My Destiny Love

My Destiny Love
40. Cemburu


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat, Vina selalu mencoba datang mengganggu hari Marcel namun, Marcel yang sudah muak langsung mengeluarkan taringnya, menyuruh keamanan untuk mengusir Vina menjauh darinya. Apalagi Markus juga sudah mengetahui kelakuan Vina yang selalu ingin menempel pada Marcel hingga terjadi pertengkaran besar antara pasangan sampah itu


" Dasar wanita ******" tuding Markus sesaat setelah menampar Vina yang ketahuan mengkhianatinya, terlebih Vina berkhianat pada musuhnya hingga semakin berang lah Markus mengetahuinya


" Aku sudah tidak tahan lagi bersamamu, Markus. Aku menyesal dulu pernah memilihmu. Ternyata kamu tidak lebih dari laki-laki sampah yang begitu menjijikan" timpal Vina dengan mata memerah sembari mengusap pipinya yang baru saja ditampar Markus. Dia baru saja menemukan bukti tentang Markus yang memanfaatkannya, pria itu hanya sedang menggunakan kekuasaan yang dimiliki papanya melalui dirinya dan nyatanya Markus hanyalah pria yang suka bermain perempuan


" Kau pikir aku tahan dengan wanita murahan sepertimu! Hah! Dengar ya, jika bukan karena harta ayahmu, kau juga tidak ada harganya" ucap Markus kejam


" Aku akan menyuruh papaku untuk mencabut semua sahamnya diperusahaanmu" timpal Vina sembari mengepalkan tangannya kuat


" Cobalah saja dan lihat bagaimana reaksi keluargamu saat melihat video tidak senonohmu tersebar di jagat maya" kata Markus sambil tertawa puas, dia sudah sangat muak untuk bersandiwara di depan Vina kalau dia mencintai wanita itu


" Kau jahat, kau kejam Markus"


" Iya, aku memang kejam dan akan semakin kejam jika si Marcel sialan itu belum aku runtuhkan" kata Markus dengan tatapan tajam berapi-api. Rasa irinya pada Marcel membuat hatinya kini di penuhi dengan dendam pada pria pemilik nama lengkap Marcel Raveno


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Meringis pelan sembari mengusap luka lebam di wajahnya. Luka yang didapat Marcel hasil dari perkelahiannya dengan anak buah gubernur Erwin awalnya tidaklah terasa sakit, tapi beberapa jam setelahnya, luka ini semakin terasa perih. Marcel yakin, kondisi sahabatnya Eric juga tidak kurang darinya. Marcel melirik pada tumpukan dokumen yang seabrek banyaknya dan tentu saja butuh dia pelajari dan selesaikan. Nafasnya terhela kasar. Pekerjaannya tidak pernah memberinya kelonggaran


" Billy sialan" desisnya yang menyalahkan Billy atas pekerjaannya yang menumpuk, itu wajar, karena Billy yang menyeretnya untuk ikut pria itu kerumah gubernur Erwin


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya. Marcel memutuskan pulang lebih awal karena malam ini dia bersama sang istri ada jadwal menemui papa mertua yaitu pak Trisna

__ADS_1


Marcel dapat melihat kegembiraan yang tergambar di wajah sang istri setiap mereka hendak berkunjung pada papanya itu


" Kau senang?" tanya Marcel saat mereka sudah didalam mobil. Marcel tidak peduli dengan betapa lelahnya tubuhnya karena setiap melihat senyum Vika seakan rasa lelah itu menguap hilang tidak membekas


" Eum" Vika mengangguk yakin


" Papamu belum tahu kan, siapa dirimu yang lain?" senyum di wajah Vika memudar dan menatap penuh harap pada suaminya itu


" Kamu tidak akan memberitahukan papa kan? Bukankah aku sudah menuruti semua perintahmu" kata Vika merasa seperti sedang dipermainkan. Dia sudah menyerahkan semua bocoran tentang bagaimana dia mencuri di perusahaan Marcel dan juga siapa yang menyuruhnya serta menyatakan kalau produk yang dicurinya murni karya perusahaan Marcel. Dengan itu Marcel dapat menjatuhkan Markus hanya dalam sekali tepuk


" Aku kan tidak bilang akan memberitahu pak Trisna. Aku hanya bertanya kalau papamu belum mengetahuinya kan?" Marcel mengulum senyum menatap sang istri yang sudah beberapa hari ini menjadi sangat penurut, bahkan sekarang dirinya tidak melewatkan satu malam pun untuk menyentuh istrinya itu. Tingkat kecanduannya itu sudah separah itu


" Pokoknya jangan beritahu papa tentang hal ini ya" pinta Vika penuh harap


" Tenang saja. Aku tidaklah sepicik itu" kata Marcel menatap pada sang istri yang juga menatapnya. Keduanya saling berpandangan dalam, mencoba menjelajah isi pikiran masing-masing dengan sinar mata yang seakan memancarkan sinar cinta dari keduanya


" Sepertinya kamu perlu cek ke psikiater deh" Vika jelas-jelas mempertanyakan kondisi psikis suaminya


" Untuk apa?"


" Kamu jauh dari kata normal sekarang, dan jadi lebih mengerikan" umbar Vika saat dia teringat kelakuan suaminya yang terus menjadi-jadi. Marcel bahkan pernah ingin menyetubuhinya diruang tamu hanya karena Vika menatapnya, disaat banyak para pelayan yang berlalu lalang. Jadi, akan sangat wajar bagi Vika menanyai kewarasan suaminya saat berhubungan dengan 'sistem reproduksi' nya


" Benarkah? Tapi, kenapa aku merasa biasa saja" Marcel menjawab acuh bahkan terlalu cuek untuk sebuah jawaban serius. Sebenarnya, dia sudah pernah memeriksa tentang keadaannya pada dokter, Marcel takut kondisi tubuhnya yang terlalu berlebihan libido seperti sekarang ini adalah efek dari obat yang pernah ditaruh Markus saat menjebaknya. Namun, pernyataan yang dikatakan dokter cukup membuatnya tenang karena tidak ada kesalahan apapun yang terjadi pada tubuhnya.

__ADS_1


Marcel sadar akhir-akhir ini dia memang terlalu keterlaluan pada istrinya. Tapi, bagaimana dia harus menjelaskan kalau saat dirinya berhasrat ditambah emosi, Marcel merasa tubuhnya dua kali lipat lebih bertenaga dan sedikit saja tindakan Vika yang memancing walau itu hanya berupa lirikan, sudah dipastikannya. Marcel langsung akan hilang kendali dan anehnya itu hanya terjadi dengan Vika seorang, tidak berlaku bagi wanita lain


" Umur kandunganku sudah memasuki empat bulan dan dia se hyper ini. Bagaimana nanti jika aku tidak sanggup untuk melayaninya lagi, akankah dia mencari pelampiasan pada wanita lain?" batin Vika melirik pelan-pelan pada suaminya. Dia sungguh tidak terima dengan pemikirannya, dia tidak mau kalau nanti Marcel selingkuh dengan wanita lain apalagi Vika telah melihat bagaimana kelakuan suaminya itu saat bersama Vina yang membuat Vika harus tiap jam menelepon asisten Tommy menanyakan apa yang sedang dilakukan suaminya beserta foto kegiatan suaminya itu


" Bagi kamu itu biasa tapi, aku tidak biasa" jawab Vika kembali memalingkan tatapannya dari lirikan diam-diamnya. Marcel mengulum senyum


" Sebenarnya aku juga heran dengan diriku. Aku hanya bernafsu pada dirimu dan tidak terjadi pada wanita lain. Apa jangan-jangan kau memasang sesuatu pada... "


" Yaakk! Aku tidak serendah itu" teriak Vika yang kini menatap nyalang pada suaminya. Beraninya Marcel menuduhnya melakukan hal itu disaat dulu, dia bahkan tidak mengenali pria itu


" Apanya yang tidak terjadi dengan wanita lain. Lalu, yang terjadi dengan mba Vina itu apa?"


" Waktu itu aku sedang berakting" jawab Marcel yang merasa ada nada kecemburuan dari suara sang istri


" Akting apanya! Kalian bahkan berciuman dengan posisi itu" sekarang Marcel mulai menyadari kalau Vika juga terganggu dengan kejadian itu. Bolehkah dia berharap, kalau ini merupakan tanda bahwa Vika sedikit menyimpan perasaan untuknya


" Kami belum sempat berciuman kalau saja, kau tidak datang mengganggu" jawab Marcel sedikit memancing, mau melihat apakah istrinya itu akan marah


" Ah terserahlah! Lagian kan kalian pernah menjalin kasih" Vika kembali membalikkan wajahnya bersender menatap keluar kaca mobil. Mendengar jawaban suaminya membuat matanya seakan panas ingin mengeluarkan airnya dan hatinya sakit tiba-tiba walau nyatanya dia tahu bagaimana Marcel mengusir Vina dari kantornya setelah itu


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2