My Destiny Love

My Destiny Love
57. Pergi ke pesta sahabat


__ADS_3

Senyuman penuh kemenangan terbit di wajah Marcel saat mengunjungi Markus yang sedang di bekuk polisi. Dengan seluruh kesaksian dari Vina dan juga bukti-bukti yang sudah terpapar membuat Markus tidak lagi mempunyai jalan untuk melarikan diri dari segala kesalahan yang diperbuatnya. Marcel memang telah kehilangan saham terbaiknya, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Bukan hal sulit bagi Marcel untuk meningkatkan perusahaannya


" Tunggu sebentar" ucap Marcel pada polisi yang sedang membawa Markus di depannya. Dia melangkah mendekati Markus, lalu tersenyum miring didepan wajah yang menatapnya penuh dendam


" Sebenarnya aku tidak pernah ingin melakukan hal ini, tapi kamu sendiri yang menginginkan ini terjadi. Ingat Markus! Sesuatu yang di niatkan sebagai kejahatan akan berakhir sangat buruk dan menyedihkan" ujar Marcel berbisik ditelinga Markus yang terlihat menahan marah dengan tangan yang terkepal erat


" Akan kubalas atas semua ini suatu saat nanti" kata Markus penuh dengan dendam. Marcel menatapnya dengan senyum


" Jangan terlalu menyimpan dendam padaku. Akan lebih baik jika kamu mengintropeksi diri didalam penjara" kata Marcel lagi yang menyuruh polisi itu untuk kembali membawa Markus


" Kau akan segera mendapat balasannya Marcel. Akan ku pastikan kau menyesal. Kau akan menyesal" teriak Markus ditengah tubuhnya yang diseret oleh polisi menuju lapas tahanan sebelum sidang keputusannya


" Lakukanlah yang terbaik Markus dan aku akan melakukan yang terbaik versiku" lirih Marcel menatap datar mobil polisi yang kini sudah membawa Markus pergi. Marcel sadar kalau apa yang di ucapkan Markus, bisa jadi benar-benar akan dilakukan pria itu. Tinggal menunggu waktu kapan itu akan terlaksanakan. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Marcel tersenyum menatap layar ponselnya. Salah satu saksi, sekaligus wanita yang pernah menjadi mantannya, kini menghubunginya


" Iya, ada apa Vina?" tanya Marcel dengan santai. Semenjak Vina memutuskan untuk membantunya, Marcel akhirnya berdamai dengan wanita itu


" Bagaimana prosesnya?" tanya suara di seberang


" Berjalan lancar. Markus sudah dibawa polisi dan terima kasih sudah mau membantuku"


" Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mencoba sedikit menebus kesalahanku"


" Eum..bagaimana keadaan disana?" Marcel kembali bertanya saat teringat kalau Vina kini tidak lagi berada di negaranya. Wanita itu sudah pergi keluar negeri


" Sangat baik. Aku ingin menata kehidupanku dengan lebih baik di sini. Maaf ya untuk semua kekecewaan yang kuberikan padamu" ujar Vina di seberang dengan nada penuh penyesalan


" Lupakanlah. Semua hanya masa lalu dan sekarang aku sudah mempunyai masa depan yang lebih baik" ujar Marcel lagi. Vina diseberang yang mendengarnya tersenyum miris. Tidak ada lagi kesempatan untuknya memasuki hati Marcel walau nyata dirinya masih menyimpan rasa pada pria itu, dan karena itulah juga dirinya pergi ke luar negeri agar dapat melupakan semuanya, kemarahan ayahnya dan juga kenangan masa lalunya dengan Marcel dan Markus


" Oh ya! Salam untuk istrimu ya. Bilang padanya agar dia menjaga suaminya dengan baik. Kalau tidak! Aku akan datang kembali merebutnya" ujar Vina bercanda sembari tertawa dan Marcel mengiyakannya juga dengan senyum di wajahnya walau Vina tidak dapat melihatnya


" Eum..akan ku sampaikan" jawab Marcel sebagai penutup panggilan mereka berdua

__ADS_1


Marcel menghembuskan nafasnya sembari tersenyum. Satu masalahnya telah selesai dan kini tinggal mengurus mood sang istri yang benar-benar sangat merepotkan. Istrinya sekarang selain hobi makan, hobi sekali marahan sama dirinya


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Marcel menatap pada sang istri yang berbalut sebuah gaun berwarna biru laut dan berjalan dengan elegan kearahnya. Lupakan tentang perutnya yang membuncit, Vika akan selalu membuat seorang Marcel terpukau padanya. Bahkan pada keinginan terliar sekalipun


" Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Vika datar, menatap aneh wajah sang suami


