My Destiny Love

My Destiny Love
34. Kau ternyata penolongku, suamiku


__ADS_3

Vika menatap pantulan dirinya di cermin meja riasnya, wajahnya penuh dengan senyuman bahagia sembari menyisir rambutnya pelan. Dia berdandan untuk menyambut sang suami malam ini dengan segala persiapannya, wajahnya sudah diriasnya dengan baik dan Vika kembali tersenyum saat melihat pantulan dirinya. Dia terlihat lebih cantik malam ini dengan dandanan naturalnya.


Vika yakin suaminya pasti akan menyukainya karena dinilai dari sifat Marcel, Vika yakin suaminya itu tidak akan dapat menahan diri untuk bermesraan dengannya apalagi malam ini, Vika dengan sengaja ingin menggoda untuk memancing hasrat sang suami


" Daddymu pasti akan sangat terkejut kan nak?" tanya Vika pada janinnya sembari mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit dan tentu saja dia tidak akan mendapatkan jawabannya


" Kamu yang anteng ya malam ini, mommy harus melayani daddymu dengan baik" ujarnya lagi yang merasa pipinya perlahan memerah karena bayangan liar mulai terlintas di kepalanya. Dia berencana memuaskan sang suami malam ini dan akan menjadikan malam ini malam yang tidak akan terlupakan bagi Marcel.


Vika bangkit dari kursi meja riasnya lalu menyemprotkan parfum penggugah selera pada badannya yang terbalut pakaian tipis yang terlihat begitu menggoda. Senyuman terus tersungging di bibirnya karena merasa penampilannya sudah cukup sempurna malam ini


Lalu pertanyaannya, apa yang menyebabkan Vika begitu bahagia malam ini serta persiapannya dalam menyambut Marcel, adakah yang special? Vika terbayang pada penemuannya siang tadi


Dia membuka kotak putih itu perlahan dan dibuat terkejut dengan isi didalamnya hingga tanpa sadar penutup kotak ditangannya terjatuh begitu saja


" Tidak mungkin" kata yang keluar dari bibirnya sembari menutup mulutnya dengan tangan


" Nyonya muda kenapa?" tanya Bi Siti heran melihat reaksi nyonya mudanya, Bi Siti melirik kedalam kotak yang terlihat sepasang seragam berlumur darah yang sudah mengering serta beberapa atribut pelengkap lainnya yang tersusun acak didalam kotak tersebut. Bi Siti semakin bingung saat Vika dengan cepat meraih seragam sekolah lama itu dan memeriksanya dan Vika hanya mampu membulatkan matanya saat sebuah nametag yang sudah patah setengah masih menempel di seragam usang itu


" Mar...Cel" Vika mengejanya pelan dan kembali menutup mulutnya tidak percaya. Kenapa dia tidak pernah terpikir sampai kesana kalau selama ini suaminya juga memiliki nama yang berawalan Mar. Apa karna Vika sudah terlalu meyakini Markus sebagai penolongnya?


Dia mulai membongkar semua isi kotak itu, sepasang seragam, tali pinggang, dan sebelah sepatu dengan logo yang sama dengan sepatu yang disimpannya. Vika menatap pada Bi Siti

__ADS_1


" Bi, bisa jelaskan padaku. Kenapa benda ini tersimpan disini?" tanya Vika dengan dada membuncah antara terkejut dan bahagia. Dia telah salah mengira selama ini, tidak pernah terlintas di benaknya kalau sang suamilah yang kemungkinan penolongnya


" Ini milik tuan muda dulu saat masih remaja. Nyonya besar menyuruh saya membuangnya, tapi saya lupa dan tidak tahu kalau pakaian ini masih tersimpan disini" jelas Bi Siti bingung dengan keantusiasan Vika


" Memang apa yang terjadi pada Marcel saat itu, Bi"


" Saya kurang tahu nyonya muda. Setahu saya saat itu nyonya besar tanpa sengaja membawa pulang kantong plastik berisi pakaian tuan muda yang sudah seperti ini lalu menyuruh saya membuangnya dan setelah itu yang kami ketahui tuan muda dibawa ke luar negeri untuk perawatan. Kami para pelayan disini tidak tahu apa yang terjadi pada tuan muda hingga harus perawatan sampai keluar negri"


" Tapi, kami pernah mendengar kalau tuan muda hampir kehilangan nyawanya waktu itu karena dipukuli preman. Tubuh tuan muda bahkan harus di operasi di beberapa bagian karena luka parah terutama bagian kepalanya" jelas Bi Siti panjang lebar tanpa menyadari kalau Vika kini sudah berlinang air matanya mendengar penjelasan itu. Sumpahnya ternyata bergerak tepat sasaran, takdir sendiri yang membuatnya memenuhi sumpahnya itu


" Nyonya muda! Anda tidak apa-apa?" Bi Siti menjadi khawatir saat melihat mimik wajah Vika yang seperti ingin menangis


" Tidak Bi, saya baik-baik saja" jawab Vika sembari mencoba menghapus setitik air mata yang sudah turun di pipinya


" Tuan muda kembali setelah 4 tahun kemudian dan bersyukur dia terlihat lebih baik dari sebelumnya. Tapi, setelah tuan muda kembali tidak ada yang membahas apa yang sudah terjadi pada tuan muda sebelumnya. Tuan dan nyonya besar seakan mencoba menghapus kejadian itu dari memori tuan muda" kata Bi siti lagi, Vika mengangguk mengerti. Dia mulai paham sedikit lebih banyak apa yang terjadi saat itu. Kenapa dia tidak melihat Marcel di sekolah waktu itu karena orang tua Marcel sudah membawa Marcel ke luar negeri dan Vika memang tidak pernah bertemu dengan sosok Marcel waktu itu selain saat remaja suaminya itu menolongnya hingga nyawa Marcel hampir melayang ditangan enam preman yang ingin melecehkannya


Vika lumayan paham berapa parah luka Marcel saat itu terlihat dari bekas darah yang mengotori seragam sekolah usang ditangannya. Vika memeluk seragam itu tanpa rasa jijik sedikitpun, seragam bekas milik penolongnya, suaminya dan pria pertamanya.


" Terima kasih Bi, karena tidak membuangnya. Terima kasih" ucap Vika tulus. Dia pasti akan larut pada apa yang selama ini dipikirnya kalau saja dia tidak menemukan benda itu. Vika akan selamanya berada dalam salah sangka jika saja tidak datang hari ini dan rasa penasarannya


" Kenapa berterima kasih nyonya muda?" kening Bi Siti berkerut bingung

__ADS_1


" Karena Bi Siti sudah melakukan hal yang benar" Vika tersenyum dan mulai bangkit membawa kotak berisi seragam usang itu bersamanya sedang Bi Siti hanya menatap heran kelakuan sang nyonya mudanya yang aneh. Untuk apa memangnya itu semua?, pikir Bi Siti sembari membawa dua bingkai lama ditangannya


Masuk kedalam kamarnya, Vika buru-buru mengambil potongan name tag yang disimpannya dan menyatukannya dengan potongan yang berada di seragam bekas Marcel dan hasilnya tampak begitu cocok. Name tag bertuliskan nama MARCEL kini sudah sempurna dengan penyatuan dua potongan itu


" Kau ternyata penolongku, suamiku" lirih Vika menatap lekat potongan yang sudah kembali terpisah karena tidak ada perekat dan kemudian Vika larut dalam tangisnya. Entah itu tangisan bahagia atau tangisan penyesalan karena perbuatannya selama ini yang sudah banyak mengganggu usaha suaminya itu demi Markus yang dikira penolongnya


" Maafkan aku Suamiku"


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Menunggu dengan perasaan berdebar, Vika tidak henti-hentinya tersenyum. Bagaimana nanti dia harusnya bersikap ya? Haruskah dia bertindak sebagai gadis nakal malam ini? Vika menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan itu. Dia yakin, kalau suaminya itu pasti akan langsung luluh tanpa harus digoda, melihat penampilannya saja, Vika yakin suaminya sudah tidak akan dapat menahan diri


BRAAKKK


Suara pintu kamar yang dibuka dengan kasar mengejutkan Vika dari lamunan fantasy indahnya. Vika mengalihkan tatapannya kearah pintu dimana terlihat Marcel yang berdiri dengan ekspresi menyeramkan dan rahang mengeras, serta matanya yang kini menatap tajam kearahnya yang masih terduduk diatas ranjang menunggu kepulangan sang suami. Marcel terlihat seakan ingin menelannya hidup-hidup, pria itu sedang marah


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2