My Destiny Love

My Destiny Love
51. Jalan-jalan


__ADS_3

Menanggapi kekesalan sang istri yang tidak berdasar, Marcel memilih mengalah dari semua egonya. Membiarkan ibu hamil itu bertindak sesukanya. Ini akhir pekan, dia memilih untuk mencoba menghibur wanita yang sedang mengandung anaknya itu


" Kamu ada kegiatan hari ini?" tanya Marcel menatap sang istri yang memperlihatkan wajah tidak bersahabat sedari pagi


" Kegiatan apa? Aku begitu terpenjara disini" jawaban itu sedikit menohok Marcel yang memang sangatlah jarang membawa sang istri jalan-jalan


" Bersiaplah. Aku akan membawamu pergi jalan-jalan"


" Benarkah?" wajah yang semula cemberut itu kini berubah berbinar. Marcel mendesah lesu, mood istrinya benar-benar tidak bisa ditebak


" Hmm" Marcel hanya mengangguk mengiyakan. Vika yang kegirangan, langsung meloncat bahagia, sikapnya itu tentu saja membuat jantung Marcel tidak tenang, bagaimana bisa istrinya itu melompat saat dirinya sedang hamil besar seperti itu. Namun, tidak ada kata peringatan yang diucapkannya. Marcel tidak ingin berkata apapun yang jelas akan membuat mood istrinya berubah kembali dan konsukuensinya adalah jatah malamnya yang tidak terpuaskan


Setengah jam sudah berlalu dan Vika masih mencoba pakaian apa yang cocok dipakainya membuat Marcel menghela nafas berat di ambang pintu melihat kelakuan istrinya itu


" Pakai itu saja, sangat cocok buatmu" ujarnya memberitahu, lelah dengan gerakan lincah sang istri saat mencoba pakaiannya. Kamarnya kini berantakan dengan semua pakaian sang istri yang berhamburan diatas ranjang. Marcel yakin, istrinya itu baru saja mengosongkan lemarinya


" Aku tidak suka modelnya" jawab Vika yang kembali mencoba pakaian lainnya. Kembali nafas kasar terhela, Marcel melangkah mendekat lalu memeluk Vika dari belakang yang tentu saja membuat ibu hamil itu membeku mendadak


" Berhentilah! Kau tidak lelah mencoba pakaian sebanyak itu?" tanya Marcel dengan nada lembut, reflek kepala sang istri mengangguk


" Kalau lelah, pakai saja yang ku sarankan tadi" kembali kepala itu terangguk mengiyakan. Marcel tersenyum lalu melepaskan pelukannya, membiarkan sang istri memakai pakaiannya, walau semburat merah terlihat dengan jelas menghiasi pipi Vika


Terkadang Marcel heran dengan sifat wanita. Dia sudah sering bercinta dengan sang istri. Ralat...bukan sering tapi terlalu sering. Tidak ada lagi bagian tubuh Vika yang tidak terlihat matanya. Lalu, bagaimana wanita itu bisa merona hanya karena perlakuan kecilnya dalam memeluk


Setelah semua drama itu selesai. Kini keduanya sudah siap untuk pergi. Melihat pakaian yang membungkus sang istri, cukup membuat Marcel tidak suka. Namun, bibirnya lagi-lagi tidak dapat memprotesnya atau Vika akan berubah menjadi garang lagi padanya


" Vika, bukankah tadi sudah kubilang untuk memakai baju yang ku pilih?"


" Bajunya tidak muat lagi dibadanku" jawab Vika seadanya dan Marcel baru menyadarinya kalau tubuh sang istri jauh lebih berisi sekarang. Dia gemukan semenjak kehamilan bulan ketiga


" Tapi, pakaian ini se-dikit..." Marcel mulai merasakan aura gelap menyelimutinya dan tepat sekali, wajah sang istri mulai tidak enak dilihat


" Sedikit apa?" nada suara Vika pun sudah tidak lagi manis

__ADS_1


" Tidak, pakaian ini sangat indah di tubuhmu" jawab Marcel akhirnya, terpaksa mengambil jalan pintas demi jagoan dibawahnya yang masih ingin memasuki rumah ternyamannya


" Jadi, apa masalahnya?"


" Tidak..tidak ada yang salah" hilang sudah semua rasa arogannya, tidak ada lagi bos dingin yang dominan, hanya karena kekesalan wajah istri tercinta


πŸ€πŸ€πŸ€


Marcel membawa Vika berjalan-jalan layaknya pasangan muda pada umumnya dan memang mereka tidak pernah menjalani tahap itu. Membawanya menonton pertunjukan musikal, acara ragam pinggir jalan dan makan makanan enak di tempat sederhana dan tentu saja higienis. Vika tidak henti-hentinya tersenyum cerah dan bahagia. Dia selalu ingin menghabiskan waktu seperti ini dengan orang yang dicintainya, dan sekarang keinginannya jadi kenyataan


Senyumannya makin merekah ketika matanya melihat wajah memerah sang suami yang merasa begitu malu. Bagaimana tidak, Vika dengan sengaja memakaikan bando berbentuk kucing dengan warna pink di kepala Marcel dan memasang bando bentuk kucing loreng di kepalanya


" Ini imut" ujar Vika tanpa rasa bersalah sedikitpun sedang Marcel hanya mampu berteriak malu didalam hati saat banyak mata yang memperhatikannya


" Jangan dilepas" kata Vika menatap tajam sang suami yang diam-diam menggerakkan tangan ingin melepas bando lucu itu dikepalanya


" Tapi Vika..."


