
Marcel mendesah lesu saat sang istri kini diam seribu bahasa dengannya. Vika percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Lisa
Setelah Eric membawa pulang istri menyebalkannya. Kini, hanya tinggal Vika yang menanggapi datar semua yang disuruh Marcel. Istrinya melakukan apapun yang disuruhnya tanpa lagi membantah seperti dulu dan Marcel tidak menyukai hal itu. Apakah sikap Vika sekarang adalah bentuk dari rasa kecewanya pada dirinya? Pikir Marcel
" Vika.." panggilnya pelan
" Eum" Vika menjawab panggilan sang suami tanpa menatapnya
" Kau percaya dengan kata-kata sepupumu itu?"
" Eum" jawab Vika menanggapi singkat
" Jawablah yang serius Vika. Jangan, cuma eum saja"
" Iya, aku percaya! Bukankah penampilan kamu juga sama dengan suaminya Lisa semalam"
" Tapi...ah sudahlah! Untuk apa juga aku perlu menjelaskannya" Marcel meraup wajahnya lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju kamarnya
" Oh ya, Vika. Besok aku akan mengklarifikasi tentang pencuri V ke publik sekaligus akan menjatuhkan Markus yang telah mencuri hasil kerja perusahaan ku" Vika seketika menoleh menatap suaminya ketika mendengar ujaran itu
" Apa maksudmu akan mengklarifikasi tentang pencuri V. Kamu akan membocorkan identitasku?"
" Aku belum tahu untuk itu. Akan membocorkannya atau tidak! Kita lihat saja besok. Berdoalah semoga aku memiliki kemurahan hati untuk tidak membocorkannya" kata Marcel tersenyum lalu memasuki kamarnya sedang Vika, kini mulai sedikit gugup, jika benar kalau suaminya benar-benar akan membocorkan identitas dirinya
Malamnya, setelah memastikan kalau Marcel sudah tertidur. Vika baru naik keatas ranjang merebahkan dirinya
" Syukurlah Daddymu sudah tertidur sayang" bisik Vika dengan suara kecil pada perutnya, dia sekarang banyak sekali bicara dengan janinnya. Vika membaringkan tubuhnya sembari menatap wajah terpejam suaminya. Entah kesalahpahaman seperti apa yang terjadi antara mereka hingga Vika bahkan tidak punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran pada Marcel, dan sekalinya ingin mengatakan malah tidak kesampaian
__ADS_1
" Selamat malam suamiku" lirihnya lalu mulai terpejam masuk ke alam mimpi
Setelah beberapa menit berlalu, mata tajam yang tadinya terpejam kini kembali terbuka, menatap wajah cantik sang istri yang sudah membuatnya begitu candu. Memastikan kalau Vika sudah benar-benar terlelap, Marcel bangkit terduduk lalu dengan perlahan menunduk pada perut istrinya. Sudah lama sekali rasanya dia tidak menyapa anaknya dalam kandungan sang istri
" Hai jagoan Daddy! Kamu jangan nakal ya didalam sana. Patuhlah pada Mommymu" bisik Marcel pelan dan sesekali melirik pada wajah Vika, berharap istrinya itu tidak terjaga
Marcel mendaratkan satu kecupan pada perut sang istri yang berbalut pakaian
" Tunggu sampai Daddy mengunjungimu lagi ya" lanjutnya sembari tersenyum tipis lalu kembali beralih pada sang istri, menarik pelan tubuh Vika kedekatnya lalu memeluknya dan secara naluriah Vika langsung menyerusuk lebih dalam pada dada bidang sang suami tanpa disadarinya
" Selamat malam juga, istriku" bisik Marcel juga sembari mengecup dahi sang istri dengan penuh kasih
" Mimpi indah"
πππ
Vika menatap layar televisi yang menampilkan berita tentang pengidentifikasi pencuri V. Dengan judul seperti itu membuat Vika berpikir, kalau kemungkinan sang suami akan membocorkan identitasnya. Dia menatap cemas layar yang kini sudah menampilkan wajah tampan sang suami yang berbicara
" Selamat siang semua. Saya disini ingin mengklarifikasi kabar yang sedang banyak dibicarakan terkait pencuri yang mencuri di perusahaan saya" Marcel berucap datar penuh ketegasan.Tidak ada wajah tersenyum ataupun wajah mesum yang biasa dilihat Vika, karena wajah yang ditampilkan Marcel sekarang hanyalah wajah tegas dan serius
