
Vika berdiri diam diatas balkon kamarnya sembari menatap bintang yang bertabur dilangit gelap. Udara yang berhembus membelai kulitnya sama sekali tidak mengganggunya yang kini berbalut pakaian tipis
Pikirannya menjalar memikirkan kehidupan jenis apa yang sedang dijalaninya. Pernikahan apa yang sedang dirinya jalankan bersama Marcel. Bisa dibilang pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak tapi apa itu mungkin? Hampir tiap malam Marcel menggempurnya dengan alasan karena itu haknya sebagai suami dan tentu saja Vika tidak berkemampuan menolaknya tapi bukankah dalam pernikahan kontrak yang sebenarnya tidak ada hal seperti ini
Mau mengakui pernikahan ini sebagai pernikahan resmi, Vika juga tidak bisa menyimpulkannya karena ada syarat tak tertulis antara mereka kalau keduanya akan memutuskan mengakhiri hubungan pernikahan setelah bayi dalam kandungannya lahir. Sebenarnya pernikahan jenis apa yang sedang dirinya jalani?
Marcel memasuki kamar dan melihat pintu balkon yang terbuka dari angin yang menggerakkan gorden serta Vika yang tidak berada ditempat seharusnya yaitu ranjang
Melangkah pelan tanpa suara, Marcel dapat melihat sang istri yang kini sedang terdiam melamun, entah apa yang sedang terbayang dalam pikirannya. Pria itu melangkah mendekat lalu menyampirkan selembar mantel pada bahi sang istri
" Jangan terlalu lama berada di luar. Udara malam tidak baik untuk kesehatan" kata Marcel yang memilih berdiri disamping sang istri
Vika sempat terkejut dan sedikit tersentuh dengan perlakuan sang suami tadi. Namun, saat teringat kelakuan suami gilanya tadi Vika masih terlalu malas untuk bicara dengan Marcel. Gara-gara nafsu suami gilanya itu yang tidak tahu tempat, mereka terpaksa gagal menghadiri pesta yang diadakan tuan Helion
" Masih marah?" Marcel bertanya pelan, harus diakuinya kalau kelakuannya tadi itu memang salah tapi dia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri kalau sudah berhadapan dengan Vika. Istrinya itu memalingkan wajah membuang muka sebagai jawaban kalau dirinya masih marah sama suaminya itu
" Itu bukan sepenuhnya salahku Vika. Bukankah sudah ku bilang untuk mengganti pakaianmu tadi"
" Kenapa kau harus mengatur gaya berpakaianku saat aku bisa mengaturnya sendiri" akhirnya Vika menjawab dengan satu kalimat panjang
" Apa pertanyaan itu masih harus kuberi jawaban?" Vika mendengus dengan jawaban suaminya. Itulah masalah pada suaminya yang selalu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga. Vika menghembuskan nafasnya kasar lalu berbalik kembali kedalam kamarnya sembari menghentakkan kakinya kesal
" Tidak perlu, jawab saja pertanyaanmu sendiri" ocehnya tanpa berpaling lagi kebelakang, Marcel diam-diam tersenyum dengan tingkah kekesalan Vika lalu senyuman itu berubah hambar saat matanya beradu dengan langit malam yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang
" Haahhh" Marcel menghembuskan nafasnya kasar mencoba melepas semua beban yang sedang memenuhi kepalanya lalu memilih masuk ke dalam kamar kembali saat angin malam semakin terasa dingin menusuk kulit
Dilihatnya Vika yang sudah bergelung dibalik selimut, mengbungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu, hanya menyisakan kepalanya diluar selimut agar tidak pengap. Penampakan wanita itu persis seperti kura-kura yang memunculkan kepalanya dibalik tempurung
__ADS_1
Sembari menahan diri agar tidak tertawa, Marcel mendekat dan menarik selimut itu
" Hei, apa yang kau lakukan?" dalam sekejap mata Vika yang tadinya pura-pura terpejam kini sudah berkacak pinggang karena ulah sang suami yang menarik selimut yang membungkus tubuhnya
" Aku juga butuh selimut untuk tidur" ujar Marcel yang mencoba mempertahankan sisi coolnya padahal batinnya ingin sekali tertawa melihat tingkah konyol istrinya
" Kau bisa ambil selimut lain dalam lemari, tidak harus satu selimut denganku"
" Aku tidak mau" kata Marcel lalu menarik selimut itu dan menggulingkan tubuh Vika supaya selimut itu bebas sepenuhnya dan dengan santainya Marcel naik keatas ranjang masuk kedalam selimut yang sama dengan Vika
Meniup poninya dengan kesal karena tidak dapat membantah kata-kata suami menyebalkannya yang selalu bertindak semaunya, Vika berniat bangkit dari ranjang untuk pergi dari kamar itu, tapi dia lupa kalau suaminya bukanlah pria yang pengertian
Marcel menarik pelan lengan Vika hingga kembali terbaring diranjang lalu tangan kekarnya bergerak dengan cepat menarik pinggang Vika agar mendekat dalam pelukannya yang tentu saja membuat Vika membulatkan matanya. Apa suaminya ini ingin mengulang kembali kegiatan yang biasanya mereka lakukan saat malam-malam begini. Apa didalam mobil tadi tidaklah cukup untuk suami over mesumnya itu
" Tidak, jangan lagi Marcel. Aku kelelahan" seru Vika mulai memasang tanda bahaya karena biasanya suaminya itu akan langsung bertindak tanpa peduli dengan penolakan maupun penjelasannya
" Kau tidak bermaksud untuk.."
