
Hari menjelang sore ketika Marcel sekali lagi memastikan gerak jam tangannya, dia sudah puluhan kali melihat jamnya untuk memastikan waktu dirinya pulang. Tepat saat jam menunjukan waktunya pulang kerja, Marcel dengan antusias keluar dari ruangannya untuk pulang kerumah dimana istri tercinta berada
Beberapa karyawan yang melihat bos mereka secepat itu keluar dari ruangannya menjadi heran
" Apa yang terjadi?" tanya karyawan satu
" Pak Marcel sedang kesambet apa? Tumben dia pulang awal dan kalian lihat wajahnya tadi tidak? Dia tersenyum" heboh karyawan kedua
" Hey kalian. Berhentilah bergosip" tegur asisten Tommy yang juga sudah siap untuk pulang. Dia juga ingin pulang awal untuk istirahat setelah hampir tiga belas jam bekerja hari ini. Bosnya benar-benar sudah gila memotong dua jam waktu istirahatnya tadi pagi.
Para karyawan itu bergegas membubarkan diri. Mereka tidak ingin seperti sebagian teman mereka yang kena pecat pagi ini karena melakukan kesalahan dalam pendataan dan penerimaan laporan. Pemimpin mereka benarlah mengerikan. Pagi seperti iblis yang menjemput nyawa dan sorenya pulang dengan tawa seakan tanpa beban. Mereka yakin, Marcel memanglah sudah tidak waras
Siulan kecil terdengar sepanjang jalan yang dilewatinya, Marcel tidak henti-hentinya tersenyum. Dia memang marah pagi ini terkait sahamnya yang lepas dan juga kinerja para pegawainya yang benar-benar bobrok. Hari ini saja dirinya sudah memecat hampir lima belas karyawan di kantornya setelah mengetahui tingkah mereka dalam pemalsuan data, dan bukan tidak mungkin salah satu dari mereka adalah mata-mata yang dikirim Markus. Marcel sekarang sangatlah berhati-hati. Dia akan mencurigai segala kemungkinan yang terjadi setelah semua yang menimpa dirinya
Memasuki perkarangan rumah lalu bergegas masuk kedalam mansionnya setelah turun dari mobil, dia masuk mencari sang istri dan menemukannya sedang didapur, setelah Marcel mencari-cari didalam kamar tadinya
Matanya menatap pada para pelayan yang berbaris dengan wajah gugup mereka yang ketakutan saat melihatnya. Salah satunya ingin angkat bicara tapi Marcel mengangkat tangannya tanda mereka tidak diijinkan bicara. Dia melihat punggung sang istri yang sedang fokus mengaduk sesuatu didalam panci
Marcel dapat menilai dari kelakuan istrinya kalau Vika pasti berkeras ingin memasak sendiri tanpa mau dibantu oleh para pelayan yang sudah diaturnya sebagai koki
" Kami sudah mencoba melarangnya tuan. Tapi nyonya muda tidak mau mendengarkan" kira-kira begitulah isi tatapan ketakutannya para pelayan
Langkah kakinya melangkah pelan tanpa suara mendekat pada sang istri yang belum menyadari kehadirannya. Perlahan namun pasti, Marcel melingkarkan tangannya pada tubuh sang istri, memeluknya dari belakang
" Istriku sedang memasak apa sampai fokus seperti ini?" tanya Marcel lirih ditelinga sang istri. Vika yang mendapat pelukan tiba-tiba itu tersentak terkejut dan membeku
" Ka-kamu kapan kembali?"
" Baru saja. Dan kebetulan sekali aku mencium bau enak dari dapur dan ternyata istriku sedang memasak" ujar Marcel semakin mengeratkan pelukannya
" Oh Tuhan! Aku sangat merindukanmu" bisiknya dengan nada seduktif membuat Vika dalam pelukannya meremang. Suaminya baru saja pulang sudah kembali menggila
" Lepaskan aku dulu! Nanti masakanku gosong" keluh Vika merasa terganggu dengan sikap suaminya itu
" Biarkan saja. Biar masakan itu pelayan yang urus. Kamu layani saja suamimu"
" Tidak mau! Aku mau masak, kenapa kamu menggangguku?" Vika mulai kesal. Sudah seharian dia mengomeli para pelayan yang mencoba menghentikannya untuk turun ke dapur, dan saat dirinya mendapat kesempatan malah datang suami tampannya yang ingin mengganggunya kembali
__ADS_1
" Kamu tidak perlu melakukannya sayang. Biarkan saja itu diurus oleh pelayan" Vika membalikkan badannya menghadap sang suami dengan tatapan tajam yang terhunus
" Lepaskan pelukanmu. Aku mau memasak" bibir itu terus-terusan mengeluarkan kata-kata protes
" Untuk siapa kamu memasak?"
" Untukmu, untuk siapa lagi memangnya?"
" Kalau begitu, aku berkata kamu tidak perlu masak dan itu artinya kamu tidak diizinkan memasak" Marcel mulai mengeluarkan sikap dominannya yang membuat mata Vika berkedip-kedip menatap sang suami
" Tapi..."
" Tidak ada tapi-tapian! Sekarang lepaskan benda ini" tangan Marcel bergerak cepat melepas celemek di tubuh sang istri
" Kalian! Urus masakan ini" perintah Marcel pada pelayan yang hanya berdiri menatap kelakuan tuan mereka
" Baik tuan" jawab para pelayan patuh. Marcel menarik tangan sang istri lembut agar Vika ikut dengannya, walau wajah ibu hamil itu mulai cemberut karena kesal kemauannya dihalang-halangi.
" Kenapa tidak mau melangkah, sayang?" Marcel menatap bingung sang istri yang tidak melangkahkan kakinya selangkahpun sedari tadi. Wanita itu hanya menatap tajam padanya tanpa mau bergerak atau mengatakan apapun
" Sayang?" masih tidak ada tanggapan
" Kau yakin? Kamu akan membiarkan aku memasak besok tanpa gangguan?" tanya Vika mulai antusias. Marcel mendesah lesu. Istrinya benar-benar merepotkan kalau sudah menginginkan sesuatu
" Iya"
" Kamu janji?"
" Eum.." Marcel mengangguk malas saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk erat oleh sang istri
" Terima kasih suamiku" begitu cepat mood itu berubah. Marcel memejamkan matanya lelah dengan sikap sang istri yang berubah-ubah
" Sekarang kita ke kamar ya" Marcel berujar lembut dan Vika mengangguk manja
" Gendong" suara itu terdengar begitu manja dengan wajah tersenyum polos. Marcel membelalakkan matanya menatap sang istri yang mengulurkan tangan padanya, berharap digendong olehnya
" Tapi sayang, kamu sedang..." tidak sempat lagi kata itu terselesaikan saat Vika sudah bergelayut manja pada tubuh sang suami. Dan jangan lupakan para pelayan yang membuang wajah menahan tawa melihat kelakuan suami istri tersebut
__ADS_1
" Kamu sedang hamil sayang" peringat Marcel lagi ketika tangannya sudah menahan bobot tubuh sang istri
" Tidak masalah bukan? Aku yakin kamu tidak selemah itu" Marcel memutar matanya lelah. Dia bukan tidak kuat menggendong sang istri yang juga membawa calon anak mereka, tapi Marcel takut itu akan membuat kandungan Vika tertekan, dia takut terjadi apa-apa pada sang istri dan calon buah hatinya
" Bukan karena itu sayang, tapi..." kembali Marcel terdiam saat wajah sang istri kini mulai kembali tidak bersemangat dan hendak menjauh dari tubuhnya
" Baiklah..baiklah sayang. Aku akan menggendongmu" kata Marcel akhirnya menyerah sebelum sang istri rusak moodnya dan itu sangatlah menyebalkan
" Kalau begitu, ayo naik!" Vika kembali memeluk erat leher sang suami dan bergelayut seperti bocah pada tubuh suaminya
" Tidak ada ciuman untukku?"
Cupp...
Vika mengecup pelan bibir suaminya lalu tersenyum. Dia seribu kali jadi lebih manja sekarang. Kelakuannya bahkan bisa setingkat anak kecil setelah pengakuan cinta sang suami padanya
" Ciuman sayang, bukan kecupan" protes Marcel sembari terus melangkah ke kamar mereka
" Memang apa bedanya?"
" Jelas beda. Dan yang kau lakukan tadi itu adalah kecupan bukan ciuman"
" Akan kuberi nanti saat kita di kamar" bisik Vika sensual dengan sengaja di telinga sang suami
" Tolong jangan memancing sayang"
" Bukankah kamu pulang awal memang untuk ini?" langkah Marcel terhenti dan menatap mata sang istri
" Apa aku sebejat itu? Vika, dengar! Kamu itu istriku, bukan bonekaku. Jangan pernah berpikir aku ingin menemuimu hanya untuk urusan ranjang. Yah! Walaupun itu lebih sering sih"
" Jadi, ada apa kamu pulang lebih awal hari ini?"
" Aku ingin memberi sesuatu untukmu sayang" kata Marcel kembali melangkah ke kamar mereka
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