
Angin malam tampak berhembus membelai wajah sepasang suami istri yang kini berada di taman menikmati indahnya malam dimana langit dipenuhi dengan kerlap kerlip bintang. Marcel menghembuskan nafasnya pelan saat melihat sang istri sudah lebih tenang dari tangisnya. Dilihatnya mata Vika yang tampak terfokus pada sebuah keluarga kecil didepannya. Keluarga itu tertawa dengan begitu bebasnya, tampak rona kebahagiaan dari keluarga itu, angin malam seakan sama sekali tidak berpengaruh bagi tawa mereka, Vika tersenyum. Dia pernah memiliki keluarga yang hangat seperti itu sampai sang ibu akhirnya meninggalkan dirinya dengan sang ayah, perlahan tangannya menyentuh perutnya dimana ada janinnya didalamnya. Akankah anaknya juga akan merasakan kebahagian yang sama kelak?
" Mereka tampak bahagia" ujar Marcel saat matanya juga tersapu pada objek yang sama dengan sang istri. Ingatan Marcel terbayang akan masa lalunya. Marcel hidup dalam peraturan selama hidupnya, dia tidak dibiarkan bebas berekspresi seperti kebanyakan anak-anak seumurannya, sejak menduduki bangku sekolah, ayahnya sudah begitu menerapkan segala kedisiplinan dalam hidupnya hingga tidak ada waktu baginya hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan kurangnya waktu orang tuanya untuknya. Marcel tumbuh menjadi pria dingin dan terkesan tidak peduli pada sekitar hingga suatu hari dirinya ikut campur dalam masalah orang lain yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya hingga Marcel harus menjalani beberapa operasi untuk menyelamatkan hidupnya
Setelah kejadian itulah sang ayah memberi petuah kepadanya pentingnya tidak memperdulikan orang lain agar diri kita bisa selamat. Hari-harinya hanya dihiasi dengan pelajaran bisnis dari ayahnya serta berbagai aturan yang harus dijalaninya hingga tidak mengherankan jika Marcel hidup terkesan sering tidak peduli dengan sekitarnya kecuali jika itu orang-orang yang disayanginya.
Teman pertamanya adalah Eric, si remaja miskin yang menyelamatkan nyawanya saat terjadi penyergapan terhadapnya sebelum kecelakaan yang membuatnya dibawa keluar negeri oleh sang ayah
Pertemuannya dengan Billy disebuah galery seni yang diadakan oleh seorang konglomerat membuatnya mendapatkan teman barunya lagi hingga terikatlah tali persahabatan diantara ketiga pria dengan segudang masalah itu dan terakhir bergabung satu lagi seorang remaja pria bernama Michael ananda yang dibawa Billy dalam kawanan dan Marcel menerimanya dengan baik
Marcel bisa berteman bebas dengan mereka karena orang tuanya sudah meninggal dunia karena runtuhnya gedung tempat pertemuan yang dihadiri oleh orangtuanya, hingga akhirnya beban kepemimpinan harus ditanggung atas pundaknya dan Marcel berubah menjadi lebih manusiawi setelah mengenal Silvina namun lima tahun kemudian dia kembali terhempas pada kenyataan bahwa wanita itu menyelingkuhinya dan terciptalah Marcel yang sekarang. Seorang Marcel yang persetan dengan segalanya selama dirinya tidak diusik
" hu-um" Vika mengangguk mengiyakan lalu memandang wajah sang suami disampingnya yang juga menatap dirinya. Tatapan keduanya terpaku pada satu sama lain hingga suara getaran ponsel Marcel mengganggu momen itu
" Katakan, ada apa?" tanya Marcel langsung pada sang asisten yang menelponnya
" Kami sudah mencocokkan DNA dari barang yang ditinggalkan pencuri V sama DNA nona Silvina tapi hasil keluar keduanya tidak cocok tuan" lapor asistennya menjelaskan
" Apa!" teriak Marcel terkejut tidak percaya padahal dirinya sudah yakin sepenuhnya kalau Vina lah pencuri itu
" Sialan" desisnya kesal
__ADS_1
" Lanjutkan penyelidikannya dan jangan tunjukkan batang hidungmu didepanku sampai kalian membawa hasil yang memuaskan.Temukan pencuri sialan itu" perintah Marcel langsung mematikan ponselnya lalu beralih pada Vika yang tampak membeku disampingnya
" Maaf! Jika suaraku membuatmu takut"
" A-apa yang membuatmu terlihat be-begitu marah?" tanya Vika takut-takut saat inderanya mendengar kata pencuri dari mulut Marcel
" Ada pencuri yang mengambil produksi perusahaan kami dan sekarang aku sedang menyelediki siapa pencuri sialan itu" Vika meremas erat telapak tangannya mendengar penuturan itu
" Lalu apa yang akan kau lakukan jika menemukan siapa pencuri itu?"
" Tentu saja akan kubuat pencuri sialan itu menyesal pernah berurusan denganku" jawab Marcel yang menangkap nada gemetar dari suara Vika
" Ya!" Vika jadi kebingungan, dia mulai ketakutan kalau saja Marcel mengetahui fakta siapa pencuri V itu
" Mau ikut lihat pameran bersamaku?" tanya Marcel sekali lagi. Vika mengangguk ragu, dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Marcel tidak akan memutilasi dirinya kan hanya karena mencuri dari perusahaan suaminya itu.
Marcel menggenggam tangan istrinya itu lalu membawanya ke tempat dimana penuh dengan wahana pameran serta banyaknya orang-orang yang berlalu lalang. Marcel mengajak Vika untuk naik beberapa Wahana ekstrim yang berada disana tapi jawaban yang didapat hanyalah gadis itu menunjuki perutnya pertanda dia sedang hamil dan tidak bisa naik sembarang wahana. Satu-satunya wahana yang bisa dinaikinya hanyalah komedi putar yang membuat Marcel mendesah lesu dengan wahana anak-anak itu tapi Vika tampak begitu menikmatinya, sejenak dirinya terlupa pada ketakutannya akan kebohongannya
Marcel yang melihat tawa bahagia di wajah istrinya juga ikut tersenyum. Wanita itu terlihat begitu polos saat seperti itu tapi beberapa detik kemudian senyumnya juga menghilang saat teringat bahwa dirinya tidak boleh jatuh pada pesona istrinya itu. Marcel tidak boleh jatuh cinta pada Vika tapi sebaliknya, Vika lah yang harus jatuh cinta padanya
Marcel belum bisa mempercayai istrinya sekarang ini, dia masih ragu akan Vika yang mungkin adalah wanita yang khusus di kirimkan Markus untuk membuatnya takluk, dia sekarang akan lebih berhati-hati, Marcel tidak ingin terjebak lagi dalam permainan Markus yang mungkin saja sedang bersandiwara didepannya bersama Vika dan Vina juga. Dia tidak dapat mempercayai siapapun saat ini selain para sahabat-sahabatnya
__ADS_1
Kecurigaannya pada peran Vika sebagai istrinya tidaklah membuatnya ragu pada janin yang di kandung gadis itu, Marcel meyakini sepenuhnya anak itu sebagai anaknya karena Marcel tahu kalau hanya dirinyalah satu-satunya pria yang pernah bergaul bersama istrinya itu.
" Kau senang?" tanyanya pada Vika yang baru saja turun dari komedi putar itu dibantu oleh Marcel tentunya
" Iya" Vika mengangguk senang
" Baguslah, mau coba permainan lain" Vika mengangguk setuju. Mereka menuju permainan tembak menembak dan memenangkan banyak hadiah dari permainan itu karena skill menembak dari keduanya yang terbilang cukup bagus. Marcel bahkan merasa curiga kalau istrinya itu bukanlah wanita biasa, kemampuan memegang senjata serta keakuratan menembaknya jaub diatas Marcel sendiri membuatnya menatap takjub pada sang istri
" Tidak kusangka kau ternyata pandai menembak" tutur Marcel membuat Vika tertegun sejenak, dia lupa bersikap seperti gadis pada umumnya. Karena seringnya dirinya berlatih dengan senjata api membuatnya terkadang lupa akan identitas aslinya
" I-itu karena dulu papa sering sekali mengajakku ke pasar malam seperti ini dan aku sering sekali main tembak- menembak hingga sudah terbiasa" Vika bersyukur dapat memberikan alasan yang sedikit masuk akal. Marcel manggut-manggut mengerti padahal nyatanya dirinya tidak semudah itu untuk dibohongi sekarang ini
Mereka akhirnya menuju permainan lainnya, bermain capit boneka, pukul kepala tupai, masukin basket dalam ring permainan hingga masuk dalam rumah hantu yang membuat Vika terus-terusan bergelanyut pada lengan Marcel. Walau dirinya bagus dalam segala hal tapi tidak dengan hantu, dia tetap seorang perempuan yang takut pada makhluk berwajah seram tersebut dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Marcel memeluk erat tubuh istrinya itu
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
__ADS_1