
Hari mereka pindah, Marcel menyetir dengan santai tanpa bicara apa-apa. Begitupun dengan sang istri di sebelahnya, Vika hanya berdiam dengan wajah masamnya, dia masih tidak rela untuk meninggalkan sang ayah sendirian. Vika memang tidak pernah mau jauh-jauh dari ayahnya setelah kepergian sang ibu enam tahun lalu karena sebuah penyakit
Rasa sayangnya pada sang Ayah membuatnya ingin menjadi yang terbaik untuk membanggakan ayahnya walau untuk saat ini harus diakuinya bahwa dia sudah mengecewakan sang ayah dengan kebohongannya. Tinggal menunggu waktu semua kebohongan itu terungkap
Mereka sampai di sebuah perumahan elit tempat tinggal Marcel, tanpa banyak berkata-kata Marcel langsung bertindak membukakan pintu mobilnya untuk Vika lalu beranjak dengan cepat mengambil barang- barang bawaan mereka di bagasi mobil
" Ayo masuk" sebuah kata yang keluar dari bibir pria itu seraya membawa barang Vika di tangan kokohnya. Vika merasa tiap hari akan terpana pada suaminya itu, Marcel benar-benar tergambarkan sebagai pria idaman para wanita dengan kepribadiannya, pria yang tidak banyak bicara tapi lebih banyak bertindak nyata
" Kenapa bengong? Mari masuk" ujar pria itu lagi saat melihat Vika malah terdiam bingung sembari memandangnya. Marcel merangkul pinggang istrinya itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya membawa tas berisikan barang-barang Vika
" Tenanglah sayang, jangan terlalu tegang. Disini tidak ada mertua kejam yang akan memprotes dirimu seperti di film. Jadi, santailah" kata Marcel kembali saat merasakan istrinya itu menegang
" I-iya" Vika tidak lagi mampu untuk menjawab panjang saat matanya melirik pada wajah sang suami. Dapag dirasanya hatinya berdebar dengan kencang hanya karena sebuah perlakuan manis itu dan Vika takut dia akan segera jatuh hati pada sosok Marcel
Mereka memasuki rumah itu dan Vika dibuat cukup terkejut dengan suasana didalamnya, banyak pelayan yang sudah menunggu untuk menyambut mereka dan Vika merasa itu sebagai suasana baru karena biasanya rumahnya tidak seramai ini
Pernah terlintas di benak Vika bagaimana membosankannya kehidupan seorang Marcel yang mungkin hanya berputar pada kerja dan istirahat santai di hari liburnya
Terlihat di dinding ruang tamu penuh dengan frame foto pria itu sejak kecil hingga dewasa bersama dengan kedua orang tuanya yang Vika ketahui sudah lama tiada
" Kamar kita dilantai atas" Marcel memberitahu dan Vika hanya dapat mengangguk seraya mengikuti langkah kaki sang suami menaiki satu persatu anak tangga
" Selama ini kamu tinggal disini?" Vika membuka percakapan dengan pertanyaan bodoh
" Tidak, aku lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen atau Villa di akhir pekan dan biasanya menginap dirumah temanku"
__ADS_1
" Menginap?" bingung Vika
" Hmm..menginap" jawab Marcel terlintas di pikirannya saat betapa jengkelnya Billy yang selalu diganggu olehnya saat pria itu minta menginap di rumah fotografer playboy itu
Marcel membawa Vika ke dalam kamar mereka lalu mulai memperkenalkan Vika tempat- tempat di rumah mewah itu. Melihat luasnya rumah itu terlintas di benak Vika sebuah pertanyaan ' Apa Marcel pernah merasa kesepian dengan hidupnya' karena biasanya rumah besar mewah itu penghuninya hanyalah orang-orang kesepian dengan kehidupan
" Boleh aku bertanya sesuatu?" Vika bertanya hati-hati saat mereka sudah sampai di sebuah taman yang dipenuhi dengan berbagai bunga mawar, tempat itu terlihat dirawat dengan baik dan itu akan sangat wajar melihat banyaknya pelayan yang berlalu lalang
" Hmm, tanyakanlah" Marcel menjawab tanpa melihat pada istrinya itu
" Kamu pernah jatuh cinta?" sebuah senyuman miris tercipta di bibir Marcel saat teringat pada wanita yang pernah mendiami hatinya walau kini nama itu sudah sepenuhnya terhapus serta dirinya begitu membenci sosok wanita yang pernah menjalin kasih dengannya dulu kalau fakta tentang pencuri yang mengambil produksi perusahaannya benar adalah mantannya. Marcel memalingkan wajahnya kesamping tepat pada wajah sang istri
" Menurutmu?" tanyanya sembari menatap dalam mata istrinya itu dan tubuhnya langsung bereaksi lain hingga Marcel dengan cepat mengalihkan tatapannya
Dia merasakan hasrat yang besar pada Vika hanya karena menatap wanita itu seakan semua hasratnya hanya berpusat pada istrinya itu. Seperti sekarang dirinya yang ingin rasanya langsung membawa istrinya itu kembali ke kamar untuk melakukan ritual suami-istri. Marcel merasa dirinya seakan menerima sebuah kutukan dimana hanya Vika seorang yang dapat berhubungan dengan dirinya.
