
Tiga sekawan itu tampak berkumpul di rumah Mike, dimana sang tuan rumah belum juga menunjukkan batang hidungnya
" Kau ternyata diam-diam mengerikan ya" ujar Marcel pada Eric disampingnya yang baru diketahuinya kalau sahabat miskinnya itu sama brengseknya seperti dirinya
" Aku bertanggung jawab, aku akan menikahinya dalam dua minggu ini" jawab Eric tenang sekalipun dua sahabatnya terus meledek dirinya
" Pamer terus, kalau kalian punya pasangan sekarang. Jadi pria brengsek saja bangga" Billy ikut mengejek keduanya lalu larut dalam bacaan majalahnya.
" Lalu buat apa kau menyeretku kemari, lagian Mike juga tidak ada di rumahnya. Lebih baik aku pulang, tinggal bersama istri lebih baik daripada sama kalian yang membosankan" ujar Marcel sesaat sebelum pintu terbuka dan menampilkan Mike yang terkejut melihat tiga sahabatnya dirumahnya
Selanjutnya terjadi percakapan ringan antara mereka yang berujung melayangnya sebuah bantal pada kepala Mike dan berita tentang kehamilan istri Mike yang membuat Marcel langsung membandingkan seberapa hebat dirinya dengan sahabat jantannya itu dari usia kandungan istri mereka
πππ
Dirumah, Vika mengeluh bosan, menghubungi Lisa percuma, gadis itu sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pernikahannya dan menghubungi suster Dira juga bukan pilihan yang bagus karena suster cantik itu pasti sibuk
" Ah! Aku rindu melakukan aksiku" keluhnya sembari membayangkan saat tubuhnya melompat dengan lentur melewati gedung-gedung yang mungkin sekarang tidak akan dilakukannya untuk sementara karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Dulu, Vika pernah bekerja dibalik bayangan untuk orang-orang berkuasa, pekerjaan yang dilakukannya hanya untuk menyalurkan hobinya bukan untuk pendapatan dan satu-satunya orang yang tahu tentang kelakuan gilanya itu hanyalah sepupunya, Lisa seorang
Pertemuannya dengan Markus seakan membuka jalan baginya untuk melaksanakan sumpahnya tapi fakta bahwa Markus menjalin hubungan dengan Vina membuatnya harus berjuang untuk menaklukan diri Markus hingga Vika menyamar dengan topengnya dan melakukan semua yang diinginkan Markus hingga kini perbuatannya itu menjadi bumerang untuknya saat dirinya terikat takdir dengan korbannya sendiri
Vika bangkit menuju dapur, dilihatnya para pelayan yang sedang sibuk membuat sesuatu hingga Vika ikut membaurkan diri dalam kumpulan itu. Dia mempelajari cara membuat kue dengan baik dan berhasil membuat sebuah kue yang terlihat enak dipandang tapi belum tentu enak di rasa. Vika menyimpan kue itu untuk di cicipi oleh Marcel, entah kenapa dirinya ingin sekali kue buatan pertamanya itu dirasa pertama kali oleh pria pertamanya walau mungkin Marcel tidak akan memakannya tapi Vika akan tetap memaksa pria itu
πππ
Sorenya Marcel pulang dalam keadaan lelah dan kusut, sudah seharian dirinya berdebat dengan direksi, berkutat dengan berkas serta marah-marah pada bawahannya yang bekerja tidak benar. Belum lagi masalah pencuri V yang belum bisa diketahui identitasnya walau pencuri itu tidak lagi beraksi setelah sekian lama, membuat Marcel semakin frustasi
Dia masih bisa mempertahankan kestabilan perusahaannya walau sering gagal dalam produksi. Untuk apa dia mempelajari bisnis sedari SD saat masalah itu tidak bisa dihandelnya. Memang saat ini Marcel harus mengakui kalau dia belum bisa menjatuhkan Markus saat bukti tidak ada ditangannya tapi akan ada saatnya Marcel meringkus pria sialan itu dalam jeruji besi
__ADS_1
Di pintu masuk sudah berdiri beberapa pelayan dan juga istrinya yang menyambutnya dengan senyum merekah, kening Marcel berkerut, tidak biasanya istrinya seceria itu. Karena biasanya wajah Vika selalu ditekuk saat menyambutnya pulang
" Apakah ada hal baik terjadi?" tanyanya pada sang istri yang masih tersenyum sembari mengambil jas kerja Marcel
" Tidak, aku hanya sedang senang saja" jawab Vika menarik Marcel menuju sofa ruang tengah
" Aku punya sesuatu untukmu" ujarnya langsung berlari pelan kearah dapur yang semakin membuat Marcel bingung lalu Vika kembali dengan sepiring kue ditangannya
" Caa, aku membuatnya khusus untukmu. Makanlah" Marcel menahan senyumnya melihat tingkah polos itu apalagi dengan wajah bahagia itu. Sepertinya dia harus menyerah, karena Marcel tidak dapat menolak pesona istrinya itu yang membuatnya jatuh berkali-kali pada sosok ini sekarang
" Ini bisa dimakan?"
" Tentu saja bisa lah, coba rasa dulu" Vika mengambil sepotong besar kue itu lalu menyuapkan pada Marcel yang memfokuskan tatapannya pada sang istri
Pertama kali yang dirasa Marcel akan kue itu adalah hambar, tidak ada rasa. Sepertinya Vika tidak memasukkan apapun kedalam kuenya
" Bagaimana? Enak tidak?" tanya Vika antusias. Marcel mengangguk dan memakan lagi kue hambar itu
" Berapa usiamu? Kenapa masih bersorak seperti anak kecil seperti itu?" Marcel menarik tangan istrinya yang bersorak girang
" Coba makanlah dan nilai sendiri" gantian Marcel yang menyuapi Vika dan saat kue itu masuk kedalam mulutnya, wajah Vika langsung berubah lesu
" Tidak enak, hambar" komennya menatap Marcel yang menahan tawa sembari terus menguyah kue itu. Semua dilakukan Marcel untuk menghargai apa yang sudah diusahakan oleh istrinya itu
" Yang penting masih bisa dimakan" katanya terus memakan kue itu hingga habis
" Vika, aku tahu, kamu pasti sangat merasa bosan dirumah. Keluarlah sesekali, aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan kebiasaanmu sebelum menikah denganku" kata Marcel membuat Vika menatap suaminya itu terharu. Marcel memang tidak pernah mengekangnya, hanya saja pria itu selalu melakukan apapun yang diinginkan tanpa menerima penolakan apapun. Itulah sisi negatifnya yang terkadang membuat Vika merasa seperti dipaksa
" Aku boleh keluar jalan-jalan seperti biasanya" Marcel mengangguk membuat Vika spontan memeluk sang suami
__ADS_1
" Terima kasih"
" Ucapkan kata-kata itu nanti diatas ranjang" bisik Marcel langsung menggendong istrinya itu menuju kamar mereka. Vika membulatkan matanya terkejut, dia lupa kalau suaminya itu seorang hyper
" Tidak, kamu bau belum mandi. Sana mandi dulu" Vika beralasan agar bisa lepas dari sang suami malam ini
" Aku tidak peduli" ya, begitulah jawaban yang selalu didapatnya. Bisakah Vika menggolongkan suaminya itu sebagai pria paling egois di dunia
πππ
Hasrat yang sudah di ubun-ubun harus kembali Marcel tahan dan kini tubuhnya diliputi dengan rasa marah saat melihat sebuah patahan name tag bertuliskan 'Mar' diatas nakas. Setelah mendudukkan Vika diatas ranjang, Marcel beralih mengambil potongan itu dan tertawa bodoh
" Apa ini punya Markus?" tanyanya pada Vika yang mulai gugup, dia lupa meletakkan kembali potongan itu pada tempatnya
" I-iya"
" Wah! Kau pasti sangat mencintai Markus sampai potongan name tag jelek ini pun masih kau simpan" komentar Marcel yang mulai merasa panas merasuki hatinya
" Tapi aku tidak ingin ada barang pria lain didalam kamarku" ujar Marcel dengan suara tegas sedang ekspresinya berubah menjadi menyeramkan, dia marah dan langsung melempar potongan kecil name tag itu ke sembarang arah yang membuat Vika terkejut bukan main. Itu benda dari penolongnya yang membuat Vika akan sangat kecewa jika benda itu hilang
" Kenapa kau membuangnya?" Vika bangkit segera dari ranjangnya untuk mencari potongan itu yang entah dilempar kemana oleh Marcel
Marcel tertawa lalu dengan langkah lebar memilih keluar dari kamar, saat kondisi hatinya sedang dipenuhi amarah, Marcel tidak ingin nanti membuatnya bersikap kasar pada Vika. Dia merasa benar-benar tidak dianggap. Apa selama ini Vika juga membayangkan Markus saat berhubungan dengannya, apa cinta istrinya pada sosok Markus sedalam itu hingga potongan name tag saja disimpan sebaik itu, Marcel menertawakan kebodohannya yang berharap mampu membuat Vika jatuh cinta padanya padahal faktanya dia yang merasa panas hanya karena sebuah potongan benda sampah itu
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkanππ