My Destiny Love

My Destiny Love
33. Jangan salahkan aku,Vika


__ADS_3

Menatap marah kedua suruhannya setelah penjelasan dari mereka yabg mendetail. Keduanya hanya berani menunduk takut-takut, seperti yang telah diduganya, Marcel menjadi berang setelah mengetahui fakta itu dan tidak menutup kemungkinan bos mereka itu akan melayangkan tinjunya atau paling tidak benda di depannya juga melayang nantinya


" Sial!" umpat Marcel kesal meraup kasar wajahnya, dia tidak dapat menerima, wanita yang selama ini di inginkan tubuhnya adalah wanita yang sama dalam menghancurkan usahanya


Pantas saja Vika memiliki kekuatan yang cukup besar dibalik tubuh mungilnya, ternyata istrinya itu memang sudah terlatih dengan baik melalui aksi pencuriannya yang tidak terbongkar. Marcel tertawa menyedihkan saat membayangkan kalau semua yang Vika lakukan sangatlah wajar, wanita itu mencintai Markus dan mencuri hasil produksi perusahaannya untuk Markus. Benar-benar cinta yang besar


" Bodoh" desisnya pada dirinya sendiri. Memang apa yang dapat diharapkan Marcel, dia hanya seorang pria yang terlihat sempurna di luarnya tapi begitu hampa dalam jiwa, merindukan kasih sayang dan cinta tulus yang tidak pernah didapatkannya selama ini


" Kerja bagus kalian berdua. Sekarang pergilah dan minta bayaran kalian pada Asisten Tommy" suara Marcel mulai terdengar kecewa tanpa semangat. Duo detective itu saling memandang bingung. Mengetahui fakta kalau sang istri yang mencoba menghancurkan usahanya pastilah sangat menyakitkan, pikir keduanya kasihan lalu mengundurkan diri dari hadapan Marcel yang menatap data pencuri V alias sang istri didepannya


" Bagaimana aku akan menyikapimu sekarang, Vika" gumamnya menatap tajam foto Vika yang tersenyum di gambar yang diberikan Beni


πŸ€πŸ€πŸ€


Bi Siti membawa Vika pada sebuah ruangan yang berada diujung sayap kanan mansion tersebut


" Disini sepertinya ada nyonya" ujar bi Siti mulai membuka perlahan pintu gudang yang terlihat sudah lama tak tersentuh


" Mundurlah Nyonya muda, disini mungkin akan banyak debu dan itu tidak baik untuk kesehatan nyonya apalagi kini Anda sedang mengandung" jelas Bi Siti mendorong pelan tubuh Vika agar mundur di balik tubuh beliau


" Tidak apa Bi, saya membawa masker" Vika memperlihatkan sebuah masker ditangannya, tersenyum lalu memakai masker tersebut. Persiapan sebelum bertindak sudah menjadi kebiasaannya selama ini, dan soal debu bukanlah masalah baginya jika saja Vika tidak ingat, ada nyawa lain kini didalam dirinya. Dia mengikuti Bi Siti masuk kedalam gudang


" Itu ada, nyonya muda" tunjuk Bi Siti pada sekumpulan frame foto bekas yang tersusun di bawah kardus-kardus bekas yang sudah sangat berdebu serta di penuhi oleh jaring laba-laba. Entah berapa tahun gudang ini sudah dibiarkan begitu saja terabaikan

__ADS_1


Keduanya mulai menyingkirkan barang-barang yang tertimpa diatas bingkai foto itu, bi Siti bahkan sampai terbatuk-batuk karena debu sedang Vika terselamatkan maskernya


" Bi, sebaiknya bibi keluar saja. Debu disini banyak sekali, biar saya ambilkan sendiri saja bingkainya" tutur Vika


" Tapi nyonya.." anggukan Vika yang berisyarat agar Bi Siti keluar akhirnya membuat wanita berumur itu memilih keluar menaati perintah nyonya muda nya. Setelah Bi Siti keluar, Vika mulai membongkar sendiri mencari bingkai masih masih bagus dan layak dipakai kembali dan Vika mendapatkannya, dua buah bingkai yang masih cukup bagus untuk memajang fotonya bersama Marcel


Selagi asyik menyapu debu yang menempel di bingkai tersebut, mata Vika melirik pada sebuah kotak dalam tumpukan benda tidak terpakai itu dan dirinya tertarik untuk mengetahui apa isi dalam sebuah kotak putih seukuran kardus minuman itu, seakan-akan ada magnet yang menarik dirinya untuk membuka kotak itu


Vika keluar sebentar menyerahkan dua bingkai foto ukuran sedang ditangannya pada Bi Siti lalu berbalik kembali untuk mencari tahu isi dari kotak putih itu


" Nyonya mau mengambil yang lain lagi?"


" Tidak Bi, saya hanya ingin melihat isi kotak itu saja" kata Vika menunjuk pada kotak putih yang terhimpit barang-barang bekas di sekelilingnya. Kening Bi Siti berkerut, karena beliau juga tidak mengetahui apa isi kotak itu


" Kotak ini tidak terlalu berat Bi, sepertinya isinya juga ringan" ujar Vika meletakkan kotak itu didepan Bi Siti


" Iya nyonya muda..mungkin isinya cuma pakaian bekas" sahut Bi Siti menimpali. Vika hanya mengangguk setuju dan tangannya mulai bergerak membuka penutup kotak tersebut


Pluukk...


Penutup kotak itu terjatuh dengan sendirinya dari tangan Vika saat melihat isi didalamnya. Vika langsung menganga terkejut melihat isi didalam kotak itu


" Tidak mungkin" gumamnya tak percaya

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


Harinya sudah sangat buruk sejak pagi, ditambah dengan kenyataan yang didapatnya membuat Marcel semakin marah pada dirinya sendiri. Dia membatalkan semua agendanya dan hanya duduk memikirkan langkah apa yang akan diambilnya untuk istrinya saat ini


" Aarrggghh" teriaknya kesal menyapu kasar gelas minumannya diatas meja dengan tangannya hingga gelas itu jatuh terbanting ke lantai dan pecah. Asisten Tommy buru-buru masuk kedalam ruang kantor tuannya begitu mendengar suara benda pecah


" Anda baik-baik saja tuan?" tanya asisten Tommy ragu. Tidak menjawab, Marcel hanya mengayunkan tangannya menyuruh asisten Tommy pergi darinya


" Jangan pedulikan aku, anggap saja kau tidak mendengar apapun" suara yang dikeluarkannya masih tergolong lembut disaat emosinya yang sedang memuncak. Asisten Tommy cukup bersyukur tidak menerima semprotan dari mulut pedas tuannya, dia buru-buru keluar dari ruangan bosnya itu sebelum Marcel balik jadi macan kelaparan lagi yang tentu saja akan menyeret dirinya pada neraka perkantoran


Marcel hanya duduk memijat kepalanya hampir seharian itu bahkan, sampai jam pulang pun dirinya masih setia duduk di kursi kebesarannya tanpa menemukan jawaban dari apa yang dipikirkannya sedari tadi. Rasa marah masih begitu menjalari hatinya. Kenapa? Kenapa harus istrinya yang menjadi pencuri sialan itu, batinnya berteriak dalam rasa panas kemarahan. Marcel menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya dan memejamkan matanya lelah


Saat matahari sudah berganti bulan, Marcel baru tersadar, tanpa sadar tadi dia ketiduran karena terlalu lelah dengan beban pikirannya. Begitu teringat kembalj pada fakta apa yang baru saja terpaparkan padanya tadi siang, Marcel bangkit lalu meraih dua lembar bukti identitas pencuri V yang terletak didepannya dan dengan langkah lebar dia keluar dari gedung kantornya yang sudah sangat sepi hanya ada tim keamanan yang sedang bertugas di lantai dasar perusahaannya. Terburu- buru memasuki mobilnya karena Marcel akan memberi hukuman pada istrinya yang sudah berani mencurangi dirinya terlebih dilakukan untuk musuh bebuyutannya, Markus


" Jangan salahkan aku, Vika" gumamnya meremas kuat setir mobil yang sedang di kemudikannya sedang matanya memerah menahan marah sembari menatap tajam jalan didepannya. Marcel akan memberi istrinya itu hukuman


.


.


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2