My Destiny Love

My Destiny Love
56. Aku mencintaimu istriku


__ADS_3

Suasana terasa begitu dingin saat makan malam. Vika sepenuhnya mengabaikan sang suami dengan segala penjelasannya. Kalau bukan karena teringat akan janinnya, Vika juga tidak akan turun untuk makan


Tidak ada jawaban dari sang istri dengan segala penjelasan yang terucap di bibirnya, membuat Marcel menghela nafas lelah. Dia benar-benar telah salah bicara


Malamnya, Vika bahkan mengunci kamar mereka biar sang suami tidak bisa masuk walaupun dia tahu kalau suaminya tidaklah bodoh, masih ada kunci cadangan sebagai pintu keluarnya. Tengah malam, Marcel mengendap-ngendap memasuki kamarnya dan berbaring memeluk istrinya yang sudah terlelap


" Kamu marah ternyata mengerikan tapi juga menggemaskan" tuturnya tersenyum menatap wajah terpejammya sang istri. Marcel membawa tubuh sang istri dalam pelukannya dan ikut terlelap menuju dunia mimpi. Tidak peduli jika pun besok istrinya akan berang lagi padanya, yang penting sekarang dia bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan sang istri dalam dekapannya


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Bukan hal mengejutkan lagi ketika Vika membuka matanya, wajah sang suami sudah menghiasi paginya. Tidak perlu lagi dia ingat kalau semalam dia sudah mengunci pintu kamarnya, karena pikirannya sudah dapat menebak bagaimana suaminya itu masuk ke kamar semalam


Vika bangkit turun dari ranjang setelah menyingkirkan tangan sang suami dengan sangat pelan agar tidak terganggu dengan gerakannya. Dia ingin pergi memasak, hal yang sudah begitu di sukainya sekarang


Turun ke dapur dan langsung menyuruh para pelayan agar tidak mengganggunya, walau mereka sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa Vika tidak perlu turun ke dapur, mereka para pelayan yang akan melakukan semuanya


" Jangan ada yang menggangguku, tidak kalian dan tidak pula suami menyebalkanku itu" peringat Vika sembari menunjuk ke arah para pelayan dan kearah kamarnya


Para pelayan terdiam, tidak ada lagi yang berani bicara. Vika mulai melakukannya. Bermain dengan bahan-bahan makanan di depannya, bergerak lincah dengan senyum terkembang senang. Sepenuhnya mengabaikan para pelayan yang menatap ragu nyonya muda mereka, takut terjadi apa-apa pada Vika


" Bagus sekali. Pagi-pagi sudah bermain dengan api" suara serak maskulin itu terdengar ditelinga Vika bersamaan dengan tangan kekar yang sudah melingkari pinggangnya yang perutnya sudah membuncit


Sempat tersentak terkejut, namun hanya beberapa detik setelah mengetahui si pelakunya. Vika melanjutkan kegiatannya walau pelukan suaminya sangatlah mengganggu


" Apa sekarang kau sedang mengabaikannku?" Marcel kembali bertanya saat sang istri sama sekali tidak menanggapinya. Tidak ada tanggapan, Vika jelas-jelas sedang mendiaminya


Marcel diam-diam tersenyum, dia tidak pernah kehabisan akal. Istrinya ingin mendiamkannya? Maka akan dia lihat sejauh mana Vika sanggup mendiamkannya


Marcel mengumpulkan rambut sang istri yang tergerai lalu mengikatnya menjadi sebuah kuncir dari belakang. Dapat dirasakannya kalau tubuh sang istri tersentak menegang karena perbuatannya ini. Namun, masih tidak ada tanggapan


Mengabaikan tatapan para pelayan padanya dan sang istri, Marcel mengecup leher jenjang sang istri yang kini terekspos didepannya, menciptakan corak karyanya disana, sedangkan tangannya sudah mulai bergerak liar pada gundukan favoritnya

__ADS_1


Menahan nafas ketika sensasi penuh gairah itu hadir karena sentuhan suaminya, Vika mencoba bertahan dari prinsip awalnya yang akan mendiamkan sang suami. Namun, sikap Marcel yang semakin kurang ajar membuat Vika menjadi kesal sendiri. Suaminya benar-benar tidak tahu tempat untuk bertindak


Vika berbalik segera menghadap suami mesumnya, sepenuhnya mengabaikan wajah para pelayan yang sudah memerah karena pertunjukan suaminya. Dan suami tercintanya malah tersenyum seakan tanpa dosa padanya