" Sial" desisnya kesal saat dirinya sama sekali tidak dapat mengontrol tubuhnya yang mulai berhasrat, Marcel kembali menjatuhkan tatapan pada Vika yang sedikit terkejut saat melihat tatapan suaminya itu tampak seperti tatapan seekor harimau yang menatap mangsanya
" Apa? Kenapa tiba-tiba menatapku seperti itu? " tanya Vika mulai merasa was-was
" Menurutlah" kata Marcel sebelum meraih tangan Vika, menariknya mendekat dan langsung mencium bibir yang sudah menjadi candunya
Vika memberontak terkejut dengan ciuman tiba-tiba pria itu. Dia bahkan heran dengan keadaan yang sedang dihadapinya, Vika tidak merasa sedang menggoda suaminya itu tapi kenapa suaminya itu terlihat begitu bernafsu padanya
Marcel sama sekali tidak terganggu dengan pemberontakan yang dilakukan Vika bahkan dengan santai menangkap kaki jenjang istrinya itu saat mencoba untuk menendangnya yang tentu saja dilakukan Vika bukan untuk melukai hanya untuk melepas diri
" Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan? Kita lagi ditaman, Marcel " ujar Vika panik saat Marcel membawa bobot tubuhnya duduk dipangkuan suaminya itu
__ADS_1
" Apa aku terlihat peduli?" tanya Marcel menatap gadisnya itu dengan tatapan seakan ingin menelannya. Marcel merasa harus segera memeriksa dirinya karena hasratnya yang tiba-tiba bangkit tidak terbendung, dia bukan seorang hyper tapi saat ini Marcel merasa dirinya sudah lebih dari seorang Hyper yang tidak pernah merasa puas. Bedanya hasratnya hanya bertumpu pada seorang wanita saja dan wanita itu adalah istrinya
" Kita lagi ditaman dan banyak mata yang melihat kita sekarang " peringat Vika saat tangan Marcel merobek pakaian tepat didadanya yang dirasa mengganggu oleh pria itu. Besok-besok Vika berjanji akan memakai pakaian yang bahannya kuat supaya tangan suaminya itu tidak akan segampang itu merobeknya
" Aku tidak peduli" jawab Marcel yang langsung membenamkan wajahnya pada tempat kesukaannya itu yang masih tertutupi pelindungnya
Wajah Vika memerah saat tanpa sengaja matanya melihat beberapa pelayan wanita yang sedang lewat tampak mengulum senyum mereka dan ada sebagian yang berpura-pura tidak melihat. Vika mengeram dalam hati ' Apa suaminya ini ingin memamerkan tubuhnya disini' tidakkkk..Vika tidak akan menyetujuinya. Dia langsung memeluk kepala Marcel dengan mudah dikarenakan posisi tubuhnya yang berada dipangkuan suaminya itu
" Kamu ingin menelanjangiku disini?" tanyanya tidak percaya
" Tidak masalah bukan" jawab Marcel disela-sela kegiatannya menyesapi benda favoritnya. Vika menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara laknat itu
" Aku yang bermasalah. Aku tidak mau ada wanita lain yang melihat tubuhmu" ujar Vika tanpa sadar dalam desisan gelenyar aneh dirinya, Marcel yang mendengarnya mengulum senyum
" Lalu bagaimana?"
" Ke kamar sekarang" jawab Vika mulai kehilangan akalnya
" Baiklah" Marcel bangkit sembari menggendong Vika yang masih memeluk erat dirinya yang tentu saja bertujuan menutupi dadanya yang terbuka karna ulah suaminya itu. Vika sudah seperti bayi koala yang bergelanyut ditubuh suaminya itu. Posisi itu bukanlah beban bagi Marcel saat dirinya melangkah dengan mudah ke kamar mereka untuk melanjutkan ritualnya
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
__ADS_1