" Berhentilah berpikiran buruk tentangku. Sekarang tidurlah" Marcel menyentuh kedua mata Vika agar terpejam lalu memeluk istrinya itu. Bohong, jika dirinya tidak ingin melakukan penyatuan dengan Vika, tapi Marcel mencoba berpikir logis, kalau kehidupan tidaklah pada hal itu-itu saja.
Vika yang kini terpejam sudah tidak berani lagi membuka matanya, dia biarkan saja Marcel yang memeluk dirinya melakukan apa yang pria inginkan, Vika terlalu terkejut mengetahui kalau ternyata suaminya itu dapat menahan diri juga
๐๐๐
Pagi yang cerah menyapa penghuni alam, cahayanya merasuk dibalik celah-celah gorden hingga mengenai wajah seorang wanita yang sedang terlelap sembari memeluk posesif tubuh suaminya
Vika yang terusik dengan cahaya mentari perlahan mengerjab membuka matanya dan dibuat takjub saat matanya sudah sepenuhnya terbuka. Wajah tampan suaminya yang terpejam sangatlah mempesona, tanpa sadar Vika tersenyum memandang wajah yang sudah puluhan kali membuatnya takjub. Dia menyukai saat sang suami terpejam dengan nafas teratur seperti ini, dengan kata lain saat sang suami tertidur karena Marcel benar-benar terlihat begitu sempurna. Tapi, kalau mata itu sudah terbuka Vika tidak yakin kesempurnaan yang dimiliki suaminya akan tetap melekat, pria itu akan berubah menjadi pria yang mengerikan terkait ranjang
__ADS_1
Tangannya terulur menyentuh pelan alis Marcel lalu perlahan turun pada matanya yang terpejam kemudian melewati hidung mancungnya dan berakhir pada bibir tipis yang selalu membungkamnya dengan mesra. Vika tersenyum, entah kenapa dia menyukai melakukan hal ini
Tiba-tiba Marcel melenguh menggerakkan wajahnya, Vika yang terkejut langsung berpura-pura tidur kembali sembari semakin menyeruak masuk pada pelukan dada bidang suaminya itu. Saat dirasanya sang suami kembali larut dalam tidurnya Vika membuka matanya kembali
" Suamiku" bisik Vika pelan, dia menyukai panggilan itu tapi entah kapan keberanian mengucapkannya pada Marcel hadir. Tangannya kembali terulur menyentuh wajah Marcel, dia sangat suka bermain-main di wajah tampan suaminya itu
" Jangan memancingku sepagi ini, Vika" ujar Marcel tiba-tiba yang langsung menangkap tangan halus sang istri yang sedang mengelus alisnya. Vika tersentak, ternyata suaminya itu sudah terbangun
" Siapa yang memancingmu? Aku hanya menyentuh wajahmu"
" Kalau begitu, berhentilah melakukannya istriku! Karena suamimu ini bukanlah pria yang memandangnya sebagai sentuhan melainkan godaan pagi hari" kata Marcel membuka matanya lalu menatap penuh maksud pada istrinya yang terdiam membeku sedang matanya terus menatap dirinya
" Bangunlah istriku, kalau tidak ingin suamimu ini menerkammu" bisik Marcel lagi sengaja menggoda Vika yang langsung tersadar dan buru-buru bangkit dari pelukan suaminya
Menuruni ranjang dan berjalan cepat kedalam kamar mandi, Vika merasa sangat malu
" Apa Marcel mendengarnya ya?" batinnya bertanya saat dirinya bergumam 'suamiku' tadi
Marcel yang melihat tingkah istrinya itu hanya mampu tertawa dan memandang ke bawahnya
" Sial! Haruskah kau bangun sepagi ini?" desisnya mulai merasa lain dengan dirinya dan pilihannya hanyalah menjauhi Vika saat ini karena berada dekat dengan istrinya itu hanya semakin memperburuk keadaannya
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