" Kami memang sudah mengklarifikasi identitasnya dan kami juga sudah mendapatkan kembali hak kami. Pencuri ini sudah tertangkap dan semua rencana dan pergerakannya serta tujuannya sudah tersimpan dalam harddisk ini" Marcel menunjukkan benda kecil yang disimpannya. Harddisk yang berisi pengakuan sang istri yang direkamnya. Puluhan sinar blaze kamera menyelimuti Marcel yang memegang benda itu. Vika semakin dibuat cemas dengan kata-kata yang akan dikatakan Marcel selanjutnya
Sementara itu di tempat lainnya, Markus menatap berang layar televisinya, dia bahkan sudah melempar barang-barang dimejanya karena kesal
" Marcel sialan" cecarnya melempari televisi yang menampakkan wajah Marcel hingga rusak. Dia sudah berada di ujung tanduk sekarang dan sangatlah menyesal tidak mendalami identitas pencuri V hingga Marcel bisa mengenalinya lebih dulu
Markus meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor pencuri V. Namun, beberapa kali panggilannya tidaklah ada tanggapan dari sang penyalur informasinya itu
__ADS_1
" Kurang ajarr" desisnya dan melempar ponselnya keras hingga tidak berbentuk saat panggilannya sepenuhnya diabaikan pencuri V. Wajahnya sudah memerah karena marah, bahkan karyawannya tidak ada yang berani untuk mengusik bosnya itu
" Ayo berpikir Markus. Kau tidak boleh jatuh seperti ini" ujar Markus sesekali menyugar rambutnya kasar. Semua rencananya yang ingin menghancurkan Marcel sama sekali tidak berjalan sesuai keinginannya
πππ
Telapak sepatunya terdengar mengetuk lantai dalam langkah tenang. Marcel pulang saat malam sudah begitu larut, dimana orang-orang sudah tertidur nyenyak dan hanya keamanan yang tetap terjaga diluar
Dia dibuat kaget saat melihat Vika yang masih terduduk di sofa ruang tamu. Namun, detik berikutnya Marcel tersenyum lucu saat menyadari kalau sang istri sudah tertidur namun, dalam posisi duduk yang bersandar pada bantalan sofa. Marcel yakin, istrinya sangatlah tidak nyaman dengan posisinya sekarang. Apalagi dengan perutnya yang membuncit
Marcel berjalan mendekat, meletakkan jas dan tas kerjanya pelan lalu duduk disamping Vika, memperhatikan wajah tertidur sang istri
" Kenapa masih menungguku? Padahal sudah kubilang, aku akan pulang larut" lirih Marcel terbayang dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini terutama pengonfirmasi langsung hasil produksi perusahaannya yang dicuri. Karena itulah, dia jadi terlambat pulang
" Kamu pasti sangat cemas tadi ya?" tanyanya lagi dengan suara seperti berbisik sembari menyingkirkan sejumput rambut yang menutupi wajah cantik sang istri lalu kembali tersenyum. Marcel bergerak membuka sepatunya lalu dengan sangat perlahan mengangkat tubuh sang istri untuk dipindahkan ke kamar mereka
Vika hanya melenguh pelan dan menelusupkan kepalanya pada celah leher Marcel tanpa sadar membuat sang suami tersenyum ketika bayangannya kembali pada saat pertama dirinya mengangkat Vika seperti ini dan keterpesonaan Vika padanya walau setelahnya Vika menyembunyikan wajahnya di celah lehernya karena malu
Menaiki tangga satu persatu hingga akhirnya sampailah didepan kamar yang menjadi saksi dirinya dengan sang istri menghabiskan malam. Marcel membaringkan Vika dengan sangat pelan dan berhati-hati agar istrinya tidak terusik hingga terjaga. Jangan tanyakan bagaimana jiwa kelelakiannya kini, karena jawabannya tentu saja dia sudah sangat berhasrat. Namun, ada janji yang harus ditepatinya dan sekarang barulah berjalan 4 hari. Masih ada 3 hari lagi mencapai seminggu
" Mimpi indah istriku dan selamat istirahat jagoan Daddy" ucap Marcel sembari mengecup dahi Vika dan mengusap perut sang istri, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan si jagoan lainnya dan setelahnya ikut berbaring serta membawa Vika dalam dekapannya. Tidur sembari memeluk istrinya sekarang sudahlah menjadi kebiasaannya dan Marcel menyukai itu
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkanππ