My Destiny Love

My Destiny Love
60. Suami vs anak(bayi)


__ADS_3

Vika menatap tajam suaminya yang terus-terusan mengganggunya saat sedang menyusui anak mereka. Marcel dengan jahilnya melepaskan mulut sang bayi dari sumber inangnya, hingga tak jarang bayinya itu menangis ketika acara menyusu nya diganggu


" Bisakah kau pergi? Kamu sangat mengganggu disini" ujar Vika sangat kesal dengan sikap ke kanak-kanakan sang suami


" Dia menyusunya sangat rakus. Dadamu bisa rata nantinya" protes pria dewasa itu tidak suka. Semua bagian tubuh istrinya miliknya dan tidak ada yang boleh memilikinya termasuk putranya sendiri. Tapi sekarang, Marcel harus rela melihat sendiri bibir mungil putranya melahap ****ng susu istrinya dengan rakus dan ketika dipaksa lepas, putra kecilnya itu malah menangis. Seakan mengerti cara menyiksa sang ayah yang paling manjur


"Kamu ternyata sangat bodoh! Tenang saja! Dadaku tidak akan rata hanya karena menyusui" timpal Vika yang ingin sekali rasanya menoyor kepala suami mesumnya itu


" Tetap saja dia akan menghisap semuanya" kembali tangan Marcel bergerak memisahkan bibir putranya dari dada sang istri yang membuat sang putra kembali menangis, dan Vika langsung menenangkannya kembali sembari menahan kesal pada suaminya sebagai pelaku utama


"Dia harus disusui mas. Kamu menyingkirlah! Jangan kekanak-kanakan"


" Lihat bibirnya itu! Dia mengejekku" ujar Marcel tidak terima yang matanya masih tertuju pada bibir sang putra yang menghisap kuat-kuat air susu dari dada istrinya


" Itu wajar mas. Namanya juga anak kita masih bayi dan dia sekarang lagi menyusu padaku. Jadi, tolong pergilah dari sini kalau kamu tidak menyukainya" Vika hampir kehilangan kesabarannya untuk memukul suaminya itu


"Tetap saja aku tidak rela asetku digunakannya begitu. Itu milikku" tunjuk Marcel pada gundukan favoritnya yang sedang dengan rakusnya dinikmati bibir mungil putranya.


" Oh Tuhan! Berdosakah jika aku menendangnya sekarang?" Vika membatin kesal yang ingin sekali rasanya mengirim suami mesumnya itu ke planet Mars sekarang


" Apa perlu aku menyusuimu juga, sayangku?" Vika sudah benar-benar menahan diri untuk tidak memukul sekarang. Dia harus memastikan dulu kalau putranya sudah kenyang dan tenang baru dia akan mengurus suami menyebalkannya itu. Mata Marcel langsung berbinar mendengar pertanyaan itu dan spontan kepalanya mengangguk


" Kamu mau melakukannya?" Vika mengangguk sembari tersenyum lembut


" Tapi tidak sekarang. Jatahmu nanti malam! Sekarang pergilah dulu" Vika berkata dengan lembut walau nyata dirinya ingin sekali mencakar wajah mesum itu yang tersenyum penuh semangat. Sudah seminggu lamanya suaminya itu berpuasa dari menyentuhnya karena dirinya yang masih berdarah pasca melahirkan, dan Vika dapat mengerti bagaimana frustasinya suaminya itu dengan itu semua. Apalagi dapat Vika pastikan kalau sang suami harus tetap menahan diri untuk sebulan kedepan sampai dirinya benar-benar bebas nantinya dari masa berdarahnya


" Baiklah aku pergi, tapi kamu sudah janji nanti malam ya!" Marcel terlihat begitu senang sembari masih menatap pada putranya yang rasanya tidak pernah cukup mengemut sumber makanannya. Vika mengangguk lembut sembari berpikir bagaimana mengurus suami mesumnya nanti


" Hey! Kau setan kecil! Jangan kamu habiskan dada istriku! Sisakan sedikit untukku" Marcel masih sempatnya protes pada bayi yang tidak mengerti apapun itu

__ADS_1


" Cukup mas! Pergilah!"


" Iya-iya aku pergi" Marcel akhirnya mengalah dan pergi dari hadapan sang istri yang sedang menyusui putra mereka.


Selepas menghilangnya Marcel dari pandangannya, Vika menatap penuh kasih pada sang putra dalam pangkuannya dan wajahnya tersenyum menatap betapa damainya wajah putranya itu


" Daddymu sudah gila nak! Dia mencemburui kamu yang jelas-jelas darah dagingnya sendiri" Vika mengusap pelan pipi sang putra yang perlahan-lahan semakin mirip dengan daddynya.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Tatapan itu menatap penuh minat pada sang istri yang berjalan dengan lenggok yang menggoda kearahnya. Marcel belum sadar kalau dirinya masih belum bisa untuk membenamkan diri dalam lipatan sutra panas sang istri saat Vika masih belum bebas dari masanya pasca melahirkan


" Apa Dylan sudah tertidur?" tanyanya hanya sebagai basa-basi. Padahal nyatanya jelas Marcel tahu kalau sang istri tidak akan bebas dari sang putra kalau Dylan belum tertidur


" Eum..putra kita sudah tertidur nyenyak" jawab Vika sembari mendudukkan diri diatas ranjang samping suaminya


" Menunggumu" Marcel menjawab dengan ceria. Pria itu dengan jelas terlihat sedang menunggu sang istri menunaikan janjinya siang tadi


" Kenapa menungguku? Ayo tidur!" Vika bersikap seolah tidak ingat. Dia ingin memberikan pelajaran pada suaminya itu yang suka sekali mengganggu putranya saat sedang menyusu padanya. Vika menarik selimut hendak membaringkan diri untuk tidur


" Kamu lupa? Siang tadi kamu sudah berjanji akan mengurusku malam ini setelah kamu selesai mengurus putramu itu" protes Marcel saat sikap sang istri sangatlah jauh dengan bayangannya


" Kamu pantas mendapatkannya. Siapa suruh jahil sama putra sendiri! Dylan yang lagi menyusu padaku harus terganggu karena ulahmu" Vika menghadap sang suami, batal untuk membaringkan tubuhnya


" Dan sekarang mas ingin aku mengurus mas! Minta maaf dulu sama Dylan. Kalau putra kita itu memaafkanmu, baru aku akan mengurusimu, sayang"


" Tapi, aku wajar kesal pada setan kecilku itu. Dia sekarang memiliki seluruh perhatianmu dan sekarang dia juga ingin bagian tubuhmu! Tidak akan ku biarkan. Dirimu itu punyaku"


" Hei tuan Raveno! Kau mencemburui putramu sendiri!"

__ADS_1


" Iya! Aku cemburu padanya. Kau sangat perhatian pada Dylan tapi sudah seminggu ini mengabaikanku. Aku juga butuh diperhatikan" kata Marcel membuat Vika memijit keningnya kesal. Suaminya semakin menjadi-jadi posesifnya. Awal-awal masalah pakaiannya, lalu bertambah lagi dan lagi hingga sekarang anak kandungnya pun dipermasalahkan. Vika punya alasan menghindari suaminya seminggu ini, dikarenakan tubuhnya yang masih belum bisa untuk melayani suaminya itu. Apalagi Vika tahu dengan begitu baik, bagaimana nafsu suaminya itu. Dan sekarang Marcel menuntut hal ini padanya


" Baiklah! Sekarang kamu ingin aku bagaimana?"


" Urus suamimu ini, sayang" bisik Marcel dengan seduktif. Vika meremang sembari memantapkan diri untuk mengurus suaminya itu


Tangan Vika bergerak merangkul tengkuk Marcel lalu mempertemukan bibir keduanya dalam ciuman yang mendamba. Marcel yang memang ingin memuaskan dahaganya bergerak liar mencumbui sang istri. Menjatuhkan Vika keatas ranjang dan kembali menjamah bibir itu dalam sebuah *******


" Pastikan kau tidak akan meminta ampun malam ini, sayang" lirih Marcel yang menatap penuh damba wajah sang istri di bawahnya. Tangannya sudah bergerak menggapai gundukan yang sudah beralih menjadi milik putranya sekarang, lalu turun kebawah dan semakin ke bawah sampai Vika menangkap tangan sang suami yang sudah tidak terkendali. Marcel menatap istrinya bingung gerak tangannya dihentikan dan Vika menggeleng


" Kamu tidak bisa bermain disana mas! Aku masih masa pasca lahiran. Masih berdarah" jelas Vika yang membuat Marcel tersadar. Dia tidak sebodoh itu hingga tidak mengerti maksud sang istri


" Apa artinya aku harus menahan diri lagi?" walaupun berat, Vika tetap mengangguk. Marcel menghelakan nafasnya kecewa. Kenapa hanya untuk bersenang- senang dengan istrinya saja sangatlah susah


Melihat ekspresi kecewa suaminya membuat Vika sedikit tersentuh. Vika menggapai wajah Marcel untuk menghadapnya


" Tenanglah suamiku! Aku masih punya cara lainnya untuk memuaskanmu" kata Vika tersenyum lembut sembari menunjuk mulut dan tangannya


" Kamu yakin?" tanya Marcel ragu. Vika mengangguk yakin


" Kita lihat saja bagaimana hasilnya" seru Vika sembari mendorong suaminya itu hingga terlentang keatas ranjang dan melanjutkan aksi liarnya.


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2