My Destiny Love

My Destiny Love
41. Bertemu papa


__ADS_3

Vika langsung berhambur dalam pelukan papanya begitu mereka sampai dirumah yang dulunya menjadi tempatnya tinggalnya. Dia begitu merindukan papanya itu


" Wuah putri papa jangan lari-lari, kamu sedang mengandung cucu papa. Bagaimana jika nanti kamu terjatuh! Papa tidak ingin kalian kenapa-kenapa" ujar pak Trisna khawatir saat melihat putrinya langsung berlari memeluknya tanpa peduli dengan Marcel yang berjalan santai menujunya


" Ah papa. Vika kan rindu" mulailah keluar nada manja itu kalau sudah bersama Papanya


" Tapi kamu tetap tidak boleh lari-lari begitu sayang" kata papanya lagi


" Dia memang sulit untuk dibilangin pa. Putri papa terlalu keras kepala" jawab Marcel yang kini sudah bergabung bersama pak Trisna dan juga Vika yang menampilkan wajah kesalnya pada suaminya itu


" Marcel menantuku" Pak Trisna langsung antusias menyambut menantu kesayangannya dengan melepas pelukan putrinya dan beralih memeluk menantu kebanggaannya


" Wuah, papa bangga sekali denganmu, menantuku. Papa melihat kehebatanmu di rapat waktu itu. Kau benar-benar patut diacungin jempol"


" Terima kasih pa, tapi saya tidaklah sehebat itu. Masih perlu banyak belajar"


" Tidak, kamu terlalu merendah" dan keduanya larut dalam pembicaraan bisnis hingga melupakan Vika yang menghentakkan kakinya kesal dengan kelakuan pria beda usia didepannya


" Lihat tuh Daddymu sama kakekmu, mereka laki-laki yang sangat menyebalkan, mengabaikan mommy sendirian seperti ini. Nanti kalau kamu lahir, jangan jadi cowok ya, cewek aja. Biar mommy ada kawan" tutur Vika pada janinnya yang mungkin hanya mampu menepuk jidat dengan tuturan mommynya. Untung saja si janin belum bisa menjawab. Kalau bisa mungkin dia akan menjawab


" Kau gila, mom. Melebihi kegilaan daddy"


πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah serangkai drama pengabaian yang dilakukan ayah dan suaminya, kini Vika beserta suami dan ayahnya mulai menikmati makan malam mereka yang kadang-kadang sedikit diselingi canda sang papa


" Papa berencana akan mewariskan semua harta dan kekayaan papa pada cucu papa nantinya. Bagaimana pendapatmu nak Marcel?" tanya pak Trisna pada Marcel selaku ayah kandung dari cucunya yang juga memiliki kekuasaan dan kekayaan yang sama dengannya


" Saya tidak masalah pa. Saya bahkan bersedia memberikan banyak cucu untuk papa selama istriku sanggup untuk melahirkannya" jawab Marcel melirik pada istrinya disamping


Vika yang mendengar itu terdiam. Memiliki banyak anak dengannya? Bagaimana bisa Marcel mengatakan itu dengan mudahnya? Apa suaminya itu lupa dengan perjanjian tidak tertulis antara mereka? atau Marcel memang tidak pernah memikirkan perjanjian itu?


" Vika...nak.." panggil pak Trisna saat Vika malah terbengong menatap suaminya


" Ah iya pa"


" Kenapa jadi melamun?"


" Maaf pa, Vika hanya terkejut saja dengan pembahasan kalian"

__ADS_1


" Jadi bagaimana?" tanya pak Trisna


" Bagaimana apanya?"


" Kau mau melahirkan banyak cucu untuk papa" Vika melongo menatap papanya dan wajah mesum suaminya


" Tidak, dan berhenti membahas anak dan cucu sekarang. Anak pertamaku bahkan belum lahir dan kalian sudah membahas yang lainnya" ucap Vika kesal yang membuat kedua pria itu terdiam


" Baiklah, papa tidak akan membahasnya lagi. Oh ya, menantuku. Bagaimana perkembangan pencarian identitas pencuri di perusahaanmu?" tanya pak Trisna selanjutnya yang hampir saja membuat Vika tersedak makanan yang dimakannya. Marcel tersenyum sembari melirik pada istrinya


" Lihatkan! Papamu jelas akan menanyai tentang hal ini?" Marcel seakan berkata melalui tatapan matanya


" Jangan beritahu papa yang sebenarnya. Kumohon!!" mimik wajah Vika seakan menampilkan ujaran itu saat membalas tatapan suaminya


" Sebenarnya kami..." Marcel dengan sengaja menggantung ucapannya sembari menatap istrinya yang menahan nafasnya menunggu jawaban yang akan dikeluarkannya


"...belum menemukan bukti jelas untuk identitas pencuri V" Vika menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar lanjutan jawaban suaminya


" Dia tidak beraksi lagi sejauh ini dan mungkin tidak akan pernah lagi melakukan pencurian kalau tidak ingin identitasnya terbongkar" ujar Marcel dengan sengaja sedikit menyindir sang istri


" Jadi, identitasnya belum diketahui! Lalu, apakah ada seseorang yang kau curigai?"


