My Destiny Love

My Destiny Love
16. Menantu idaman


__ADS_3

Akhirnya Marcel mengantarkan gadis itu pulang walau selama perjalanan hanya kesunyian yang menemani keduanya. Begitu sampai dirumah Vika, Marcel ikut turun dari mobil bersama gadis itu


"Kenapa kamu juga turun?" tanya Vika bingung saat melihat pria itu juga turun. Marcel memandang Vika datar dan mulai berjalan didepan Vika


"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan papamu" jawab Marcel terus melangkah kedeoan pintu membuat Vika sedikit berlari mensejajarkan diri dengan langkah lebar Marcel


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan papa?"


"Lihat saja nanti"


"Tapi ini sudah malam. Kamu pulang saja, besok saja kamu bicarakan dengan papa. Aku tidak ingin papa salah paham melihatmu mengantarku pulang malam-malam begini" ujar Vika sedikit gelisah, Marcel menghentikan langkahnya tiba-tiba dan memandang kearah Vika disampingnya, dia tersenyum miring sembari mencondongkan tubuhnya kearah Vika yang spontan memundurkan wajahnya pelan dari wajah Marcel yang mendekat


"Bukankah itu lebih baik! Aku jadi punya banyak alasan untuk mengikatmu" kata Marcel dan kembali menegakkan tubuhnya setelah menggoda gadis itu. Vika mencoba mencerna perkataan Marcel, disaat dirinya sadar dengan maksud perkataan Marcel, pria itu sudah bergerak cepat menekan bel rumahnya


"Oh tidak, jangan-jangan kamu ingin.." perkataan Vika terpotong saat pak Trisna membuka pintu dan sedikit heran melihat putrinya bersama pria yang sangat diinginkannya sebagai menantu


"Oh, nak Marcel. Silahkan masuk" kata pak Trisna menyilahkan. Matanya memandang putrinya yang tampak gugup dan bingung


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya pak Trisna penasaran apalagi waktu sudah malam dan dirinya melihat putrinya pulang bersama dengan menantu impiannya. Vika ingin menjawab namun, Marcel sudah lebih dulu menyelanya


"Aku membawanya bersamaku tadi sore" kata Marcel tenang, pak Trisna memandang Marcel meminta penjelasan lebih lanjut


"Sebenarnya tujuan saya kemari ingin meminta putri Anda untuk saya pak"


"Maksudnya?"


"Saya ingin melamar putri bapak sebagai istri saya" jawab Marcel lugas membuat nafas Vika tercekat. Dugaannya benar, itulah yang ingin dibicarakannya dengan papanya. Pak Trisna tersenyum senang, Marcel menikah dengan putrinya dan menjadi menantunya adalah keinginannya yang akan segera tercapai


"Tidak, aku tidak mau menikah denganmu" Vika menyela cepat, pak Trisna terkejut mendengar jawaban langsung putrinya


"Benarkah! Haruskah aku me..." perkataan Marcel terpotong


"Pa, bisa tinggalkan kami berdua. Aku perlu bicara dengan pria ini"


"Kenapa! Bicarakan saja disini dengan papa. Papa sangat setuju kamu menikah dengan Marcel" kata pak Trisna yang membuat Marcel diam-diam tersenyum. Restu mertua sudah didepan mata


"Papa!!" teriak Vika kesal, Marcel tersenyum melihat tingkah ayah-anak didepannya. Dengan wajah kesal, Vika menarik tangan Marcel untuk mengikutinya

__ADS_1


"Kemari kamu. Kita perlu bicara" kata Vika, Marcel tidak menjawab, dia hanya mengikuti langkah gadis itu menuju kamar Vika dibawah tatapan bingung pak Trisna akan kelakuan putrinya dan calon menantunya


Begitu sampai didalam kamar, Vika menutup pintu kamarnya agar papanya tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Marcel


"Sebenarnya apa maumu hah!" tanya Vika kesal, bisa-bisanya pria itu memintanya tanpa bicara dulu dengan dirinya


"Mauku sudah sangat jelas kan!" jawab Marcel pelan dan tegas


"Aku tidak mau menikah denganmu. Kenapa segampang itu kamu memandang sebuah pernikahan?"


