
Vika menatap Vina sembari memamerkan senyum menawannya, dia melangkah selangkah lebih dekat pada suaminya
" Kamu bertanya, sedang apa aku disini? Tentu saja jawabannya karena aku ingin menemui suamiku" jawab Vika langsung mengalihkan tatapannya pada wajah tampan sang suami yang juga menatapnya sembari mengangkat salah satu alisnya
" Sekarang saya yang bertanya? Sedang apa kamu disini?" kata Vika lagi kembali menatap pada Vina
" Aku! Tentu saja aku kemari karena ingin menemui kekasihku" jawab Vina dengan percaya diri
" Kekasih?" ujar Vika kembali menatap pada sang suami seakan menanti penjelasan
" Kurasa hubungan kita hanya sebatas kerja sama, Vina" Marcel memilih buka suara saat mata sang istri menatapnya penuh tanda tanya. Vika kembali memandang Vina dengan tatapan mengejek saat sang suami memberikan jawabannya
" Tapi, Marcel! Kupikir kita tadi sudah.."
" Aku belum menjawab kepastiannya bukan?"
" Tapi Marcel..."
" Pulanglah Vina" jawab Marcel akhirnya. Dirinya benar-benar sudah muak dengan para wanita, makhluk yang dipandangnya sebagai pembuat masalah apalagi wanita seperti Vina yang bahkan sudah putus urat malunya
" Baiklah, aku menurutimu" kata Vina mendekat pada Marcel lalu dengan cepat mengecup bibir pria itu tanpa sempat untuk dihindari Marcel dan sialnya Vina melakukannya tepat didepan istrinya
" Aku akan menemuimu lagi, sayang" Vina melemparkan senyum mengejek pada Vika disampingnya karena telah berhasil mencium Marcel tepat didepan gadis itu yang notabenenya adalah istrinya sedang Marcel malah terdiam membeku. Dia sekarang, rasanya ingin sekali langsung ke kamar mandi untuk mencuci bibirnya walau nyatanya itu hanya sebuah kecupan padahal dulunya dia pernah jauh lebih dari ini melakukannya. Ingin bersikap lebih tegas tapi rasa gengsi itu lebih mendominasi, apalagi saat sang istri nyata tidak peduli dengan apa yang terjadi sekarang.
Vika hanya dapat membulatkan matanya, menatap dua insan beda gender didepannya. Rasa panas menjalari hatinya, dia tidak terima suaminya dikecup seperti itu tepat didepan matanya
" Aku pergi dulu ya. Bye" kata Vina mulai melangkah hendak keluar dengan hati puas karena telah berhasil mendapatkan Marcel, setidaknya itulah yang dipikirkannya
" Tunggu dulu" Vika membuka suara membuat langkah Vina terhenti lalu menatap pada Vika
" Bukan begitu caranya berciuman. Biar aku tunjukkan cara yang benar" kata Vika melangkah pada sang suami lalu mengambil tisu menyapu bibir tipis suaminya dari bekas mantan suaminya itu lalu tindakan selanjutnya yang dilakukan Vika benar-benar membuat Marcel membulatkan matanya dan Vina juga menatap kesal pada pasangan itu
Vika sedikit berjinjit untuk menggapai leher suaminya dan mengalungkan tangannya pada leher Marcel lalu mencium bibir tipis suaminya yang hanya butuh beberapa detik sebelum Marcel lepas kendali, menarik Vika lebih dekat dengan tubuhnya lalu memperdalam ciumannya. Matanya bahkan sudah terpejam menikmati rasa bibir keduanya yang bertaut
Seperti yang sudah Vika duga. Suaminya benar-benar lemah, lemah dari godaannya sedang Vina sudah mengepalkan tangannya melihat adegan itu, dia benar-benar dibuat marah. Tidak pernah disangkanya kalau Vika bisa bertindak seberani itu
Diam-diam Vika tersenyum, dia menunjukkan bagaimana nilai seorang istri dengan nilai seorang pelakor pada akhirnya. Tapi, beberapa saat kemudian, Vika mulai menyesali tindakannya. Suami gila benar-benar jadi gila, tangan Marcel sudah bergerak tidak tahu sopan santun, mulai memasuki penutup tubuhnya.
__ADS_1
Vika mendorong keras dada suaminya hingga tautan bibir mereka lepas, begitu juga dengan tangan Marcel yang sudah tidak tahu tempat. Nafas keduanya terengah-engah dan Vika dapat melihat tatapan penuh hasrat suaminya itu padanya lalu kembali menatap pada Vina
" Begitulah cara berciuman yang benar" katanya penuh dengan kebanggaan tanpa menyadari kalau dirinya baru saja membangunkan macan tidur
" Aku bisa melakukan lebih baik dari kamu" jawab Vina sudah begitu kesal apalagi saat melihat senyum mengejek penuh kemenangan yang Vika tampilkan
" Benarkah?" Vika memiringkan kepalanya sedikit
" Tentu saja" jawab Vina dengan penuh percaya diri lalu mendekati Marcel kembali
" Keluar Vina" belahan bibir Marcel terbuka dengan dua kata, sedang matanya menatap tajam sang istri. Apa sekarang dua wanita itu sedang membuatnya sebagai mainan yang dapat mereka pertaruhkan hingga mereka sekarang ingin saling beradu dengan bibirnya sebagai patokan. Dimana letak harga dirinya seorang Marcel Raveno sekarang?
" Tapi.."
" AKU BILANG KELUAR VINA!!!" teriak Marcel mulai kesal sembari menunjuk pintu sedang matanya tetap tertuju pada sang istri. Dia akan membuat sang istri menyesal telah memancingnya dengan tindakannya tadi
Vina yang ingin kembali protes mengurungkan niatnya saat melihat Marcel yang sudah sangat kesal lalu melangkah keluar dari ruangan kerja itu meninggalkan sepasang suami istri dengan permasalahan mereka
Selepas keluarnya Vina, Marcel bergerak cepat mengunci pintu ruangannya lalu beralih pada sang istri yang kebingungan
" Sebaiknya kau tidak pingsan kali ini" gumam Marcel kembali mendekati Vika
" Tung-tunggu..." Vika menahan dada suaminya saat ciuman mereka terlepas
" Ini di kantor, Marcel" peringat Vika sedang Marcel hanya menampilkan senyum miringnya
" Lalu?"
" Kamu tidak mungkin ingin melakukannya disini, bukan?" Vika menatap suaminya itu tidak percaya
" Aku tidak peduli dan kamu, tidak dalam kondisi untuk menolakku sekarang"
" Ta-tapi....umm" percuma bagi Vika untuk protes karena suaminya sama sekali tidak akan mendengarkan. Marcel kembali melakukan apa yang diinginkannya dan ruangan kantor itu menjadi saksi bagaimana penampilannya yang semula rapi kini berubah kusut dan awalnya terlihat begitu prima kini kelelahan. Vika benar-benar harus berpikir dua kali jika ingin menggoda suaminya itu. Tapi, hatinya terlalu panas dengan apa yang dilakukan Vina dengan Marcel tadi hingga Vika tidak menggunakan akal sehatnya dengan baik tadi saat memutuskan mencium sang suami
" Kau cemburu?" tanya Marcel sesaat setelah menuntaskan hasratnya dan kini terduduk diatas kursi kebesarannya dengan sang istri yang berada di pangkuannya sembari menyandar di dada bidangnya, Vika terlalu kelelahan.
" Cemburu kenapa?" lirih Vika sembari memejamkan matanya tanpa peduli dengan penampilannya yang berantakan. Nafsu suaminya benar-benar mengerikan
__ADS_1
" Kau berinisiatif menciumku tadi setelah Vina mengecupku dan kau juga menghapus bekasnya" jelas Marcel diam-diam tersenyum senang dengan tindakan Vika tadi. Vika membuka matanya dan teringat pada kejadian tadi.
" Iya, aku memang sangat cemburu. Siapa yang tidak cemburu melihat suaminya berada dalam posisi yang begitu intim dengan mantannya" batin Vika menjawab
" Tidak! Aku tidak cemburu. Aku hanya reflek melakukannya. Mungkin karena bawaan bayi" jawaban yang keluar dari bibirnya jelas sangat berbeda dari apa yang terjawab dalam hatinya, Vika bahkan mengkambing hitamkan janinnya sekarang
Marcel mendengus kecewa. Memang jawaban apa yang dia harapkan dari istrinya yang jelas-jelas mengatakan mencintai pria lain
" Bawaan bayi ya? Hah!" Marcel tertawa miris lalu mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri
" Tapi aku tidak akan melewatkan hukumanmu karena telah berani mencuri dariku" bisik Marcel yang membuat Vika mendongak menatap ngeri wajah suaminya yang tersenyum penuh maksud
" Aku belum mempublikasikan siapa itu pencuri V dan bayangkan apa yang akan terjadi ketika aku mempublikasikan kebenarannya"
" Jangan! Jangan lakukan itu. Papa pasti akan sangat kecewa nantinya" ujar Vika dengan sedikit memelas, memegang erat kemeja suaminya yang tidak terpasang dengan baik
" Lalu, apa kau pernah memikirkan kekecewaan para investorku padaku saat kau mencuri hasil produksi kami. Sudah beberapa kali kami gagal produksi karena ulahmu" tatapan kecewa tampak begitu jelas dari mata Marcel. Vika menunduk
" Maaf" cicitnya penuh penyesalan. Andai dia lebih cepat tahu siapa Marcel sebenarnya, Vika tidak akan melakukan hal bodoh itu untuk Markus
" Maafmu tidak lagi berguna"
" Aku akan melakukan apapun untuk menebusnya"
" Apapun?"
" Eum" Vika mengangguk yakin. Marcel tersenyum misterius
" Baiklah, kalau begitu akan kupikirkan apa yang harus kamu lakukan" kata Marcel yang menyelusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri, mencetak tanda kepemilikannya disana. Dia ingin sekali melanjutkannya lagi tapi kondisi Vika saat ini tidaklah memungkinkan.Marcel meraih telpon kantornya yang terhubung dengan asisten Tommy
" Bawakan satu set pakaianku dan juga sepasang pakaian untuk wanita. Sekarang!" perintah Marcel dan langsung menutup panggilannya bahkan sebelum asisten Tommy berbicara. Dia tidak mungkin keluar dengan penampilannya yang sekarang, begitupun dengan istrinya yang kini sudah kembali bersandar didada bidangnya sembari terpejam lelah
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