" Kamu terlihat cantik" hanya satu kalimat singkat itu yang terucap di bibir Marcel sedang matanya tidak beralih dari sang istri


" Berhentilah mengatakan kata-kata bodoh itu" ujar Vika menatap kesal pada suaminya itu. Dia sudah tahu apa yang dipikirkan suaminya itu kalau sudah mengucapkan kata-kata pujian cantik padanya


" Tapi aku berkata jujur" Vika kembali mendelik kesal pada Marcel saat sudah berada disamping suaminya itu


" Aku tidak perlu pujian itu" timpalnya


" Kamu tidak suka di puji tapi aku suka melakukannya. Jadi, bolehkah kita ke kamar sekarang?" tuh kan? Seperti yang sudah ditebaknya, pujian suaminya ada maunya


" Iya sih. Tapi kurasa dia akan mengerti. Kebutuhanku sekarang lebihlah penting daripada pestanya"


Plukk..


Vika memukul bahu suaminya itu dengan tas kecil di tangannya. Kenapa dia harus mempunyai suami super mesum seperti Marcel. Jangan lupa! Tambahkan kata supernya


" Kenapa kau memukulku?"


" Kau bertanya kenapa? Tentu saja karena pikiran mesummu yang sangat menyebalkan. Sudah cukup sekali aku gagal ke acara pesta karena meladenimu, sekarang aku tidak ingin gagal pergi lagi" tutur Vika masih dengan nada kekesalan. Dia langsung menarik lengan Marcel untuk keluar menuju mobil sebelum suaminya itu kambuh. Padahal pakaian yang dipakainya sekarang sangatlah tertutup, tapi suaminya memanglah sangat-sangat mesum


Marcel menyerah dan mengikuti langkah sang istri menuju mobil yang akan membawa mereka pada pesta peresmian pernikahan sahabatnya, Mike


Sesampainya di tempat acara yang bertema outdoor, Vika langsung tertawa senang saat bertemu dengan sepupunya, Lisa dan juga temannya, suster Mandira. Lalu, bagaimana dengan para pria? Tentu saja mereka hanya mampu menghelakan nafas lesu ketika para wanita itu sudah bertemu. Tidak akan ada yang mempedulikan mereka lagi, terutama si pria malang, Billy. Jangankan untuk di pedulikan, dia bicara saja suster Dira tidak mendengarnya.

__ADS_1


Marcel memastikan sang istri duduk dengan nyaman sebelum bergerak menyusul Eric dan Billy yang sudah berlalu ke tempat dimana sahabatnya yang lain berada. Mengganggu Mike sekarang sudahlah menjadi bagian dari hobi mereka bertiga


" Mukbang terus kerjaannya" seru Billy keras setelah membuka pintu ruangan, dimana terlihat Mike yang sedang berciuman dengan istrinya


" Kalian tidak ada kerjaan lain apa, menggangguku terus kerjaannya" umbar sang korban, Mike dengan kesal sedang Elina, istri Mike sudah menunduk dengan wajah memerah malu


" Mengganggumu juga salah satu pekerjaan favorit kami, ya kan ric" ujar Marcel menyenggol bahu Eric disampingnya


" Keluarlah, para tamu sudah menunggu kalian dari tadi tapi disini kalian malah...ah sudahlah" tutur Eric yang paling bijak dalam kawanan


" Iya, sebentar lagi kami juga akan keluar, kalian saja yang beralasan padahal ingin mengganggu kegiatanku"


" Lebih baik kau tahan dirimu sampai nanti malam, Mike. Sekarang keluarlah! Aku tidak ingin membuat istriku menunggu terlalu lama, jadi segera keluar kalau tidak ingin kuseret keluar" tutur Marcel dengan sedikit sadis di akhir kalimat. Dia juga dibuat kesal jika harus membuat istrinya menunggu


" Iya, aku juga tidak ingin mendengar ocehan istriku karena terlalu lama menunggu" timpal Eric setuju


" Dira ku juga tidak boleh menunggu terlalu lama" sahut Billy yang langsung mendapat tatapan aneh dari ketiganya


" Memang dia sudah menerimamu?" tanya Marcel dengan nada remeh, Eric di sampingnya juga mengangguk


" Ah kalian ini, tidak membantu sama sekali" kata Billy yang langsung berbalik ingin kembali ke tempat acara di ikuti oleh Marcel dan Eric di belakangnya yang mengulum senyum dengan perjuangan cinta sahabatnya itu


" Waktumu lima menit untuk segera berada disana kalau tidak, jangan salahkan kami yang akan menyeretmu kesana" ujar Marcel sebelum benar-benar melangkah pergi kembali pada tempat sang istri berada


" Pergilah, mengganggu saja kalian" Mike dengan protes kekesalannya karena kegiatannya di ganggu


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2