" Tentu ada pa tapi setelah kami identifikasi, ternyata bukanlah dia orangnya"


" Jika tertangkap..." Marcel melirik pada Vika yang terlihat ketakutan dengan senyum dirinya yang penuh maksud


"...tentu saja aku akan memberinya hukuman berat" jawabnya tuntas yang membuat Vika membulatkan matanya dengan jawaban suami gilanya. Kenapa gila? Ya, karena hukuman yang dimaksud suaminya itu tidaklah jauh-jauh dari ranjang


" Ya, papa setuju. Pencuri itu memang harus dihukum berat" pak Trisna mengangguk setuju dengan jawaban menantunya, Vika menatap papanya tidak percaya


" Pa, asal kau tahu saja kalau dirimu baru saja mendorong putrimu dalam kandang harimau buas" batin Vika melirik takut-takut pada suaminya yang menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum mesum


" See, papamu menyetujui semua rencanaku" bisik Marcel pelan ditelinga Vika yang membuat Vika memejamkan matanya sembari membatin


" Sekarang, aku benci laki-laki"


πŸ€πŸ€πŸ€


Marcel memperhatikan istrinya yang sedang memakai pakaiannya sedang Vika hanya menatap kesal suami gilanya itu. Ini sudah kesekian kalinya dirinya berganti pakaian karena protes Marcel yang berkomentar terlalu terbuka lah, terlalu seksi lah, terlalu kurang bahan lah dan sebagainya. Vika ingin sekali rasanya mencakar wajah tampan suaminya itu kalau saja dia tidak ingat, bahwa hari ini mereka akan kerumah sakit untuk memeriksa kesehatan dan kandungannya.

__ADS_1


Sepenuhnya mengabaikan ketelanjangannya didepan suaminya itu sembari memilih pakaian yang paling tertutup dari yang tertutup


" Bagaimana?" tanyanya dengan judes sembari menunjukkan pakaiannya didepan Marcel


" Ini boleh. Cocok untukmu" Marcel memberikan jempolnya sebagai tanda kalau dia menyukai Vika memakai pakaian itu


" Tapi sekarang, kenapa rasanya aku ingin memakanmu ya" Vika membulatkan matanya dengan ujaran itu


" Tidak, aku harus kerumah sakit sekarang. Tidak ada waktu meladeni dirimu" jawab Vika sembari melangkah cepat menjauh dari suaminya yang mungkin akan segera menggila


" Kau tahu, kau terlihat seksi dengan perut yang membuncit" teriak Marcel tersenyum melihat istrinya yang berjalan cepat untuk menjauh darinya


" Seksi darimana nya coba? Oh Tuhan! Suamiku sudah gila" lirih Vika buru-buru menuju mobil sebelum suaminya berubah gila dan akan membuatnya harus seharian diatas ranjang


Didalam mobil, Vika dengan sengaja duduk sangat jauh dari suaminya itu sembari menatap was-was pada tindakan yang akan dilakukan suaminya, dia masih sangat trauma dengan yang pernah dilakukan suaminya dulu didalam mobil dan bukan tidak mungkin Marcel akan mengulanginya lagi


" Kenapa dudukmu begitu?" tanya Marcel heran dengan posisi duduk istrinya yang menempel dengan pintu mobil


" Jangan pedulikan aku. Jalankan saja mobilnya" Marcel menatap istrinya


" Duduklah dengan baik, Vika. Kalau kamu takut aku akan menyerangmu. Kamu bisa tenang sekarang. Aku janji tidak akan melakukannya"


" Janjimu tidak bisa dipercaya"


" Kalau begitu percayalah"


" Aku tidak percaya dengan semua perkataanmu" Marcel menaikkan sebelah alisnya


" Baiklah kalau begitu. Kita realisasikan saja apa yang terbayang di pikiranmu" Marcel malas berdebat, dia melepas sealbeltnya dan mencondongkan tubuhnya pada Vika


" Ba-baiklah, aku akan duduk dengan baik. Kau menjauhlah sekarang" Vika berujar cepat, suaminya benar-benar sangat menyebalkan


" Ah! Tanggung sekali" ujar Marcel tapi menarik dirinya juga saat melihat Vika sudah duduk dengan nyaman


" Oh Tuhan aku ingin sekali mencakar wajah tampannya itu" batin Vika menatap kesal wajah suaminya yang sudah kembali datar sembari mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2