
Setelah membersihkan diri dari bekas lipstick yang memenuhi wajah dan pakaiannya, Marcel kembali menatap pantulan wajahnya di cermin, memastikan tidak tersisa bekas-bekas menjijikan bibir Billy diwajahnya
" Mati kau kalau kutemui, Bil" desisnya masih merasa begitu kesal. Dicium oleh bibir laki-laki seperti Billy di seluruh wajahnya sangatlah menjijikan. Lain lagi kalau istrinya yang melakukannya, maka itu dapat di pikirkan solusinya. Solusi yang menguntungkannya tentunya
Sekali lagi memastikan kalau dirinya sudah bersih dari noda menjijikan itu dan sudah jauh lebih wangi, Marcel turun setelah berbenah diri dan melihat wajahnya di cermin kembali
Marcel turun dan bergabung bersama dengan sang istri yang menampilkan wajah dinginnya di meja makan
" Dia pasti sudah salah paham. Tapi, ini bagus juga untukku, bisa menilai bagaimana perasaannya untukku" batin Marcel menatap sang istri, mencoba menilai sikap sang istri dari gerak-geriknya
" Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya sembari menumpukan kedua tangannya yang bertaut diatas meja dan menatap lembut pada istrinya itu
" Habiskan saja makananmu! Tidak perlu mengurusi ekspresi wajahku" salah satu alis Marcel terangkat menanggapi jawaban judes itu. Vika jadi lebih berani terhadapnya. Apa ini bisa dibilang kalau istrinya itu lagi mode cemburu? Karena keberanian wanita itu hanya hadir saat Vika cemburu
" Tolong isikan piringku" Marcel tidak melanjutkan pertanyaannya lagi yang sudah dapat dinilainya akan menjadi perdebatan jika dilanjutkan. Sebaliknya, dia malah menyuruh istrinya itu untuk meletakkan makanan kedalam piringnya
" Kamu kan punya tangan, taruh saja sendiri!" Vika masih menjawab judes, pemikiran kalau Marcel tidur dengan wanita lain masih saja terus menghantui otaknya
" Tapi aku ingin istriku yang melakukannya" jawab Marcel santai sambil terus menatap sang istri
" Ah! Kau menyebalkan sekali" Vika berujar kesal tapi tetap juga bangkit menaruh nasi beserta lauknya dalam piring sang suami
Pluukk
" Ini! Puas?" Vika menaruh sebal piring yang kini sudah berisi itu didepan Marcel yang sedikit tersentak saat Vika meletakkan kasar piring itu didepannya. Para pelayan yang sedang menunggu diruang makan itu hanya mampu menutup mulut dengan tangan menahan tawa. Jarang-jarang mereka melihat nyonya muda mereka marah pada Marcel apalagi berbicara dengan nada membentak seperti itu dan Marcel tidak marah
Setelah mengucapkan itu Vika berbalik hendak kembali ke kursinya di seberang Marcel, dia sengaja memilih tempat yang sedikit jauh dari Marcel karena masih terlalu kesal sama suami brengseknya itu. Begitu Vika membalikkan tubuhnya, Marcel dengan cepat menangkap lengannya dan menariknya pelan hingga Vika terduduk di pangkuannya dengan mulut terkesiap karena terkejut
__ADS_1
" Apa-apaan kau ini hah!" marahnya langsung didepan wajah suaminya itu yang hanya menampilkan wajah datarnya
" Kenapa aku merasa, mulut bawelmu sangat menggoda ya?" ucap Marcel yang pandangannya tertuju pada bibir sang istri. Vika membulatkan matanya
" A-apa maksudmu?" Vika mulai merasa aneh dengan ekspresi suaminya dan memundurkan sedikit wajahnya
" Kalian semua! Pejamkan mata kalian" perintah Marcel yang tertuju untuk semua pelayan di ruang makan tersebut. Semua pelayan disana langsung menuruti perintah tuan mereka. Vika yang bingung dengan perintah itu hendak mengajukan protes. Namun, baru saja bibirnya terbuka sudah lebih dulu bibir suaminya membungkamnya dengan sebuah ciuman panas
Marcel ******* habis bibir yang sudah dua hari tidak dirasakannya padahal tidak ada perintah larangan untuk dia mencium istrinya. Vika yang terkejut langsung memberontak menolak ciuman suaminya, bayang-bayang Marcel mencium wanita lain membuatnya jijik untuk disentuh, dia merasa seperti wanita murahan atau memang itulah yang Marcel pikirkan terhadap dirinya, pikir Vika
