
Didalam ruangan apartemennya, Marcel menghancurkan semua kenangannya bersama mantan kekasihnya yang berkhianat serta bertekad besar untuk membalas Markus. Marcel menjadi sangat berang saat tidak ada satu hal pun yang dapat dilakukannya saat ini karena tidak ada satupun yang berada dipihaknya
Meminta bantuan para sahabatnya, tidak akan dapat membantu sama sekali. Mike punya masalahnya sendiri yang lebih besar, Billy bahkan akan sangat sibuk mengurus jajaran para pacarnya yang menuntut ini itu dan Eric, tidak perlu disebutkan karena Marcel sudah sangat jelas dengan keadaan sahabatnya itu
Namun, tanpa Marcel sadari.Markus sedang memantaunya.Pria itu sudah memasang kamera tersembunyi di apartemen Marcel saat apartemen itu ditinggalkan Marcel tanpa terurus sejak putus dengan Vina. Bukan hal sulit bagi Markus hanya untuk masuk kedalam apartemen dengan sistem kode tersebut, mengandalkan kemampuan seorang Hacker, Markus dengan mudah dapat memasuki apartemen itu walau tidak tahu sandi yang dibubuhkan Marcel
Markus sengaja membeli apartemen tepat satu lantai diatas Marcel, dengan tujuan agar dirinya lebih mudah memantau pergerakan Marcel saat pria itu kembali ke apartemen.
Markus tertawa keras saat melihat Marcel menghancurkan Frame foto masa lalunya dengan sang kekasih dan semakin senang saat melihat kemarahan Marcel yang tidak dapat melakukan apa-apa
Markus meraih ponselnya dan menghubungi nomor Marcel, bukan Markus namanya jika tidak mendapatkan nomor Marcel yang baru dengan mudah.Dia tersenyum saat melihat Marcel mengangkat telpon darinya, pria itu tarus memantau Marcel melalui layar komputer yang terhubung dengan kamera tersembunyi yang terpasang di apartemen Marcel
"Halo kawan! Apa kabar?" sapa Markus langsung begitu panggilannya tersambung.Wajah Marcel mengeras mendengar suara itu
"Apa maumu bajingan, hingga kau harus repot-repot menghubungiku" jawab Marcel dengan suara dalam menahan kesal
"Aku hanya ingin mengabarimu kalau Silvina kembali dari london hari ini. Apa kau tidak ingin menjemputnya atau aku yang harus melakukannya?" ujar Markus dengan nada mengejek, membuat Marcel semakin berang, Markus jelas-jelas sedang mengejeknya
"Aku tidak punya urusan dengan wanita j****g itu! Jadi, kenapa harus repot-repot menghubungiku untuk menjemputnya!" jawab Marcel sinis membuat Markus tertawa diseberang
"Kau pasti sangat kecewa melihat kekasihmu itu menyerahkan keperawanannya padaku! Apa perlu aku jelaskan, bagaimana aku menikmati tubuhnya? Kamu pasti belum pernah merasakannya?" Markus jelas-jelas ingin memanasi Marcel
"Bukan urusanmu aku pernah merasakannya atau tidak! Dan bukan urusanku bagaimana kamu menikmati tubuh wanita j****g itu" cecar Marcel dengan kasar menahan geram
"Wow! Jawabanmu keren sekali, aku sampai terkejut mendengarnya.Tapi, tetap saja kau laki-laki yang menyedihkan! Aku jadi ingin membantumu.Kau tenang saja, aku akan memberimu sebuah hadiah.Kau tunggu saja ya?" seru Markus masih dengan nada mengejek
"Simpan saja hadiahmu itu, aku tidak membutuhkannya, bajingan!" ucap Marcel langsung memutuskan sambungan telpon tersebut. Membuat Markus tertawa keras memandang tajam Marcel dan bergumam
"Aku akan tetap memberimu hadiah itu dan akan sangat menyenangkan melihatmu menderita, Marcel" ujarnya penuh dengan keinginan menghancurkan
πππ
Vika mendesah lesu, pikirannya masih dipenuhi dengan pria bernama Marcel Raveno.Dia bahkan dibuat terkejut saat ponselnya berbunyi dan nomor tidak dikenal menghubunginya, Vika mengangkatnya dengan hati-hati
__ADS_1
"Halo, siapa ini?" tanya Vika dengan hati-hati
"Halo Vik..ini aku Vina, Silvina" jawab si penelpon
"Vina, kapan kamu kembali?" seru Vika antusias begitu mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah Vina, salah satu teman dekatnya yang sudah lama tidak pernah berbicara dengannya
"*Baru saja aku kembali.Ini aku lagi dibandara, lagi menunggu jemputan"
"Vina, aku rindu sekali sama kamu.Kenapa pergi tidak mengabari aku*" tanya Vika dengan kerinduan.Vina tertawa ringan mendengarnya
