
Vika melangkah dengan sangat pelan menuju kamar mandi, tubuhnya terasa remuk akibat nafsu suaminya yang tidak terbendung. Vika bahkan harus digendong kemarin saat keduanya keluar dari hotel setelah gempuran yang dilakukan, saking tidak sanggupnya kaki untuk menopang tubuhnya. Suaminya tidak main-main ketika berkata agar dirinya jangan menyesal kemarin. Ketika kakinya sudah hampir mencapai pintu kamar mandi, mata Vika melirik pada kotak yang sedikit terlihat di bawah ranjang. Kotak yang berisi barang-barang penolongnya yang akan dia jelaskan kebenarannya pada sang suami.
Vika menghelakan nafasnya ketika matanya juga menatap ranjang dimana Marcel tertidur semalam. Pagi-pagi sekali, bahkan ketika cahaya belum menampakkan diri sang suami sudah berbenah diri berangkat ke kantor.
Vika yakin pasti ada sesuatu besar yang sedang terjadi di perusahaannya. Walau Marcel sedang terburu-buru, Vika masih menyadari ketika sang suami mencium keningnya dan mengusap perutnya dengan sedikit kata-kata yang tidak didengarnya jelas. Mengingat sikap manis sang suami, wajah Vika mendadak memerah merona apalagi saat pikirannya terngiang pada ungkapan cinta sang suami tempo hari
" Peterpan! Peterpan apanya? Dia itu pangeran berkuda putih..ah ralat. Daddymu lebih cocok jadi pangeran berkuda hitam kan sayang?" gumam Vika yang hanya bisa bicara dengan janinnya
" Ah! Mommy tiba-tiba ingin melihat daddymu naik kuda" ucap Vika lagi sembari membayangkan betapa gagahnya sang suami jika menunggang kuda. Matanya sudah berbinar-binar membayangkannya
๐๐๐
Marcel menatap marah laporan yang disuguhkan didepannya. Laporan yang mengatakan bahwa sahamnya yang dicuri kini sedang dilelang. Saham yang sudah berpindah nama atas nama Markus itu kini sudah tidak mungkin lagi untuk didapatkannya kembali
" Vina sialan" desisnya dengan rahang mengeras. Semua wanita sangatlah memuakkan, hanya hadir dalam hidupnya sebagai pencuri. Dulu, ibunya mencuri masa kanak-kanaknya yang harusnya bahagia, Vika mencuri hasil produksinya yang sudah susah payah diusahakan dan diberi pada musuhnya dan sekarang wanita yang pernah menjadi kekasihnya juga berhasil mencuri darinya
" Permisi tuan?" seru asisten Tommy menatap takut-takut pada tuannya. Dia sudah bersiap sejak pagi dini hari ketika Marcel tiba-tiba mengganggunya dari mimpi indahnya. Atasannya itu langsung menyuruhnya untuk mengumpulkan seluruh data dari tiap divisi beserta laporannya. Marcel akan memastikan sendiri setiap kecurangan yang terjadi didalam perusahaannya. Pagi itu menjadi pagi tersibuk untuk semua karyawan dalam mensesuaikan data. Sedikit saja mereka tidak dapat mempertanggung jawabkan laporan mereka, maka otomatis pecat! Masih untung tidak melibatkan polisi
" Ada apa?" Marcel menjawab dengan nada dinginnya
" Diluar ada nona Silvina yang ingin bertemu dengan Anda" asisten Tommy memberi tahu dan dapat dilihatnya keantusiasan dari wajah sang atasan
" Suruh dia masuk" perintah Marcel yang sudah begitu gatal ingin menanyakan tujuan wanita itu
__ADS_1
" Baik tuan" asisten Tommy dengan segera keluar untuk memberitahukan keamanan untuk membiarkan Vina masuk menemui tuannya
" Marcel" panggil Vina begitu matanya melihat pada pria yang pernah menjadi kekasihnya. Mimik penyesalan begitu kental terlihat di wajahnya
" Kau masih berani datang menemuiku?" tatapan tajam Marcel layangkan. Dia begitu membenci manusia yang penuh drama
" Marcel, tolong dengarkan aku dulu. Aku datang kesini untuk meminta maaf padamu"
" Maaf? Hah! Untuk apa? Kembalikan saja milikku yang kau curi karena aku tidak butuh permintaan maaf saat ini"
" Iya. Aku mengerti. Sebenarnya aku sudah ingin mengembalikannya tapi Markus berhasil merebutnya, dia mengancamku" Vina mulai tidak dapat menahan air matanya yang mulai merembes
" Kau bisa mencurinya tapi tidak bisa mengembalikannya. Omong kosong apa yang sedang kau mainkann sekarang, Vina?"