" Benar-benar tidak tahu malu" batin Vika menatap kesal wajah mesum suaminya itu


Cup...gerakan cepat Marcel mengecup bibir sang istri membulatkan mata Vika


" Kamu sudah tidak marah kan sayang?" suara itu begitu lembut terdengar


" Kau gila" sembur Vika kesal mencoba melepas paksa pelukan sang suami yang masih setia di pinggangnya


" Lepaskan aku!" ujarnya semakin berang saat tangan sang suami sama sekali tidak terlepas dan wajah Marcel yang masih terpasang senyuman hangat semakin menambah tingkat kekesalannya, apalagi kini suaminya itu kembali mengganggu acara masak-masaknya


" Tidak bolehkah aku memeluk istriku?"


" Kau sudah berjanji tidak akan menggangguku memasak hari ini"


" Aku mendiamkanmu karena salahmu sendiri. Bukankah kamu ingin menyukai wanita lain? Sana! Pergi cari wanita itu"


" Iya, aku salah. Aku minta maaf ya, sayang. Jadi, bolehkah aku minta asupan giziku?" kata Marcel membuat Vika muak dengan wajah tersenyum tanpa dosa itu


" Untung cinta" batin Vika berbalik sekilas untuk mematikan kompornya dan kembali memfokuskan diri pada sang suami. Melingkarkan tangannya pada tengkuk Marcel lalu sedikit berjinjit menggapai bibir suaminya itu. Menciumnya lembut sebagai tebusan akan janjinya semalam yang tidak terpenuhi bahwa Vika akan memberikan ciuman pada suaminya itu saat mereka diatas ranjang. Tapi, kejadian semalam malah kebalikannya. Sang suami di usirnya dari kamar mereka


Lalu bagaimana dengan Marcel? Lupakan saja, pria itu sudah mulai lupa daratan. Mencecap bibir sang istri dengan menggebu-gebu sedang tangan sudah menjelajah liar, dan hampir saja melakukan hal memalukan didepan para pelayannya, kalau saja Vika tidak menangkap tangan sang suami dan melepaskan pagutan mereka dengan nafas terengah-engah


" Apa yang mau kamu lakukan? Kamu ingin menelanjangiku disini?" desis Vika kembali dibuat kesal


Marcel yang tersadar menatap sekelilingnya dan tersenyum bodoh lalu kembali berbisik di telinga sang istri


" Bagaimana jika kita kembali ke kamar sekarang?"

__ADS_1


" Tidak mau. Aku punya kerjaan disini. Kau tidak lihat aku sedang memasak" ujar Vika, Marcel melirik sekilas pada keadaan dapur dan kembali memfokuskan diri pada sang istri


" Baiklah. Tidak masalah! Kita bisa melakukannya disini" Vika membulatkan matanya mendengar ujaran itu dan menatap nyalang pada sang suami gilanya


" Tidak mau" teriaknya sembari berusaha melepaskan diri dari Marcel


" Tenanglah sayang. Aku tidak akan melakukannya" kata Marcel akhirnya. Dia menyerah. Padahal kata-katanya tadi hanya sebuah bentuk godaan yang tidak disangkanya menjadi hal yang begitu dipercayai sang istri. Marcel belum segila itu untuk menyetubuhi sang istri didepan para pelayan rumahnya


" Kau berjanji?"


" Iya, aku janji. Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya sedang mengerjaimu saja"


" Kau mengerjaiku?" wajah Vika mulai tidak enak di pandang lalu selanjutnya, pukulan membabi buta mulai dilayangkan pada sang suami dengan kedua tangan mungilnya


" Kamu jahat, sangat jahat"


" Tunggu dulu sayang!" Marcel menangkap kedua lengan itu yang membuat Vika terdiam sejenak


Cup


Gerakan cepat itu tidak dapat diprediksi oleh Vika saat Marcel kembali mengecupi bibirnya dan langsung berlari menjauh setelahnya, meninggalkannya yang mematung sebelum berbagai protes keluar dari bibirnya


" AKU MENCINTAIMU ISTRIKU!" teriak Marcel saat mencapai pertengahan tangga menuju kamarnya. Vika yang sedang protes dengan berbagai omelan yang keluar dari bibirnya terdiam mendengar teriakan lantang itu dan mendadak wajahnya berubah merah. Para pelayan juga menunduk melu dengan kelakuan suami-istri itu


" Dasar gila" lirih Vika kesal sekaligus bahagia akan kelakuan suami gilanya itu


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2