa yang akan dikatakan papanya nanti saat melihat keadaan dirinya seperti ini. Vika dengan segera memakai pakaiannya walau sedikit sulit dengan kondisi tubuhnya, wajahnya memerah saat melihat ada pakaian dalamnya didalam pakaian yang diberikan Marcel. Pria itu pasti menyentuhnya, bukan hanya menyentuhnya, pria itu bahkan melepasnya semalam dan bermain dengan isinya
Vika menuju lemari pakaian Marcel dan membukanya, lalu dilihatnya pakaian pria itu tersusun rapi yang terdiri dari kemeja dan jas serta beberapa kaos casual, Vika kembali dibuat terpukau dengan isi lemari pria itu, lalu mulai memilih satu pakaian untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang pakaiannya sudah dirobek Marcel semalam saat mereka bercinta
Sebuah kemeja berwarna hitam menjadi pilihannya, walaupun sedikit kebesaran, gadis itu tetap memakainya karena tidak ada pilihan lain baginya. Vika menghirup bau wangi baju itu, bau Marcel dan kini dirinya juga berbau pria itu karena memakai pakaiannya
"Mudah-mudahan papa nanti tidak marah" gumamnya yang pikirannya masih tertuju pada sang papa yang mungkin akan marah padanya nanti
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