" Pokoknya jangan dilepas. Awas saja kalau kamu melepasnya!"


" Aku ingin makan es krim" ujar Vika memelas


" Tidak boleh. Tenggorokanmu lagi sakit"


" Gulali"


" Tidak, terlalu manis. Tidak baik untuk kesehatan"


" Gorengan"


" Tidak boleh. Terlalu berminyak"


" Semua tidak boleh. Lalu, apa yang boleh aku makan?" Vika menjadi sebal sendiri dengan semua larangan sang suami

__ADS_1


" Kamu hanya boleh makan makanan sehat dan jauhi makanan yang terlalu manis dan berminyak karena itu tidak bagus buat kesehatanmu"


" Tapi aku lapar.." rengeknya


" Aku akan membawamu mencari makanan sehat" Marcel menggenggam tangan sang istri dan membawanya ketempat dimana bisa mengisi perut keduanya


" Makanlah yang banyak, karena setelah ini, aku akan membawamu melihat pertunjukan indah" ujar Marcel yang menatap lurus pada sang istri yang sedang lahap. Bagaimana tubuh Vika tidak menggemuk, jika makanannya selalu bertambah tiap harinya


" Pertunjukan apa?" Vika bertanya sembari terus menguyah


" Pertunjukan yang pasti akan membuatmu tertarik" jawab Marcel singkat, sedang Vika hanya mengangguk mengerti walau tidak paham pertunjukan apa yang sedang dibicarakan sang suami


πŸ€πŸ€πŸ€


Marcel menuntun sang istri menuju kerumunan dimana sedang terjadi prosesi lamaran yang dilakukan oleh sepasang muda mudi. Tempatnya sudah didekorasi dengan indah serta berbagai macam bunga yang menghiasi. Tampak suasana yang begitu romantis. Vika menatap antusias kegiatan itu dengan mata berbinar, berharap dia yang berada di posisi wanita muda yang sedang dilamar. Tapi, sekali lagi dia sadar, tidak mungkin suaminya mau melakukan hal tidak berguna ini disaat kata cinta pun tidak pernah Vika dengar terucap dari bibir suaminya


" Terima..terima..terima" Vika berucap keras ikut berparticipasi dalam berteriak agar si cewek menerima si cowoknya. Marcel disampingnya mengulum senyum sembari menjaga baik-baik tubuh sang istri agar tidak tersenggol oleh orang-orang yang sedang menyaksikan pertunjukan itu


" Vika, tunggu sebentar disini ya? Aku mau membeli minuman dulu" kata Marcel sembari berlalu meninggalkan Vika dalam kerumunan tapi dia merasa seakan-akan orang-orang disekitarnya menyisakan ruang yang cukup lebar untuknya


" Lihat daddymu nak, dia tidak ada romantis-romantisnya" umbar Vika sedikit berbisik pada perutnya lalu kembali terfokus pada pasangan muda-mudi yang sudah berpegangan tangan setelah cinta si pria diterima oleh si gadis


Tiba-tiba..suasana mendadak senyap dan mulai terdengar suara yang tidak asing di telinga Vika


" Aku mungkin tidaklah bisa seromantis Romeo pada julietnya ataupun Rama untuk Sinta. Tapi, aku bisa menjadi Peterpan yang akan selalu setia menemanimu" suara itu terdengar dari arah belakangnya dimana kerumunan tadi sudah bubar memberi jalan bagi seorang pria menuju dirinya ditengah-tengah. Vika berbalik dan dibuat tertegun dengan pemandangan yang ditangkap matanya. Suaminya, Marcel Raveno, melangkah ringan menuju dirinya sedang tangan pria itu memegang sekuntum mawar dan seikat balon yang bertuliskan I LOVE YOU, MY WIFE


" Aku mungkin tidak bisa menjadi yang pertama hadir dalam hatimu tapi, aku akan mencoba menjadi yang terbaik untukmu" Marcel terus berkata-kata manis seiring langkahnya menuju sang istri yang tampak begitu terkejut sembari menutup mulutnya dengan tangan. Vika tidak percaya, suami hypernya mampu melakukan hal yang pasti memalukan jika dibayangkan di versi suaminya. Ketika langkah terhenti tepat dihadapan sang istri, Marcel mengungkapkan rasa itu, kata yang selama ini ingin Vika dengar terucap dari bibirnya


" Karena Aku mencintaimu istriku" ucap Marcel yakin walau wajah malunya tidaklah dapat membohongi. Vika yakin, melakukan semua ini pasti sangatlah berat bagi Marcel apalagi dengan bando kucing pink di kepalanya yang menambah kesan lucu pada wajah suaminya itu


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2