
Kicauan burung di pagi hari serta silau sinar mentari mengusik tidur seorang wanita sekaligus seorang istri yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Vika mengerjapkan matanya menyesuaikan pencahayaan ke retina matanya
Saat kesadarannya penuh, dirinya tersadar dengan keadaannya yang jauh dari kata baik. Dia berada dalam pelukan suaminya tanpa sehelai benang pun. Semalam baru saja terjadi proses bercinta yang menggelora membuat darah Vika berdesir saat membayangkannya. Tubuhnya terasa sedikit kelelahan karena digempur hampir semalam oleh suaminya yang tidak pernah puas
Vika bersyukur, setidaknya semalam Marcel bersikap sangat lembut dan begitu pengertian hingga membuat Vika terbuai dan larut dalam permainan yang sudah seharusnya terjadi antara mereka, setidaknya Marcel tidak sebuas saat malam kejadian waktu itu
Vika memperhatikan wajah Marcel yang terpejam, wajah yang terpahat dengan sempurna. Tampan, tidak kuasa batinnya menyangkal fakta itu. Pria itu terlihat begitu damai saat tertidur seakan tanpa beban pikiran apapun dan pria itu adalah suaminya. Vika tidak dapat berkata apa-apa, dirinya tidak tahu harus merasa bahagia atau sebaliknya dengan arus takdirnya
"Aku harus bangun sebelum Marcel bangun" batinnya mencoba bergerak memindahkan tangan besar Marcel yang membingkai pinggang polosnya. Pria itu memeluknya dengan posesif
Begitu tangan itu berhasil dilepaskannya, hanya sepersekian detik kembali memeluk erat pinggangnya, Vika tercekat. Kembali mencoba melepas tangan itu. Namun kini bukannya terlepas malah semakin erat memeluknya, bahkan tubuh polosnya kini melekat didada bidang suaminya
Vika menahan dadanya dengan kedua lengannya sambil bergerak-gerak ingin melepaskan diri. Terkadang matanya melirik kearah wajah Marcel yang masih terpejam
"Jangan banyak bergerak. Kau kembali membangunkannya" ujar Marcel dengan suara paraunya tanpa membuka matanya, menikmati gerakan istrinya yang membuat hasratnya kembali kambuh. Mata Vika membulat, tubuhnya membeku. Jadi, dari tadi Marcel sudah terjaga
Wajah Vika langsung berubah memerah sembari menunduk, tidak lagi bergerak. Keduanya terdiam membisu, Marcel tampak begitu menikmati keadaan itu. Namun, Vika yang sudah tidak sanggup lagi dalam keadaan itu mencoba melepas paksa tangan Marcel yang memeluknya hingga tanpa sadar gerakannya sukses membuat Marcel membuka matanya dan memandang wajah Vika dari jarak yang sangat dekat
"Sudah ku bilang! Jangan banyak bergerak , kau kembali membangunkannya" ujar Marcel menatap lekat mata Vika yang kembali gugup
'Membangunkannya' apa maksudnya? Vika membatin bertanya-tanya
" Jangan-jangan.....Tidakk" teriak batinnya saat tersadar apa yang dimaksud oleh Marcel. Tubuh Vika dapat merasakannnya
__ADS_1
Saat sang istri sibuk dengan pikirannya, Marcel mengambil kesempatan membalikkan tubuhnya menindih sang istri hingga kini dirinya berada diatas sang istri yang ditindihinya
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" tanya Vika pada sang suami yang kembali menampilkan senyum mesumnya tanpa menjawab dirinya
"Lepaskan, aku harus pergi dan kenapa kamu melakukan ini semua padaku?" tanya Vika lagi, dia tampak sangat gugup sembari berusaha menutupi dada polosnya yang terekspos. Marcel tersenyum penuh maksud, mengamati wajah Vika lamat-lamat sembari menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri
"Kamu bertanya kenapa? Pertanyaan yang bagus. Aku punya tiga jawaban bagus. Pertama, aku melakukannya karena ingin menyapa anakku didalam kandunganmu. Kedua, karena itu hak ku sebagai seorang suami dan ketiga, kamu tidak menolaknya sama sekali malah terlihat sangat menikmatinya dan membalasnya, sayang" mendengar jawaban itu, Vika tersedak ludahnya sendiri, tanpa aba-aba wajahnya langsung memerah. Itu memang faktanya, dia sangat menikmati kegiatan semalam. Namun, saat ini dia sudah kembali sadar dari kekeliruannya dan memutuskan untuk segera pergi dari ranjang itu
