
Mobil itu berhenti di bibir pantai, Marcel menghembuskan nafas lelahnya. Jujur, dirinya sudah berada dibatas kesabaran untuk menyerang Vika namun, dirinya harus sadar diri kalau disini dirinyalah yang salah, Marcel merasa dirinya tidak lebih dari seorang bajingan yang memanfaatkan seorang gadis seperti Vika
"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Vika disebelahnya yang memandang kesal kearah Marcel yang duduk memejamkan matanya dengan kepala bersandar pada dashbor mobil
"Lalu kamu ingin aku bawa kemana heum?" tanya Marcel membalas pandangan Vika. Tatapannya masih dibaluti kabut hasrat dan memandang gadis itu hanya akan memperburuk keadaannya saja
"Lalu kenapa kau menarikku dari restoran tadi" ujar Vika semakin kesal mendengar jawaban yang diberikan pria itu. Marcel tersenyum tipis lebih tepatnya tersenyum miring
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab pertanyaanku dulu! Kenapa kamu membalas ciumanku?" mata Vika membulat, pipinya bersemu merah dan langsung menundukkan kepalanya, menahan malu. Senyum Marcel melebar
" Kamu tidak bisa menjawabnya?" lanjut Marcel mengangkat pelan dagu Vika yang menunduk, mata gadis itu hampir berair, dia malu dan tatapan pria itu malah semakin membuat dirinya tampak buruk
"Kamu merindukanku" timpal Marcel lagi dengan yakin. Vika langsung memalingkan wajahnya kesamping memandang hamparan ombak laut dibalik kaca mobil Marcel
"Aku ingin pulang" kata Vika pelan, Marcel kembali menghelakan nafas lelahnya dan memandang kearah yang sama dengan Vika
"Tunggu dulu, aku perlu bicara denganmu"
"Aku ingin pulang! Antarkan aku pulang atau aku pulang sendiri saja" Vika langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Marcel
Melihat kelakuan gadis itu, Marcel dengan cepat keluar menyusul gadis itu, gerakannya yang lebih cepat dengan segera dapat menangkap tangan Vika yang langsung memberontak melepaskan tangannya dari Marcel
Dengan sedikit kasar Marcel menarik tangan Vika dan menghempas tubuh Vika untuk menghentikan pemberontakan gadis itu
"Akh, bayiku" ujar Vika spontan seraya memegang perut datarnya, gadis itu jadi lebih paranoid sejak mengetahui dirinya hamil padahal janin dalam kandungannya bahkan masih berbentuk embrio belum jelas bentuknya, tapi itu akan wajar mengingat Vika tidak pernah terpikir untuk hamil sebelum ini
Wajah Marcel mengkerut dengan pandangan menuju perut rata gadis itu
"Bayi! Kau bilang bayi" ulang Marcel heran. Vika yang sadar langsung menutup mulutnya. Dia keceplosan tadi, Vika menggeleng
"Tidak, kau salah dengar" Vika mencoba mengelak dari fakta
__ADS_1
"Pendengaranku masih sehat Nona. Katakan! Apa kau hamil? Anakku?" tanya Marcel beruntun. Dadanya membuncah mengetahui gadis itu mengandung anaknya, ada rasa bahagia di hatinya
"Tidak, aku bilang kamu salah dengar" kata Vika masih membantah. Matanya bahkan sudah mengeluarkan air mata, dia tidak suka didesak. Marcel memandang penuh ketidak percayaan pada Vika
"Kau berbohong, kau sedang hamil dan itu anakku" klaim Marcel tuntas, dia tidak mungkin salah. Vika menggeleng, masih ingin mengelak namun, gerakan cepat Marcel membuatnya membeku. Marcel memeluk dirinya dan berbisik pelan ditelinga gadis itu
"Mari kita buktikan, Kau hamil atau tidak" bisik Marcel pelan membuat darah Vika berdesir. Marcel menghembuskan nafasnya ditelinga gadis itu dan menggigit pelan daun telinga Vika membuat gadis itu mendesah pelan, tangan Marcel bergerak menyentuh belahan bokong Vika dan gadis itu dengan spontan memegang erat bahu kekar itu. Marcel tersenyum tipis, gadis itu memeng sedang hamil. Libidonya meningkat dengan cepat walau hanya dengan sentuhan kecil, biasanya itu hanya terjadi pada wanita hamil dan orang dalam pengaruh obat perangsang
Melihat reaksi Vika, Marcel juga tidak ingin membuang kesempatannya, dengan segera dirinya kembali menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Vika yang membalas lumatannya dengan mendamba. Mereka berciuman mesra tanpa peduli dengan suara pekikan burung camar di cakrawala, suara deburan ombak yang memecah keheningan serta desau angin sore di lautan sepi
Tangan Marcel bergerak menyusuri pinggang ramping Vika hingga sampai pada dua gundukan favorit pria itu saat dulu mengupas gadis itu, baru saja menyentuh Marcel langsung menghempaskan tangannya, dia tidak bisa melakukan itu sekarang
Marcel mati-matian menahan diri agar tidak menelanjangi gadis itu disana, etikanya masih berjalan dengan baik. Dengan perlahan dirinya melepas tautan bibirnya dengan Vika dan memandang gadis itu yang memejamkan matanya tidak berani menatap Marcel
"Kamu sedang mengandung anakku dan itu sudah cukup sebagai alasan kita menikah. Aku akan menikahimu segera" kata Marcel yakin.