Bagaimana dia bisa memberitahu Vika saat akan pergi disaat dirinya sedang kalut dengan permasalahan besar yang dilakukannya, dia mencuri hal berharga dari perusahaan Marcel dan menyerahkannya pada Markus, tinggal menunggu waktu saja, kapan Marcel akan menyadarinya
"Aku juga merindukanmu Vik" jawab Vina sambil melambaikan tangan saat Markus memberi isyarat namanya sebagai jemputan
"Kapan kita bisa bertemu Vina?" tanya Vika
"Nanti kita pasti bertemu, akan kukabari saat ada waktu.Sudah dulu ya? Aku sudah dijemput oleh Markus, kekasihku" Vina memutuskan sambungan
Vika memandang ponselnya yang sambungannya telah terputus dengan Vina.Bohong, jika Vika tidak mengetahui kalau Markus adalah kekasih Vina, temannya.Namun, Vika sudah terlanjur mengikrarkan sumpahnya hingga mungkin dia terpaksa harus menyakiti hati teman dekatnya itu
πππ
Setelah hampir seminggu kembalinya Silvina ke Indonesia, Vika tetap mencoba mendekati Markus dan pria itu juga menyambutnya dengan baik.Bahkan, Vika semakin dekat saja dengan Markus tanpa sepengetahuan Vina dan tentu saja Markus melakukannya untuk menepati janjinya pada pencuri V
Vika merasa dilema antara rasa senang perasaannya tampak bersambut dan rasa bersalah pada temannya Vina karena sedang mencoba bermain api dengan kekasih wanita itu, belum lagi pikirannya yang sering kali didatangi pria pencuri ciuman pertamanya, Marcel
Disisi lain, Marcel memandang tajam wanita didepannya yang tersenyum lembut penuh perhatian
" Hai mas, bagaimana kabarmu?" tanya Vina dengan lembut.Marcel hanya menampilkan senyum sinis melihat senyuman wanita itu
"Keadaaanku sangat baik, bahkan terlalu baik"
"Oh syukurlah! Lalu bagaimana dengan hubungan percintaanmu? Apa berjalan baik juga?" tanya Vina lagi mencoba memancing Marcel. Kalau dia boleh jujur, Vina masih sangat mendambakan Marcel.Namun, karena kesalahan yang diperbuatnya membuat dirinya kehilangan pria tampan itu
__ADS_1
"Tentu saja" jawab Marcel singkat, memandang acuh Vina yang tampak jelas sedang memancing tentang hubungan percintaannya
"Lalu, apakah mas Marcel merindukanku?" tanya Vina lagi dengan penuh percaya diri.Marcel mengangkat alis"Dalam mimpimu" batinnya berujar
"Buat apa aku merindukan wanita j****g sepertimu" jawab Marcel pedas, Vina tertegun mendengar jawaban itu
Dari arah belakang Vina, Markus melangkah mendekat dan langsung merangkul pinggang Vina dengan mesra sambil tersenyum remeh pada Marcel
"Jadilah pria sejati bung! Tidak pantas seorang pria mengucapkan kata-kata seperti itu didepan seorang wanita" ucap Markus memandang wajah Marcel yang mengeras
"Lalu, kata apa yang pantas kuucapkan? Coba kau ajarkan padaku" jawab Marcel kembali tersenyum sinis memandang pasangan didepannya. Vina menundukkan kepalanya melihat pandangan menusuk dari Marcel sedangkan Markus malah tersenyum congkak pada pria tampan itu
"Kau ingin belajar dariku? Serius!" timpal Markus mengejek, Marcel semakin kesal dibuatnya. Dengan wajah tidak bersahabat Marcel melangkah hendak pergi dari tempat itu
"Kenapa pergi? Tidak sanggup melihat kami" kata Markus lagi
"Bukan urusanmu" Marcel menjawab ketus, Markus tertawa
"Begitulah nasib pria kesepian yang tidak mempunyai kekasih" kata Markus lagi bermaksud memanasi Marcel. Vina mendongak mendengarnya
"Jadi Marcel belum menjalin hubungan dengan siapapun setelah putus dengannya" batin Vina
Diam-diam Vina tersenyum.Dia masih memiliki harapan untuk kembali memiliki Marcel.
Tangan Marcel terkepal dengan erat hingga timbul urat-uratnya, dia benar-benar sudah habis kesabaran ingin menghajar wajah Markus.Namun, Marcel harus tetap menahannya, dia tidak ingin membuat keributan didepan orang banyak.
Dengan langkah lebar Marcel buru-buru pergi dari hadapan Markus dan Vina menghindari kontraversi yang akan membuatnya hilang kesabaran.Markus tertawa dengan penuh kemenangan
"Ini baru awalnya Marcel.Tunggu tanggal main intinya" batinnya memandang sinis punggung Marcel yang menjauh
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkanππ