My Destiny Love

My Destiny Love
36. Masih marah


__ADS_3

Vika merasakan sesuatu yang empuk mengenai punggungnya dan berusaha melirik ke belakangnya dan dilihatnya sebuah bantal tampak tersusun di belakang tubuhnya. Bantal yang berguna untuk menahan tubuhnya agar tidak terguling dan dapat menahan posisi tidurnya dengan lebih baik


Vika menatap wajah terpejam sang suami, dan tersadar itu semua ulah suaminya, itu terbukti dari tangan besar Marcel yang masih di pinggangnya karena menahan pinggangnya agar bisa tertidur dengan posisi yang baik serta tubuhnya tidak akan terlalu kesakitan di pagi harinya. Vika menjadi terharu dibuatnya, suaminya diam-diam masih memperhatikan kenyamanannya padahal terlihat jelas semalam Marcel marah besar


Vika tersenyum menatap wajah tampan prianya lalu semakin bergerak lebih dalam pelukan suaminya yang sama sekali tidak terusik oleh gerakannya, Marcel terlihat benar-benar lelah hingga tertidur pulas seperti itu


Tangan Vika bergerak diatas dada Marcel, gerakan seperti menulis sesuatu


" I Love You" bisiknya seirama dengan gerak tangannya yang menulis didada bidang sang suami. Vika tidak henti-hentinya mengagumi wajah Marcel yang masih setia terpejam


" Wajahnya seperti bayi jika tertidur seperti ini" batin Vika sedang tangannya kembali bergerak pada wajah suaminya itu. Dia kembali mengusap pelan rahang tegas itu.


Selang beberapa menit kemudian, Vika ingin sekali tertawa saat wajah Marcel mengerut lalu kembali ketiduran sedang dirinya juga berpura-pura tertidur dalam pelukan Marcel. Dia suka melakukan hal ini


Merasa tidak ada pergerakan lagi, Vika membuka matanya dan kembali mengusap wajah Marcel. Vika yakin kalau tubuhnya yang tidak terasa sakit pagi ini merupakan ulah suaminya, pasti Marcel telah melakukan sesuatu pada tubuhnya karena semalam Vika tidak lagi mampu mempertahan kesadarannya dari brutalnya serangan sang suami hingga dia jatuh pingsan


Grap..


Tangannya yang sedang mengusap pipi sang suami tertangkap oleh tangan besar suaminya yang tiba-tiba berpindah posisi dari pinggangnya ke tangannya di wajah Marcel. Perlahan mata tajam itu terbuka dan langsung menghunus tatapannya


Marcel menyingkirkan tangan Vika dari wajahnya tanpa mengucapkan apapun, lalu menarik lengannya yang menjadi bantalan Vika semalam dengan wajah yang jauh dari kata ramah ataupun lembut


Tanpa berkata apa-apa Marcel bangkit dari ranjang, menjauh dari sang istri yang hanya mampu menatap polos gerakannya. Marcel sedikit menggoyangkan kepalanya saat rasa pusing menghantamnya. Itu wajar karena semalam dirinya sama sekali tidak tidur, Marcel baru tertidur menjelang pagi. Selebihnya Marcel menggunakan waktu tidurnya untuk memberi kenyamanan bagi sang istri yang di gempurnya semalaman. Dia bahkan mengoleskan salep pada tubuh istrinya yang dirasanya akan sakit pagi ini


" Ach, sial!" umpatnya dan kembali terduduk diatas ranjang saat rasa pusing itu makin terasa


" Kamu tidak apa-apa?" Vika bergerak mendekati Marcel dan mencoba menanyakan keadaan suaminya itu


" Menjauhlah dariku" desis Marcel yang hatinya masih terlalu marah sama Vika tapi dia tidak bisa bersikap sebrengsek sahabatnya Mike dalam memperlakukan wanita

__ADS_1


Tangan Vika yang ingin menyentuh bahu Marcel terhenti di udara, suaminya itu membelakanginya dengan hanya memakai boxer yang menutupi aset berharganya


Melihat tanggapan judes dari sang suami tidak membuat Vika kehilangan semangatnya, Vika dengan sengaja merintih kesakitan sembari memegang pinggangnya dan...terbukti


Marcel langsung berempati padanya sembari bertanya kenapa?


" Kau kenapa?" tanya Marcel dengan wajah khawatirnya, berharap perbuatannya semalam tidak membuat dia harus kehilangan anaknya dalam kandungan Vika


" Pinggangku sakit, ach.." Vika semakin melebihkan aktingnya sembari meringis seakan-akan pinggangnya terasa begitu sakit. Tangan Marcel terulur menyentuh pinggang polos sang istri, Marcel bahkan dengan sengaja menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos sang istri agar bisa lebih leluasa melihat keadaan istrinya


" Haruskah kita ke dokter?" Vika ingin sekali rasanya tertawa melihat wajah khawatirnya Marcel, padahal suaminya itu baru saja bersikap dingin padanya. Vika menggeleng lemah


" Aku baik-baik saja, hanya pinggangku saja yang terasa sakit" bohong Vika lagi sembari bergerak pelan hendak menuruni ranjangnya


" Mau kemana kamu?"


" Ke kamar mandi. Aku ingin membersihkan diri, tubuhku terasa lengket" ujar Vika yang langsung membuat Marcel bergerak cepat mengangkat tubuh sang istri menuju kamar mandi


" Ingin bermain! Mari bermain" batin Marcel sembari menyusun langkah ke kamar mandi lalu meletakkan tubuh polos Vika ke dalam bathtup dan mengisinya dengan air hangat


" Apakah lebih baik?" tanya Marcel menatap penuh maksud pada Vika


" Eum" Vika mengangguk sembari menikmati saat hangatnya air itu mengenai kulit polosnya


" Baguslah kalau itu membuatmu nyaman" Vika tidak menyadari maksud dari kata itu jauh dari dugaannya. Marcel juga mulai memasuki bathtub itu membuat Vika langsung menegang


" Ke-ke-kenapa kamu juga ikut masuk?" tanya Vika ragu- ragu sembari membalikkan wajahnya kebelakang menatap sang suami yang sudah mendudukkan diri dibelakang punggungnya dalam bak yang sama


" Kenapa??" Marcel ingin tertawa dengan pertanyaan itu "Kita mandi bersama" lanjutnya yang langsung menarik tubuh Vika untuk bersandar di dada bidangnya

__ADS_1


" Ta-tapi..." Vika yang tidak siap masih mencoba untuk tidak terlalu memprovokasi. Posisi mereka saat ini terlalu berbahaya


" Pinggangku sakit" keluh Vika saat merasakan sapuan nafas hangat Marcel di kulit lehernya, pria itu sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Vika


" Benarkah? Apakah sesakit itu? Lebih sakit mana saat kau beraksi dalam pencurian dengan tadi malam?"


Degh..jantung Vika seakan berhenti mendengar itu, dia lupa kalau suaminya itu masih sangat marah padanya walau secara sembunyi-sembunyi juga memikirkan kenyamanan dirinya


" Lebih sakit mana..hmmm?.." Marcel dengan sangat sengaja mengeluarkan nada sensualnya sedang tangannya sudah bergerak bebas menyentuh apapun didalam air bathtub


Vika terkesiap saat lagi-lagi dia harus dihadapkan dengan pertanyaan yang menjurus itu


" A-aku tidak tahu" jawabnya kemudian yang membuat Marcel menyunggingkan senyum sinisnya lalu menarik wajah sang istri agar menghadapnya dan langsung mempertemukan bibir keduanya dalam sebuah ciuman


Vika dapat merasakan emosi dari tekanan bibir suaminya itu, emosi yang sarat akan kemarahan. Lalu yang terjadi selanjutnya, Marcel kembali membawa sang istri pada percintaan panas mereka didalam bathtub tersebut.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Vika menatap penuh perhatian pada suaminya kini yang sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun setelah percintaan mereka tadi. Marcel hanya menikmati makannya dalam damai.


Rasa takut masih menghinggapi hati Vika dikala teringat pada apa yang pernah dikatakan Marcel kalau dia akan menghukum berat pencuri yang mencuri di perusahaannya jika pencuri itu ketahuan


Setelah menghabiskan sarapannya, Marcel berangkat tanpa mempedulikan Vika dan pria itu kembali menjadi sangat dingin tidak tersentuh walau kadang dia juga hangat dan memesona


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2