"Harus berapa kali lagi aku jelaskan. Aku tidak peduli kamu mau atau tidak, aku akan tetap menikahimu dan satu lagi, aku serius dengan pernikahan ini" jelas Marcel dengan tegas. Vika melongo mendengarnya


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mencintaimu. Aku mencintai pria lain"


"Oh ya! Siapa pria itu?" tanya Marcel dengan nada mengejek, dia tidak yakin kalau gadis yang pernah bergelud dengannya itu memiliki seorang pria yang dicintai


"Markus. Aku sangat mencintai Markus" jawab Vika sedikit ragu. Marcel menatap Vika tidak percaya begitu nama itu terucap. Jadi, Vika mencintai pria itu, itulah sebabnya kenapa Marcel sering sekali melihat Vika bersama Markus. Gadis itu sedang berusaha mendapatkan cinta Markus


"Tapi dia sudah memiliki kekasih" ujar Marcel kesal


Markus unggul dari segi wanita daripadanya.Dulu, kekasih yang ingin dinikahinya lari ke pelukan Markus dan sekarang wanita yanh sudah dinodainya mencintai pria itu. Marcel kalah telak


"Baiklah, aku tidak peduli siapa yang kau cintai dan ingin kau nikahi, tapi aku akan tetap menikahimu sampai anakku dalam kandunganmu lahir. Aku tidak ingin dia lahir tanpa mengenal ayah kandungnya" kata Marcel penuh penekanan. Vika menatap prianya dengan polos, wajah Marcel menunjukkan tekad kuat


Vika tidak kuasa lagi menolaknya. Pria ini adalah ayah dari janinnya, Marcel pria yang penuh dengan tanggung jawab dibalik semua kesempurnaan yang disandang pria itu


" Baiklah, aku akan menikah denganmu. Tapi, hanya sampai anakku lahir" kata Vika menatap mata tajam Marcel yang hanya mengangkat bahu tanda terserah apa keinginan gadis wanita itu


" Sekarang semuanya sudah jelas. Jadi, silahkan kamu pergi dari rumahku. Ini sudah sangat malam" lanjut Vika datar. Marcel memandang pada wanitanya dengan penuh minat


" Kau tidak ingin mengajakku menginap disini, bersamamu?"


"Dalam mimpimu. Dasar mesum" jawab Vika cepat, hanya seperkian detik setelah kalimat terakhir Marcel


Marcel tersenyum senang mendengar jawaban itu. Marcel hanya sedang menggoda walau faktanya dia benar-benar menginginkannya. Marcel harus jujur, kalau dirinya sangat berminat pada gadis itu. Dengan perlahan Marcel melangkah kearah pintu untuk keluar dari kamar Vika. Dia membuka pelan handle pintu namun kembali berbalik menghadap Vika setelahnya yang berjalan di belakang tubuhnya


"Kenapa? Ada apa lagi?" tanya Vika saat melihat pria itu membalikkan tubuhnya

__ADS_1


"Mana ciuman untukku calon istriku" kata Marcel dengan tatapan menghanyutkannya. Vika membulatkan matanya mendengar permintaan pria itu. Spontan dirinya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau pria itu menciumnya lagi, sudah cukup dua kali pria itu menciumnya hari ini


Marcel tersenyum dan meraih lengan Vika yang ingin memberontak, namun Marcel menariknya dan...CUP!! satu ciuman lembut mendarat di dahi Vika. Marcel mengecup dahi gadis itu dengan penuh perasaan dan kelembutan membuat Vika membeku dengan perlakuan Marcel padanya


"Selamat malam sayangku. Semoga malammu indah" kata Marcel dan membuka pintunya lebar. Namun, sejurus kemudian dirinya menatap bingung pak Trisna yang terlihat menguping di pintu kamar putrinya


"Eh, kalian sudah selesai bicaranya?" tanya pak Trisna cengengesan


"Sedang apa papa disini?" tanya Vika balik sesaat setelah menata perasaannya. Dia cukup terlena dengan kecupan lembut Marcel tadi


"Papa hanya sedang lewat saja" jawab Pak Trisna memandang Marcel yang hanya diam dengan wajah datar


"Alasan..papa pasti ingin menguping kan?" tuduh Vika


"Tidak! Ah sudahlah, lebih baik sekarang katakan apa keputusannya?" tanya pak Trisna penasaran. Pasalnya beliau tidak dapat mendengar apa-apa tadi sebelum pintu itu dibuka Marcel dan baru terdengar saat pintu terbuka dan Marcel meminta ciuman dari putrinya


" Kami akan menikah" Marcel menjawab


" Benarkah!" Marcel mengangguk


"Akhirnya..." pak Trisna bersorak kegirangan. Marcel tersenyum dan Vika menunduk menyembunyikan wajahny yang memerah, menahan malu melihat kelakuan papanya. Baru kali ini dia melihat papanya seperti itu dan itu sangat kekanak-kanakan


" Jadi, kapan kalian akan melaksanakan pernikahannya?"


"Minggu ini, itu saran dari saya" jawab Marcel. Vika melongo ' Apa-apaan pria itu'


"Kenapa bisa secepat itu?" tanya Vika tidak terima


" Lebih cepat lebih baik. Papa setuju sekali" imbuh pak Trisna membuat Vika tersentak terkejut dengan jawaban papanya dan Marcel hanya tersenyum simpul menanggapinya


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2