Mengabaikan wajahnya yang memerah dengan tubuh telanjangnya, Vika mencoba membalas tatapan suaminya yang terus saja menampilkan senyum misteriusnya. Mata tajam Marcel memperhatikan gerakan Vika yang tampak gelisah. Dia sudah bertekad, tidak akan peduli tentang Vika yang menyukai dan hanya mencintai Markus. Marcel akan membuat istrinya itu jatuh cinta pada pesonanya sesuai dengan apa yang direncanakannya
"lepas! Tolong lepasin aku" pinta Vika dengan gelisah di bawah kungkungan tubuh suaminya. Tubuh polosnya yang bergesekan dengan tubuh sang suami membuat sangat tidak nyaman, ada pikiran liar yang merambah diotaknya
Vika masih berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangannya membuat Marcel terkekeh skeptis, percuma saja istrinya itu menutupinya karena hanya dengan satu hentakan saja, Marcel akan kembali menguasainya
"Sayangnya tidak bisa sayang. Kamu sudah membuatnya terjaga, jadi sekarang lakukan tugasmu dengan baik" lanjutnya sembari mendekatkan wajahnya pada sang istri. Vika menggeleng
"Tidak, ini sudah pagi. Kita harus segera turun untuk sarapan" ujar Vika cepat, berharap Marcel mau mendengarkan. Tawa Marcel melebar
' Wanita ini begitu polos' pikirnya. Dirinya tidak butuh sarapan saat ini
"Kamu yang akan jadi sarapanku" ucap Marcel tuntas yang kembali melayangkan ciuman panasnya pada Vika yang hanya mampu membulatkan matanya, dia tidak habis pikir dengan nafsu suaminya itu yang menggebu-gebu seakan tidak pernah puas padahal semalam dia sudah cukup kelelahan melayani suami mesumnya itu
Marcel tidak pernah main-main dengan perkataannya. Pria itu kembali mencumbu sang istri dengan tangan yang kembali bergerak liar menyentuh tubuh yang sudah sepatutnya jadi miliknya
__ADS_1
๐๐๐
Menjelang siang, Vika maupun Marcel baru keluar dari kamar pengantin mereka, membuat pak Trisna tersenyum riang. Beliau berpikir, jika begitu terus mungkin dirinya kan segera menggendong cucu
Terlihat jelas jika keduanya baru saja habis dari proses bercinta. Banyak tanda yang terlihat menghiasi tubuh putrinya maupun tubuh menantunya itu walau Vika berusaha menyembunyikannya agar tidak terlalu mencolok
Namun, dibalik itu semua. Vika harus jujur dengan perasaannya, hatinya menghangat saat tadi setelah proses pergumulan mereka selesai, Marcel mencium lembut keningnya dengan penuh perasaan dan tersenyum hangat kepadanya. Senyum yang sangat jarang sekali diperlihatkan oleh suaminya itu
Namun, bukan itu yang membuatnya bahagia serta salah tingkah melainkan seuntai kalimat yang terucap dari belahan bibir suaminya itu sesaat setelah Marcel melepas kecupan di keningnya
"Kamu terlihat sangat cantik. Kurasa aku menyukaimu, istriku" kalimat yang membuat Vika membeku tidak bisa lagi bergerak serta pikirannya yang tidak lagi dapat berjalan, tidak peduli jika setelah itu Marcel mengecup sekilas bibirnya dan langsung mengangkat tubuh polosnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Vika masih tidak dapat mempercayai pendengarannya
Rasa bimbang mulai menggoyahkan apa yang selama ini di prinsipkannya, Vika tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Satu sisi dia terikat sumpah dengan pria lain tapi dirinya merasa begitu nyaman dengan suaminya sekarang. Penolakan yang dilakukannya pada sang suami tidak berarti sama sekali, seakan ada magnet besar yang menarik dirinya untuk mendekat pada seorang Marcel
Vika melirik pada Marcel yang menampilkan senyum lembutnya, membuat Vika menunduk malu teringat kegiatan beberapa saat lalu sebelum mereka makan tanpa Vika sadari, wajah Marcel menunjukkan kesan yang begitu misterius
Rencana baru dimulai
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