" Tidak. Aku berkata yang sejujurnya padamu. Aku memang berniat mengembalikannya padamu" Marcel tersenyum sinis mendengar kata-kata itu. Percuma baginya untuk menyalahi Vina sekarang, karena sahamnya juga tidak akan kembali ke tangannya
" Aku akan menebusnya" Vina menunduk. Setelah sifat kasar Markus diketahuinya. Sekarang Vina sadar, kalau dirinya tidak bisa memaksa keinginannya
" Caranya?"
" Apapun yang kamu inginkan"
" Baiklah! Katakan bagaimana kau bisa mencuri saham itu dan setelahnya pergilah sejauh mungkin dariku" kata Marcel datar. Vina mengangguk dan mulai menceritakan kronologis dia mengambil saham itu. Vina bercerita bahwa setelah dirinya menghabiskan malam dengan Markus padahal statusnya saat itu masihlah kekasih dari Marcel. Vina diam-diam membuat surat pemindahan hak milik atas saham itu dan mendekati Marcel
" Apakah kau ingat saat aku menyuruhmu menandatangani surat itu dulu. Kau menandatanganinya bahkan tanpa membacanya" kata Vina yang membuat Marcel tertawa pada kebodohannya dulu. Dia yang masihlah naif akan kasih sayang dulunya begitu mempercayai Vina dan melakukan apapun untuk wanita itu. Bahkan, para sahabatnya pernah mengejeknya sebagai pria yang real budak cinta pada Vina saat itu sebelum fakta perselingkuhan Vina diketahuinya
" Iya. Aku ingat. Itu hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan"
__ADS_1
" Kau dulunya sangatlah berbeda dengan yang sekarang. Dulu kamu pria yang hangat dan begitu mencintaiku, bahkan kamu mau melakukan apapun untukku" mata Vina sendu ketika mengingat saat-saat dulu ketika dia begitu diratukan Marcel dan sekarang sudah tidak mungkin lagi baginya untuk kembali menggapai posisi itu
" Perlukah kita membahas masa lalu sekarang?" tanya Marcel terkesan datar, bahkan nadanya terdengar tanp emosi seakan cerita itu hanyalah masalalu yang tidak berharga
" Tidak! Maaf, aku terlalu menghayati. Walau bagaimanapun itu hanyalah masa lalu dan aku harap, aku masih bisa menjadi temanmu"
" Tidak bisa. Istriku melarangku untuk berteman dengan wanita. Cukup untuk penjelasannya dan silahkan pergi" Marcel terlalu malas untuk berbasa-basi walau dia tahu ini bukan sepenuhnya salah Vina, tapi Markus yang menjadi otak dan dalang sesungguhnya. Namun, Marcel terlalu benci pada pengkhianat apalagi bagi orang yang sudah begitu dipercayainya. Andai dulu Vina bisa menjaga kepercayaannya dengan baik dan tidak mudah untuk berkhianat, maka Marcel yakin, Vina akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya yang akan dia beri seluruh hidupnya tapi nyatanya posisi itu kini terganti dengan gadis yang memang sudah sedari awal menjadi takdirnya
" Baik. Terima kasih atas waktunya dan maafkan aku" kata Vina akhirnya masih mencoba mempertahankan sedikit harga dirinya yang tersisa. Dia menyesal, benar-benar menyesal telah salah mengambil langkah dulunya dan sekarang masa itu tidak akan pernah lagi terulang kembali
Selepas keluarnya Vina Marcel menghelakan nafasnya kasar sembari menyandar lelah di kursi kebesarannya. Tangannya bergerak memijit kepalanya yang terasa begitu pusing dengan segala permasalahan yang terjadi. Markus sekarang bukanlah masalah besar lagi baginya, karena Marcel telah membawa kasus pencurian hak cipta produksinya ke ranah hukum, dan Markus akan segera menerima ganjarannya. Dan tentu saja, karena identitas pencuri V yang masih dirahasiakannya maka posisi sang istri masihlah aman untuk kasus itu
" Ah! Aku tiba-tiba merindukannya" gumamnya sembari membayangkan wajah menggemaskannya sang istri yang kini sudah begitu chubby.
Marcel melirik pada pergelangan tangannya dimana melingkar benda yang dapat memberinya petunjuk waktu bernama jam
" Kenapa waktu berjalan lambat sekali" protesnya kemudian sembari menggerutu
" Ah! Aku ingin segera menemuinya" lirihnya yang kembali menghembuskan nafas lesu. Ingin menyuruh Vika datang ke kantor tidak mungkin karena sudah dapat dipastikan waktunya akan banyak berkurang nantinya karena hal lain
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan๐๐
__ADS_1