Namun, bukan hal sulit bagi Marcel mengendalikan sang istri, dia sudah menahan diri selama tiga malam untuk tidak menyentuh istrinya dan sekarang Vika juga tidak ingin di cium olehnya. Marcel tidak akan membiarkan itu. Tangannya sudah bergerak pada dada Vika yang jauh lebih berkembang semenjak kehamilannya, untuk inilah kenapa Marcel menyuruh pelayannya untuk memejamkan mata mereka, karena dia tidak ingin saat dia bertindak nakal ditubuh sang istri ada yang menontonnya
Begitu bibir keduanya terlepas, Vika langsung menjauhkan sedikit wajahnya dari Marcel kendati pun badannya masih dipangku oleh suaminya itu
" Sarapan pagi ini sangat enak" komentar Marcel sembari menjilat bibirnya sensual
" Dimana letak menjijikannya? Aku hanya mencium istriku" seru Marcel terkesan santai sedang tangan kanannya memegang pinggul sang istri agar tetap nyaman di pangkuannya
" Baru semalam kau menghabiskan malam dengan wanita liar dan sekarang kau ingin melakukannya denganku lagi? Kau sudah tidak waras? Kau pikir aku wanita seperti apa?" teriak Vika kesal, tidak lagi peduli dengan banyaknya telinga yang mendengar yang penting dirinya sekarang bisa lebih lega setelah mengeluarkannya
" Kau istriku dan ibu dari calon anakku" Marcel kembali menjawab santai bahkan seakan tidak mendengar teriakan Vika didepan wajahnya. Vika semakin dibuat kesal dengan sikap santai itu padahal, kalau saja dia sedikit mau mengerti, Vika akan menemukan banyak makna dibalik kata-kata Marcel.
" Lepaskan aku" umbar Vika sembari berusaha melepas tangan sang suami di pinggangnya
" Tunggu dulu, Vika. Kenapa kau yang jadi marah-marah? Bukannya aku yang harusnya marah disini" ucap Marcel pelan, Vika terhenti dari kegiatannya memindahkan tangan Marcel dan menatap pada wajah suaminya yang menampilkan senyum miringnya
" Tetap saja kamu yang salah. Bagaimana bisa kamu bermain dengan para wanita diluar sana. Sedangkan aku, bahkan tidak kamu perbolehkan untuk berpakaian terbuka diluaran sana" Marcel memicingkan matanya
__ADS_1
" Kamu cemburu?"
" Si..siapa yang cemburu" bantah Vika dengan wajah memerah malu. Bagaimana dia bisa lupa kalau suaminya sangat pandai bermain kata-kata dan membalikkan keadaan
" Baguslah kalau begitu, karena aku tidak harus menjelaskan padamu apa yang terjadi tadi malam"
" Dan satu lagi yang harus kau dengar istriku. Kalau kamu tidak ingin melihat suamimu ini bermain diluar sana. Maka, kau harus kuat untuk memenuhi hasratnya" Vika membeo mendengar kata-kata itu
" Ke..kenapa aku harus memenuhinya?" pertanyaan bodoh itu keluar dengan sendirinya tanpa bisa Vika cegah
" Karena kau istriku dan kamu tenang saja, suamimu ini akan mematuhikata dokter. Aku tidak akan menyentuhmu selama seminggu ini tapi... " Mata Vika menatap was-was tatapan mata penuh maksud suaminya
" Aku ingin kau memberikan yang terbaik pada malam ganti seminggu ini dan satu lagi, kamu yang harus berinisiatif. Aku tidak akan memintanya"
" Bagaimana bisa seperti itu?"
" Bisa. Aku tidak menerima penolakan dan sekarang bangkitlah dariku, Vika. Sebelum aku berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu disini" Vika buru-buru bangkit dari pangkuan suami gilanya hanya seperkian detik setelah kata terakhir suaminya terucap
" Ahh" desah Marcel saat Vika mengangkat diri dari pangkuannya. Andai dia tidak ingat pesan dokter, sudah dibabat habis sang istri sekarang ini
" Ayo makan. Aku harus kesuatu tempat hari ini untuk memberi pelajaran untuk seorang pembuat masalah" ucap Marcel yang tangannya sudah terlalu gatal untuk memberi sahabat tersayangnya bogem mentah
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