Vika langsung membuka matanya mendengar penuturan itu, dia menatap wajah tampan prianya dengan gugup. Sedangkan Marcel hanya membalasnya dengan tatapan penuh tekad. Vika sadar kalau pria itu tidak main-main dengan perkataannya. Marcel serius dan jujur ada rasa bahagia dalam hatinya mendengar pria itu akan menikahinya
"Tidak, tidak bisa.." ujar Vika menggeleng
"Kenapa tidak?"
"Karena kamu bukan pria itu"
"Apa maksudmu?" tanya Marcel bingung
"Kamu tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti. Aku tidak bisa menikah denganmu" jawab Vika menekan rasa sakit yang mendadak muncul di hatinya
"Mau atau tidak, aku akan tetap menikahimu" tegas Marcel sekali lagi. Vika ingin kembali menjawab, namun tangan Marcel sudah lebih dulu berada di bibirnya
"Jangan menjawab lagi, kalau kau tidak ingin terjadi percintaan hebat antara kita disini. Mungkin kita bisa mendapatkan anak kembar jika kita melakukannya kembali didalam mobil" kata Marcel yang tentu sangat jauh dari realita, bagaimana mungkin janin yang sudah mulai tumbuh dapat berulang kembali untuk menjadi kembar kecuali karena keinginan mesumnya yang belum terjalankan
__ADS_1
Mata Marcel kembali diselimuti kabut hasrat ketika memandang gadis itu dan Vika kembali membulatkan matanya mendengar ujaran itu. Spontan dirinya menggeleng, dirinya masih sangat trauma dengan kejadian saat Marcel menggagahinya beberapa hari yang lalu. Vika bahkan tidak bisa berjalan hampir sepekan pasca percintaan mereka
Marcel memang terlihat tampan dan gagah, namun jika Vika teringat pada kebrutalan pria itu saat menyetubuhinya, Vika lebih memilih tidak berurusan dengan Marcel tanpa diketahuinya apa sebab Marcel menjadi brutal malam itu
"Bagus, sekarang sebaiknya kamu masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu pulang" tawar Marcel dengan lembut. Vika yang terlanjur kesal berjalan dengan langkah lebar kearah lautan
"Aku tidak mau pulang" teriaknya kesal sambil berlari-lari di bibir pantai, dirinya merasa sangat senang saat kakinya disapu air laut
"Aish wanita ini, tadi maksa ingin pulang" desah Marcel juga kesal
"Buat apa kamu kesana, ingin bunuh diri!" katanya dengan nada mengejek. Marcel akhirnya juga berlari menyusul Vika yang sudah terpana dengan keindahan alam disana
Matahari hampir terbenam dan Vika sangat takjub memandang sunset yang perlahan mulai menghilang diujung lautan. Marcel melangkah pelan mensejajarkan diri dengan Vika yang masih terpana
"Kamu menyukainya?" tanya Marcel, Vika mengangguk sembari tersenyum, matanya bahkan tidak beralih dari cahaya matahari itu. Melihat senyum Vika, Marcel juga ikut tersenyum
"Kalau sudah puas, masuklah ke mobil. Kita harus segera pulang, hari sudah malam. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, apalago diriku tidak bisa menjamin bisa melepasmu kalau sudah malam" ujar Marcel yang kembali mendapat tatapan kekesalan dari Vika. Gadis itu memandang Marcel sekilas dan langsung mengalihkan tatapannya pada tempat semula
Marcel kembali mengulum senyum tanpa melepas pandangannya pada wajah Vika, menurutnya Vika lebih cantik daripada panorama alam matahari terbenam itu, Marcel bahkan heran kenapa nafsunya seakan berpusat cuma pada Vika seorang, dia bahkan sangat sulit untuk menahan diri tiap bersama gadis itu
Angin meniupkan helaian rambut Vika membuatnya tampak terlihat aestetic, gadis itu tersenyum sembari sesekali menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajahnya dan Marcel ikut tersenyum menatap gadis itu walau dirinya harus kembali menahan diri
.
.
.
Note: jika ada yang merasa cerita ini alurnya mudah ketebak, memang saya buat cerita ini hanya untuk hiburan pengiring hari, bukan khusus saya buat dengan riset berkepanjangan jadi cerita ini tidak akan ada konflik berat apalagi sampai buat air mata menetes, tidak akan ada feel mendalam. So, semoga terhibur dengan cerita receh ini😊🤗
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
__ADS_1